Pemulung yang Beruntung

Bokis, nama anak muda penduduk negeri paman besut, umurnya 25 tahun tak pernah sekolah, merantau dari kampung halamannya yang berjarak sekitar 300 kilometer setelah hidup susah berkepanjangan. Sejak masih anak-anak ikut membantu orang tuanya di sawah, di kebun dan kerja apa saja yang dilakukan orang tuanya. Menanam padi butuh waktu berbulan-bulan dan setelah panen harga jualnya tak bisa menutupi biaya pembelian pupuk, apalagi membayar lelah atau keringat yang mengalir, beras hasil panen disimpina di gudang rumah untuk dikonsumsi sekeluarga.

Menanam berbagai buah seperti, bawang, cabe, pete atau apa saja selalu berakhir dengan pedih. Saat masa petik tiba sepertinya berbarengan dengan masa paceklik atau harga turun, berbagai hasil tanam sering punya harga seragam, hanya seribu kepeng per kilogram atau seribu kepeng untuk satu buah pete. Padahal di warung dekat rumah Bokis harga pete dijual jauh dari harga itu. Jika keluarganya tak mau menjual dengan harga seribu kepeng, maka hasil tanam akan jadi busuk … hasil kerja keras ayah, ibu dan Bokis hampir selalu berakhir dengan kepedihan.

Saat malam tiba, Bokis beristirahat menjelang tidur menonton tayangan televisi. Dia terpesona dengan gaya hidup orang kota yang terlihat sangat nyaman hidup di gedung-gedung tinggi yang mewah dengan pemandangan ibukota yang megah, menyantap makanan yang terlihat sangat nikmat. Suasana jalan raya ibukota yang selalu macet penuh dengan kendaraan yang tampak nyaman. Bokis mendengar cerita dari tetangga-tetangga di kampungnya yang mudik saat hari raya, bahwa mencari uang di ibukota sangat mudah.

Sejak tiga tahun yang lalu Bokis membulatkan tekad merantau ke ibukota negeri paman besut mengikuti salah satu tetangganya di kampung yang ternyata menjadi pemulung barang-barang bekas di ibukota. Bokis mengawali hidupnya di ibukota dengan mengikuti tetangganya berjalan berkeliling ibukota negeri berbekal karung besar mengumpulkan barang-barang berkas di pinggir jalan, di tempat sampah. Saat beristirahat di tempat yang teduh bokis sangat terkejut karena tiba-tiba ada beberapa penduduk yang menggunakan mobil atau motor memberi makanan berupa kue, nasi bungkus atau uang. Sering mereka tak perlu membeli makanan sehari itu karena pemberian orang yang tak dikenalnya sudah mencukupi kebutuhan konsumsi perutnya hari itu.

Setelah merasa berani, Bokis menjalani profesi memulung sendiri dengan mengambil route perjalanan berbeda dengan tetangga yang mengajaknya ke ibukota. Bokis sering memulung di sekitar apartemen dan rumah susun karena perolehan barang bekas sering mudah di dapat dalam jumlah yang sanyak.

Suatu ketika Bokis berniat memulung di sebuah komplek rumah susun, tetapi langkahnya terhenti di pintu gerbang karena tak diizinkan masuk oleh petugas berseragam militer yang dilengkapi dengan senjata laras panjang.

“Mengapa Saya tak beoleh masuk Pak?” tanya Bokis pada petugas yang berjaga.

“Ini daerah isolasi untuk orang-orang yang sedang kena penyakit menular”. jawab penjaga itu.

Bokis menjauh, sambil beristirahat dia melihat banyak sekali orang yang melakukan aktifitas di luar rumah susun. Ada yang senam, joging, bermain bola, duduk-duduk, dsb. Mereka terlihat bergembira dengan pakaian olahraga warna-warni. Tiba-tiba mereka menghilang semua dari halaman rumah susun.

“Kemana orang-orang tadi Pak?” Bokis mendekat ke penjaga.

“Saat ini waktunya mereka sarapan pagi”.

Di berita televisi Bokis mengetahui bahwa rumah susun itu menampung ribuan penduduk yang terinfeksi penyakit menular, Dia melihat tempat tidur dan kamarnya sangat nyaman dihuni orang-orang yang sakit. Terlihat saat mereka menerima nasi box konsumsi makan jatah mereka, dan dari ngobrol-ngobrol Bokis dengan sesama pemulung Dia dengar jika selama dirawat di rumah susun itu penduduk tak dikenakan biaya sama sekali alias gratis.

Sementara Bokis selama ini selalu tinggal di rumah yang tak nyaman di desa, tidur di emperan toko atau kantor selama tiga tahun di ibukota, makan makanan sisa atau pemberian orang. Hasil memulung terjual dengan harga yang sangat murah walau jumlahnya membuat satu unit mobil bak penuh menjulang.

Bokis berniat ingin merasakan tinggal di rumah susun untuk bahan cerita saat nanti pulang ke kampung halaman. Dia menyiapkan dua stel pakaian dimasukkan dalam tas kecil yang dibenamkan ke dalam karung tempat menampung barang hasil pulung setiap hari.

Suatu hari Bokis melihat ada kermaian yang tak biasa dari kejauhan, tampak banyak warga bergerombol tak sedikit yang memakai pakaian seragam, tentara, polisi, dokter dan seragam lainnya. Ada tenda-tenda dan antrian orang, Dia letakkan karungnya di sudut depan rumah penduduk setelah mengambil tas kecil berisi dua stel pakaian.

Saat melewati tenda-tenda itu Bokis dihentikan petugas di diminta mengantri bersama orang-orang lainnya, ternyata sedang dilakukan pemeriksaan untuk penduduk ibukota yang melewati jalan itu. Bokis di tes, dan setelah menunggu lebih kurang dua jam hasilnya diketahui Bokis positif terinfeksi, lalu dia diminta ke tenda lainnya untuk pemeriksaan dokter, hasil pemeriksaan dokter Bokis sudah menampakkan gejala agak berat dan harus segera diisolasi di rumah susun.

Bokis tak menolak, dia bersama beberapa penduduk yang punya gejala serupa langsung dibawa ke rumah susun tempat isolasi, Dia ditempatkan di lantai 24.

Boris senang sekali mendapat kamar dengan satu tempat tidur, Dia tinggal sendiri. Kamar mandi adalah fasilitas pertama yang dinikmati Boris, sabun dan shampo sudah tersedia. Boris mandi berbalut kemewahan karena selama tiga tahun diibukota dia hanya mandi di pom bensin beberapa hari sekali, karena penjaga pom marah jika Dia setiap hari datang untuk mandi disana.

Setelah mandi dia ganti baju dan rebahan, tempat tidur paling mewah yang dia pernah rasakan sepanjang hidupnya, membuatnya terlelap hingga hari gelap dan saat bangun dia melihat ke jendela sebuah pemandangan luar biasa yang tak pernah dia lihat, cahaya lampu menyiram ibukota, Dia melihat tempatnya terlelap saat malam tiba, jalan-jalan yang bisa dilalui saat memulung.

Ketika dia keluar kamar ada nasi box di depan pintunya, dia santap makanan termewah dalam hidupnya. Malam itu Bokis merasa menjadi orang yang sangat beruntung bisa tidur di lantai 24 rumah susun, menjelang tidur pesawat telepon di kamarnya berdering dan ternyata itu dari dokter yang menanyakan kondisi badan Bokis saat itu,  kata dokter besok setelah sarapan Bokis harus ke lantai 2 untuk mengambil obat yang harus dihabiskan.

Pagi hari, saat penghuni rumah susun berolah raga, Boris berkeliling rumah susun mencari plastik, kertas, bekas minuman ringan dan apa saja yang bisa dijual kembali, menggunakan tas kecil yang dipakai untuk membawa pakaian dia melakukan itu pagi dan sore sebelum hari gelap, hasil pulungnya disusun rapih di dalam kamar Dia.

Seminggu berlalu, Bokis merasa hidup seperti di sorga, tak ada yang mencari apalagi mengunjungi dia karena selama tiga tahun di ibukota dia tinggal sendiri. Dokter tak pernah berjumpa dengan dia karena konsultasi dilakukan melalui telepon setiap malam menjelang tidur.

Bokis sedang mencari cara, bagaimana Dia bisa tinggal dengan fasilitas yang luar biasa ini selama mungkin, kamar yang nyaman, kamar mandi mewah, makan gratis tiga kali sehari, perawatan dokter yang seumur hidupnya tak pernah dia rasakan, karena saat didesa kalau sakit orang tuanya membawa Dia ke bidan terkenal di desa.

Bokis berharap virus terus menggerus negeri agar dia tak perlu keliling kota mengais barang bekas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.