Blog Pendidik

@dwitagama: karakter tumbuh dari pembiasaan


Leave a comment

Mendokumentasikan dokumentasi

Video di atas adalah cuplikan kegiatan saya bersama anak-anak muda yang hebat Tim DPF (Djalaludin Pane Foundation) di Cisarua Bogor 8 Mei 2017 dalam upaya mempersiap strategi yang tepat beraksi mendorong pendidikan yang bermutu di Labuhan Batu Selatan Sumatera Utara, miss u all Guys … teruslah semangat menebar kebaikan, reportase lebih lengkap bisa disimak disini. 


2 Comments

Presiden Kreatif, tapi maaf Pak @jokowi … banyak Guru yang sudah melaksanakan sejak 7 tahun lalu

Saya salut dan sangat respek pada Presiden RI yang mendorong rakyatnya lebih kreatif lagi lewat produksi vlog (seperti yang ditulis Kompas di bawah ini) semoga saja Pak Pesiden sudah tahu bahwa banyak guru sejak lama sudah melakukan apa yang beliau himbau, lihat jejak dua video di bawah ini yang diupload ke youtube sejak tahun 2010.

Kalau beberapa youtubers yang artis sudah diundang makan siang di istana bersama Presiden, mungkin tak berlebihan jika Presiden juga mengundang Guru-guru yang sudah mendorong murid-muridnya memproduksi vlog untuk meningkatkan kreatifitas anak negeri, ditunggu undangannya ya Pak Presiden. Semoga hal ini bisa mendorong guru-guru yang lain di Indonesia agar mengajar lebih kreatif menggunakan teknologi terkini.

Di bawah ini video yang dibuat murid SMKN 50 Jakarta

Inilah beritanya;

Presiden RI, Joko Widodo, mengimbau agar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menambah jurusan-jurusan baru yang mengasah skill di sektor teknologi dan digital. Jika tidak, sumber daya manusia lokal akan terus-menerus tertinggal dan tak mampu berkompetisi di ranah global.

Salah satu jurusan yang dianjurkan Jokowi adalah pengembangan skill membuat video blog atau kerap disebut vlog. Menurut dia, SMK jangan melulu terpaku pada jurusan mesin, bangunan, listrik, dan jurusan lain yang sudah eksis sejak dulu.

“Dunia berubah cepat sekali. Mestinya ada jurusan mengenai jaringan IT, membuat video blog, aplikasi, animasi, yang sedang in,” kata Jokowi dalam pembukaan Konferensi Forum Rektor Indonesia, Kamis (2/2/2017), di JCC, Senayan.

Dengan penambahan jurusan-jurusan baru yang relevan dengan tren saat ini, lulusan SMK diharapkan tak lagi cuma jadi buruh di negeri orang. Saat ini, menurut data yang diumbar Jokowi, sebanyak 82 persen TKI yang bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di luar negeri merupakan lulusan SMK.

Bikin vlog makin mudah

Kemunculan vlog di internet sebenarnya sudah dimulai sejak lima hingga enam tahun lalu. Namun tren vlog sendiri menjadi masif pada akhir 2015 dan terus berlanjut sepanjang 2016 hingga kini.

Hal ini tak lepas dari berbagai faktor yang mendukung terciptanya ekosistem video mobile. Pertama, infrastruktur jaringan internet semakin baik sehingga netizen lebih mudah mengeksplor tayangan video via smartphone di mana pun dan kapan pun.

Kedua, para vendor smartphone berbondong-bondong melahirkan perangkat yang sesuai dengan kebutuhan untuk membuat vlog. Mereka menawarkan kamera depan dengan sensor bermegapiksel besar dan teknologi stabilizer untuk mencegah guncangan ketika merekam video.

Sebut saja beberapa perangkat yang bisa dibilang “vlog ready” seperti Oppo F1s, Vivo V5, LG G5, Samsung Galaxy S7, iPhone 6 ke atas, dan flagship lainnya yang berseliweran di pasaran.

Netizen tak perlu mengeluarkan modal mahal untuk membeli kamera demi menjadi vlogger. Cukup menggunakan smartphone, netizen bisa mengabadikan momen apa saja untuk dikaryakan dan dimonetisasi lewat platform berbagi video YouTube.

Vlogger kini tak ubahnya pekerjaan profesional dengan pendapatan relatif tinggi, sesuai dengan banyaknya subscribers dan views. Para pengiklan kerap mengajak vlogger tenar untuk bekerja sama melakukan kampanye pemasaran produk.

Lama-kelamaan, peran vlogger bisa dibilang serupa dengan artis di layar kaca. Bedanya, vlogger tak perlu didistribusikan lewat manajemen artis karena mekanisme kerjanya individualis dan mandiri.

Selain jurusan vlog, aplikasi, dan animasi, Jokowi juga berharap SMK bisa menyediakan jurusan retail untuk toko online (e-commerce). Lagi-lagi, hal ini merujuk pada tren global.

“Kalau ada jurusan online store kita bisa mendidik anak-anak kita untuk membangun sebuah platform. Bagaimana Alibaba bisa membangun sebuah logistic platform dan retail platform yg sangat besar sekali dengan ratusan juta pengunjung seperti itu,” ia menjelaskan.

 

Masih banyak video murid SMKN 36 Jakarta, SMKN 29 Jakarta dan SMKN 50 Jakarta di Youtube, sementara video Saya di Youtube cuma lebih dari 1.000, silahkan kunjungi channel youtube Saya, kamu sudah memproduksi berapa video di youtube?


Leave a comment

Selamat hari Guru, masih percaya peribahasa?

“Gajah mati meninggalkan gading,
Harimau mati meninggalkan belang,
Manusia mati meninggalkan nama”

Itu peribahasa lama yang hampir semua guru tahu,
tapi guru sering lupa menerapkan dalam hidupnya,
apa buktinya?

jika ada murid di sekolah yang tak mengenal seorang guru
maka guru itu dipastikan tak menerapkan peribahasa di atas,
dia belum mati saja murid tak mengenalnya, gimana jika dia mati?

Sekarang, orang-orang mencari sesuatu dan belanja lewat internet,
mencari route jalan ke suatu lokasi,
membeli tiket pesawat, memesan kamar hotel,
membeli tiket pertunjukkan, mencari ojek atau mobil sewaan,
semua bisa dicari di internet hanya dengan telepon genggam.

Jika anda seorang guru, coba cari nama anda di internet lewat google
gunakan telepon genggam anda, atau minta tolong murid anda,
ada berapa banyak informasi diri anda di internet?
kalau tak ada, artinya tak ada gading atau belang,
apalagi nama yang anda tinggalkan
anda bukan pahlawan, tanda jasapun tak ada,
hasil karya tak terlihat, nama dan foto anda tak berjejak di internet

bagaimana agar diri anda eksis di google?
berikan tugas murid-murid anda untuk membuat makalah
jangan lagi dicetak, unggah di blog murid
topik belajar atau setiap kompetensi bisa jadi bahan tugas
berupa essay foto atau kumpulan foto yang bercerita, unggah di instagram
bisa juga dibuat video dan diunggah ke youtube

judul tugas yang diunggah mencantumkan nama guru dan sekolah,
misalnya: “TUGAS MATEMATIKA IBU AZIZA CANTIKA SMKN 3 JAKARTA”
jika setiap semester anda mengajar dua ratus murid,
dan memberikan tiga tugas memanfaatkan teknologi informasi,
maka 1.200 nama anda dan sekolah anda dipromosikan di internet

Video di atas adalah salah satu contoh model penugasan kepada murid yang sudah bisa dikerjakan oleh murid sekolah dasar, karena banyak aplikasi android atau software gratis yang mudah penggunaanya untuk mengedit video, sudah pernah search nama anda di google?


Leave a comment

Guru yang sekedar

Guru yang sekedar tahu
tahu jadwal masuk ke kelas
tahu membuat Rencana mengajar
tahun menyelesaikan kurikulum

Guru yang sekedar tahu
hari ini harus pakai seragam apa
besok pakai seragam apa
total tunjangannya berapa

Guru yang sekedar tahu
jumlah muridnya di kelas ada berapa
selanjutnya murid kuliah atau kerja
dia tak mau tahu

Guru yang sekedar tahu
jadwal masuk sekolah jam berapa
lima menit sebelum waktu pulang
sudah siap dekat mesin absen

Guru sekedar tahu
kurikulum berganti selalu
cara ngajarnya tak berubah
yang berubah cuma penampakannya, semakin tua

Guru sekedar tahu
bahwa teknologi berkembang selalu
tapi dia merasa tak terlalu perlu
tugas murid dicetak melulu

Guru sekedar tahu
bahwa google jadi yang paling tahu
tapi dia tak tahu
bahwa dirinya tak terdaftar di google


Leave a comment

Gairah Mengabarkan Kebaikan di Sekolah menggelorakan Semangat Berbuat Baik, bikin gampang cari Presiden dan Gubernur, tak perlu impor

Di Negeri Paman Besut, ada orang yang gemar menggunakan media sosial untuk mengabarkan kegiatan, fikiran, ide dan berbagai hal yang berhubungan dengan dirinya sehingga setiap hari wajahnya selalu muncul di media sosial dan mass media mainstream, seolah mendapat angin segar promosi dirinya, dia terus menggeliat, mempublikasikan dan mengoptimalkan media sosial dan mass media mainstream hingga dirinya menjadi walikota, gubernur hingga presiden.di negerinya.
Ada orang yang meniru kelakuan orang di atas, mengabarkan semua kegiatannya di mass media dan mengoptimalkan media sosial, sehingga setiap hari wajah dan pemberitaan tentang dirinya selalu muncul di mass media mainstream dan media sosial, hingga orang itu menjadi gubernur dan berniat jadi gubernur lagi hingga ingin jadi presiden (desas desus kabar yang beredar).

Dikabarkan, mereka berdua mengelola tim pemberitaan yang terdiri dari media mainstream dan media sosial, bahkan pada satuasi tertentu tim mereka dikumpulkan di suatu tempat untuk koordinasi dan melakukan tugas pemberitaan.

Kepala Dinas pendidikan salah satu kota di negeri itu menduplikasi semangat memberitakan dengan menugaskan semua kepala sekolah TK, SD, SLTP dan SLTA di kotanya untuk membuat berita setiap hari minimal satu berita di berbagai platform seperti website, blog, facebook, twitter, inatagram, youtube, steller, dsb.

Maka setiap hari bertebaran ribuan berita baik dari ribuan SD, ribuan SLTP, dan ribuan SLTA negeri dan swasta di kota itu. Berita-berita baik dari sekolah di kota itu menghujani media sosial dan masuk radar media mainstream hingga televisi, radio, koran dan majalah datang berkunjung ke sekolah mengkonfirmasi kabar yang beredar di media sosial.

Ada sekolah yang secara kreatif fan terkonsep melibatkan semua guru, karyawan dan murid. Jika semua warga sekolah posting satu berita di satu media yang dia suka maka betapa banyak berita baik sekolah itu beredar secara gratis tanpa mengeluarkan biaya, apalagi dengan kecanggihan teknologi saat ini proses itu dapat dikerjakan hanya menggunakan telepon genggam (seperti tulisan yang anda baca ini saya tulis denga telepon genggam).

Jika semua warga sekolah sudah terbiasa memberitakan kebaikan maka secara langsung mereka audah melakukan kegiatan promosi sekokahnya, kota dan penduduknya. Jika dua orang di atas bisa jadi presiden dan gubernur karena kedadaran memberitakan kebaikan, maka kegiatan memberitakan sekolah akan melahirkan kepala sekolah yang sadar dan memanfaatkan teknologi untuk pendidikan, guru-guru yang terampil menulis dan memberitakan, murid-murid yang krearif bercitarasa seni dan memanfaatkan gadget untuk kebaikan.

Andai 300 murid dan 20 guru di sekolah memberitakan satu kebaikan setiap hari, maka seminggu ada 1.600 berita, sebulan ada 4.800 berita baik sekolah anda. Jika 600 murid sekolah andan dan 40 gurunya, maka 3.200 berita kebaikan setiap minggu dan 9.600 berita baik tentang sekolah anda setiap bulannya.

Jika ribuan sekolah memberitakan ribuan kabar baik, maka dunia maya akan penuh dengan kebaikan dan pasti akan berdampak pada dunia nyata yang bakal dipenuhi kabar baik sehingga jika ada berita guru yang dilaporkan atau murid mati tawuran tak lagi jadi trending berita karena tertutup oleh jutaan berita baik yang diproduksi oleh warga sekolah.

Beritakan kebaikan yuuuuuk.


Leave a comment

Menyikapi Era Digital di Negeri Paman Besut (2)

ilustrasi

ilustrasi


ada kampus sekolah tinggi di Negeri Paman Besut
yang pendidikannya berasrama
pola atau metodenya mirip militer
rambut botak, atribut seperti tentara

mungkin di kampus itu terbiasa dengan kekerasan
senior bisa bertindak berlebihan kepada yuniornya
kadang hingga nyawa menghilang
hingga jadi heboh mengisi berita mass media

mahasiswa yang kuliah di kampus itu dilarang membawa smartphone
mereka hanya diijinkan membawa handphone tanpa kamera
barangkali, pengelola kampus khawatir
kegiatan yang tak bagus terekspos di media
bersumber dokumentasi smartphone mahasiswanya

mungkin tak relevan bertanya apakah dikampus itu ada wifi?
menerapkan e-learning, atau hal-hal inovatif berbau digital
bisa dibayangkan
bagaimana rasanya anak-anak muda era digital
berada dalam suasana zaman dulu, sekian puluh tahun lalu