Blog Pendidik

@dwitagama: karakter tumbuh dari pembiasaan


Leave a comment

Antara pelupa dan tak peduli

oplosan

Anak-anak muda mati setelah berpesta minuman keras (miras) oplosan, pengguna narkoba mati over dosis setelah pesta narkoba, pengedar narkoba mati ditembak aparat saat penangkapan, pengedar yang dipenjara memenuli penjara, penduduk yang mati karena merokok, sejak saya sekolah di SMP tahun 1977 tawuran pelajar sudah sering terjadi dan menyebabkan kematian banyak anak berseragam, dsb. Anak-anak sekolah yang jadi korban kecelakaan lalu lintas karena ketiadaan angkutan umum sehingga mereka ke sekolah membawa kendaraan bermotor.

Beritanya berkelebat di media cetak dan televisi, tapi kemudian sepertinya semua lupa, hingga terjadi lagi, ada yang mati karena sesuatu yang tak seharusnya (atau memang sudah takdir?).  Kecelakaan sepeda motor, tawuran, miras, kembali menelan korban, anak-anak muda mati sia-sia. sejenak kita  terhenyak, kemudian seperti lupa atau tak peduli terhadap masalah tawuran, miras, ketiadaan angkutan umum.

Kenapa tak dicari cara yang bisa membuat pelajar enggan melakukan tawuran, apakah mau dengan pendekatan agama, olah raga, militer, hukum, psikologi atau apapun … silahkan deh, yang penting semua sadar bahwa tawuran ga boleh ada lagi, jika ternyata ada yang tmembawa senjata, melakukan tawuran hingga menyebabkan kematian harus dihukum, pasalnya banyak di KUHP, atau jika mereka masih anak-anak tetapi suka berkelahi, kenapa tidak dilokalisir di sebuah pulau dengan diberi kegiatan belajar bela diri, menggunakan senjata tajam, kompetisi, berburu atu apa saja yang membuat hobbynya tersalurkan. Apakah orang tua yang tidak mendidik anaknya dengan baik sehingga menyebabkan kematian anak orang lain bisa dihukum dan dipenjara?

Bukankah semua gur berpendidikan sarjana, kenapa pula tak mampu atau kalah oleh pelajar yang umurnya belasan? Karena takut atau tak peduli? Mungkin ada yang mau galak tapi takut dipolisikan, melanggar HAM dan beraneka alasan yang endingnya jadi tak peduli. Begitu pandaikan anak sekolah menyembunyikan clurit sehingga orang tua, guru, polisi atau semua orang dewasa bisa dikibuli oleh pelajar?

Tentang miras, apakah pembuat miras oplosan tidak bisa dihukum berat karena perbuatannya telah menimbulkan banyak kematian? Penjual miras oplosan harusnya dipenjara supaya bisa jadi pelajaran buat penjual yang lain.  Lucunya, kenapa pula anak-anak muda itu terlalu bodoh mau meminum sesuatu yang tidak jelas terbuat dari apa, padahal negeri ini berlimpah air, teh, kopi, juss, atau apa saja yang menyehatkan.

Jika ada anak sekolah yang mati karena kecelakaan sepeda motor diperjalanan pergi ataupulang ke sekolah, siapa yang bertanggung jawab? orang tua yang memberikan motor kepada anaknya? Kepala Sekolah atau guru yang membiarkan murid membawa motor? atau Kepala Daerah yang tidak bisa menyediakan angkutan umum  buat warganya?

Kalau kejadian di atas terluang lagi, sesungguhnya kita itu pelupa atau tak peduli? hingga anggota keluarga kita mengelami kejadian itu? menurut kamu?


2 Comments

Bahagia itu sederhana: Tulisan saya jadi headline di Kompasiana

Screen Shot 2017-03-28 at 10.26.05 AM

Buat anda yang punya blog, pernah menulis buku pasti tahu bagaimana rasanya mempertahankan semangat untuk terus menulis, dan bahagianya luar biasa mengetahui tulisannya dibaca orang. Itu yang saya rasakan saat mengetahui tulisan saya tentang teror angkutan umum bisa jadi headline di Kompasiana, sebuah blog komunitas yang jadi tempat kumpul penulis jempolan negeri ini, mereka yang berkarir di jurnalistik atau beragam profesi yang punya passion menulis, termasuk saya yang berprofesi sebagai pendidik yang gemar menulis blog sejak 2005.

Terima kasih kepada admin dan manajemen kompasiana yang berkenan menerbitkan tulisan saya, semoga bermanfaat.


Leave a comment

Anak bandel, orang tua dihukum

motor

sumber:

https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQjbAFdC8bFnOUcf1dciaVdZJl-BVEHEJ6qiqQUqodB8fJoSL2m

Masalah pelanggaran lalu lintas dimana pelajar yang belum memiliki SIM mengendarai kendaraan bermotor dan tawuran antar pelajar mungkin masih lama hilang di negeri ini karena tak ada efek jera bagi para pelakunya. Pelajar yang terkena razia atau tertangkap polisi di jalan mengendari kendaraan bermotor tanpa SIM berakhir damai atau paling berat ditilang, setelah denda dibayar maka surat-surat atau kendaraan dikembalikan kepad pemiliknya dan pelajar kembali membawa kendaraan walau belum memiliki SIM.

Para pelaku tawuran yang tertangkap biasanya dibina di kantor polisi, dipanggil guru dan orang tua, menandatangani perjanjian untuk tidak mengulangi lalu dipulangkan, dan jika merek tertangkap lagi biasanya dibina di kantor polisi, dipanggil guru dan orang tua, menandatangani perjanjian untuk tidak mengulangi lalu dipulangkan, tak ada efek jera. Walaupun peristiwa tawuran telah mengakibatkan kerusakan pada angkutan umum atau memakan korban, dengan alasan masih anak-anak … pelakunya tidak dihukum, kecuali jika peristiwanya menjadi sorotan mass media.

Di negara lain, anak-anak yang berusia dibawah 17 tahun dan melakukan pelanggaran hukum maka yang akan dijatuhkan hukuman adalah orang tua dari anak itu (liat disini deh). Jika anak-anak yang bandel, membawa kendaraan bermotor belum memiliki SIM atau melakukan tawuran maka orang tua mereka akan dijatuhkan hukuman denda atau penjara, mungkin akan lebih mendorong orang tua untuk mendidik dan membimbing anak-anaknya agar menjadi warga negara yang baik, menyayangi diri sendiri, dan saling sayang dengan orang lain. Anak-anak mungkin tak akan melakukan pelanggran karena tak mau orang tuanya dipenjara atau didenda karena kelakuannya. Guru-guru dan satpam sekolah tak perlu mengawal muridnya saat pulang sekolah agar tidak melakukan tawuran. Menurut kamu?


Leave a comment

Pengelompokkan Sekolah di Negeri Paman Besut

Di ibukota Negeri Paman Besut, ada sekolah lanjutan yang baru didirikan letaknya ditepi jalan utama pinggir kota yang berbatasan dengan kota lain propinsi tetangga, di daerah itu banyak tumbuh perumahan di pinggir ibukota maupun di areal propinsi tetangga yang dihuni oleh warga ibukota atau penduduk yang bekerja di ibukota, walau itu sekolah baru langsung menjadi sekolah ngetop alias unggulan di wilayahnya karena orang tua berlomba mendaftarkan anaknya di sekolah itu karena jalur jalannya yang bisa dilalui sambil berangkat kerja berbarengan mengantar sekolah anaknya. Maka nilai anak yang masuk ke sekolah itu harus tinggi untuk bisa lolos seleksi dan diterima di sekolah baru itu, nomor sekolah itu ratusan. Jika itu sekolah swasta, biasanya adalah sekolah yang berbentuk yayasan ternama yang sudah memiliki sekolah di beberapa tempat seantero negeri. Apakah sekolah itu benar-benar bagus atau bermutu?

Pengelompokkan sekolah dinegeri paman besut bisa dikategorikan dalam beberapa jenis, yaitu:

  1. Sekolah top bagus, umumnya sekolah negeri yang didirikan pemerintah sejak negeri ini merdeka, berada di tepi jalan utama kota, di lingkungan elit atau daerah yang pernah jadi pusat kegiatan penduduk kota. Jika sekolah negeri, umumnya bernomor kecil, atau bernomor besar hingga ratusan tetapi letaknya di lokasi yang sangat strategis di tepi jalan utama atau banyak dilalui angkutan umum.

  Selain karena letak sekolah di tepi jalan utama atau di sekitar komplek di daerah elit, sekolah bagus bisa metamorfosa dari sekolah standar yang berhasil meningkatkan kualitas sekolah melalui kerjasama orang tua murid dan manajemen sekolah, sehingga sekolah yang dulunya  standar menjadi top, bagus dan dimimati masyarakat dengan indikasi nilai murid yang masuk ke sekolah itu harus tinggi.

Sekolah swasta yang dimiliki oleh yayasan-yayasan besar dan terletak di tepi jalan utama atau di sekitar komplek perumahan diminati oleh masyarakat kelas atas yang mensyaratkan fasilitas dan sarana yang bagus untuk sekolah putra-putrinya, umumnya sekolah swasta melakukan tes atau seleksi penyaringan untuk calon murid baru, bahkan ada yang sejak setahun sebelum tahun ajaran baru sudah melakukan seleksi penerimaan murid baru. Masyarakat secara sukarela bersedia membayar mahal untuk proses pendidikan anaknya.

2. Sekolah top jelek. Merupakan sekolah yang terkenal jelek atau tak bagus di masyarakat, dengan penyebab yang beraneka seperti; suka tawuran, tidak disiplin, lulusannya tak bermutu, letaknya jauh di pelosok, tak ada angkutan umum yang melewati sekolah itu, atau perubahan kondisi sosial, budaya dan ekonomi lingkungan sekolah, seperti di dekat pasar yang kumuh, jauh dari perumahan, dsb.

Ada sekolah negeri yang ngetop yang karena kebijakan pemerintah pada periode tertentu harus berbagi tempat dengan sekolah swasta untuk menumpang yang dikoordinir organisasi guru, sehingga sekolah berlangsung dua shift. Murid-murid sekolah swasta sering melakukan tindakan yang kurang bagus seperti tawuran, nongkrong di tempat umum, masyarakat jadi menilai jelek untuk sekolah itu, termasuk untuk sekolah negeri yang masuk pagi, kadang anak sekolah  yang menumpang menyatakan bahwa mereka berasal dari sekolah negeri yang ditunmpanginya, dan memang masyarakat melihat murid-murid masuk dan keluar dari sekolah negeri itu, jadilah sekolah negeri itu terkenal atau ngeto kejelekkannya.

Sekolah negeri kelompok ini beragam, yang nomornya kecil hingga ratusan, umumnya guru-guru atau manajemen sekolah pasrah dengan label yang diberikan masyarakat dan kurang melakukan berbagai upaya yang bisa merubah citra sekolah. Pendaftar sekolah ini tak terlalu banyak, biasanya murid yang bernilai kecil bisa diterima di sekolah kelompok ini, dan keluarga yang menyekolahkan anaknya disini sepertinya terpaksa agar anaknya bisa bersekolah di sekolah negeri yang gratis tanpa harus dibebani uang iuran atau bayaran sekolah.

Sekolah swasta kelompok ini umumnya terletak di lingkungan kumuh, terselip di lingkungan yang kurang nyaman, didirikan oleh lembaga atau perorangan dengan trak record yang kurang jelas, menerima murid sesuai kapasitas jumlah ruang atau pendaftarnya sangat sedikit dan mengandalkan hidup dari iuran atau bayaran murid di sekolahnya.

Guru-guru dan manajemen sekolah kelompok ini sepertinya terbelenggu oleh citra, image atau label yang diberikan oleh masyarakat, seolah tak berdaya untuk melakukan terobosan atau upaya merubah citra, image atau label menjadi lebih baik.

3. Sekolah standard. Umumnya terletak di daerah yang biasa-biasa saja, jika di pinggir jalan itu hanya jalan perkampungan yang macet dan tak nyaman untuk dilalui mobil pribadi, atau sekolah yang letaknya tak jauh dari sekolah yang kualitasnya lebih baik, sehingga masyarakat lebih memilih sekolah tetangga dan yang tak diterima di sekolah bagus terdekat kemudian memilih sekolah standar agar anaknya tetap bisa bersekolah di sekolah negeri. Kondisi bangunan sekolah standar umumnya kurang bagus sehingga masyarakat yang mampu enggan menyekolahkan anaknya disana, sehingga masyarakat kelas menengah ke bawah yang menyekolahkan anaknya di sekolah kelompok ini. Sekolah standar masih banyak diminati masyarakat karena jumlah penduduk usia sekolah masih banyak dan jumlah sekolah menengah tak cukup menampung anak usia sekolah.

Ada sekolah negeri yang bernomor kecil atau dahulu pernah menjadi sekolah favorit bahkan memperoleh sebutan sekolah teladan kini jadi sekolah standar karena pergerakan pemukiman yang bergeser ke pinggir kota, di sekitar sekolah itu dulu banyak perumahan, kini tak lagi karena peruntukkan daerahnya berubah menjadi daerah perkantoran atau bisnis. Selain karena pergeseran pemukiman penduduk, juga karena berbagai peristiwa kekerasan di sekolah itu, ketakberdayaan guru dan manajemen sekolah mendisiplinkan murid dan pelayanan sekolah yang tak bagus, maka sekolah top kini jadi sekolah standard.

Ada sekolah swasta yang dulunya ngetop atau favorit karena terletak di lokasi yang bagus tetapi masyarakat banyak yang bergeser ke pemukiman di pinggir kota maka peminat sekolah itu makin berkurang atau karena ada peristiwa luar biasa yang menghebohkan seperti kekerasan senior terhadap yunior di sekolah, adda juga yang disebabkan oleh keterlambatan pemerintah merehab sekolah yang sarananya sudah banyak yang rusak dan sekolahnya tak melakukan renovasi yang lebih memberi kenyamanan.

Sekolah swasta kelompok ini, umumnya dikelola oleh organisasi yang peduli terhadap kesejhteraan masyarakat tetapi tak memiliki kekuatan yang cukup untuk menyediakan sarana yang seharusnya untuk memenuhi kebutuhan pendidikan.

4. Sekolah jelek tak ngetop. Sekolah yang letaknya berdekatan dengan beberapa sekolah atau terletak jauh dari pemukiman penduduk, ada yang terletak di tengah kuburan atau menggunakan bangunan sekolah dasar yang tak dipergunakan lagi tetapi karena berbagai sebab seperti, kondisi bangunan sekolah, disiplin, manajemen sekolah, dsb sehingga masyarakat memberi label sekolah jelek yang tak ngetop, tetapi muridnya tetap ada karena mereka yang tak diterima di sekolah sekitarnya terpaksa memilih sekolah itu dan tak bisa menolak, targetnya hanya memanfaatkan fasilitas sekolah gratis.

Guru-guru dan manajemen sekolah merasa sulit menerapkan displin di sekolah, mereka menyatakan bahwa murid-murid mereka merupakan anak-anak yang sangat tak mampu hingga ketika mereka melanggar tata tertib pun sekolah tak melakukan tindakan apalagi mengeluarkan anak dari sekolah. Guru dana manajemen sekolah menyatakan harapannya semoga ijazah yang diperoleh bermanfaat buat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau mencari kerja, daripada mereka dikenakan sangsi pelanggran tata tertib hingga dikeluarkan dari sekolah.

Sekolah swasta kelompok ini biasanya muridnya sedikit, mereka berasal dari anak-anak yang tak diterima di sekolah negeri tetapi bertempat tingga di sekitar sekolah itu. Murid bersekolah sekedar untuk mendapatkan ijazah untuk melanjutkan pendidikan atau mencari pekerjaan.

5. Sekolah sekarat. Sekolah yang jumlah muridnya terus menurun dari tahun ke tahun, walau sekolah negeri sekalipun, jumlah muridnya makin berkurang, penyebabnya beragam; jumlah anak usia sekolah di lingkungan itu makin sedikit dan sudah terserap di sekolah lainnya, atau karena pelayanan guru dan manajemen sekolah yang kurang baik sehingga masyarakat emoh menyekolahkan anaknya ke sekolah itu.

Sekolah negeri kelompok ini kemudian dimerger atau digabung dengan sekolah lain yang terdekat, sementara jika sekolah swasta akan tutup dan menjadi kenangan yang mungkin masih bisa dicari di google atau media sosial.

Kartun Beny

Kartun Beny

Saya nulis ini intinya cuma ingin katakan bahwa suatu sekolah punya image top, bagus, standar atau jelek bukan semata-mata hanya karena guru dan manajemen sekolah, letak sekolah bisa jadi penentu yang masuk ke sekolah itu adalah anak-anak bagus atau bibit unggul, jika inputya sudah bagus maka walau dalam proses hanya diperlakukan minim treatmen atau tanpa inovasi, outputnya menjadi bagus.

Jika anda berada di sekolah standar atau jelek tak perlu pesimis, tetaplah melakukan kerja yang terbaik, inovasi dan produktif dalam mendidik murid, andai sekolah anda kemudian menjadi berubah level karena anda itu bagus, andai tak berpengaruh kepada sekolah, anda akan menjadi guru yang punya nilai lebih karena banyak karya dan bisa menjadi rujukan banyaak teman pendidik, anda bisa jadi penerang dunia.

Mau tahu seberapa level diri anda dalam pekerjaan saat ini? search deh nama anda di google, lihat ada berapa banyak  informasi yang orang sedunia bisa baca tentang diri anda, jika anda menjadi bagian sekolah top yang bagus tapi kualitas diri anda biasa-biasa saja atau buruk itu seperti semut yang berada di kandang gajah, tinggal tunggu kapan anda mati terinjak gajah atau tersemprot air dari belalai gajah.

Walau anda berada di sekolah standar atau sekolah jelek sekalipun tetapi cahaya anda bisa menerangi diri anda, keluarga, sekolah anda dan sekolah lain se dunia, maka anda menjadi gajah di kandang semut, mana yang anda pilih?


Leave a comment

Mari tambahkan doa buat anak sekolah yang bersepeda motor, sebelum dia mati

smp-motor

Selamat pagi pembaca setia blog saya, semoga saat ini anda dalam sehat selalu dan bisa melakukan yang terbaik buat sesama. Kegalauan saya tantang pelajar berspeda motor yang sering saya ungkap di blog ini rupanya berkelanjutan, perhatikan foto di atas.

Peristiwa kecelakaan dahsyat yang terjadi di Jalan Kaliurang Jogja ternyata menjadi viral disosmed. Dari gambar yang terlihat itu menunjukan motor ninjanya hingga terbelah dua, seolah itu menunjukan betapa kencangnya motor itu dipacu hingga akhirnya terjadi peristiwa kecelakaan. Korban yang tertabrak meninggal ditempat dan yang menabrak meninggal beberapa hari setelah kejadian (yakni tanggal 19/1/17). Peristiwa itu terjadi tanggal 15 Januari 2017 di depan SPBU Pedak Jakal Km 12 pukul 7.30 wib.

Dan yang ramai dibicarakan dari kasus kecelakaan tersebut adalah soal pengendara motor Ninja 250 fi itu ternyata masih anak SMP! Ceritanya si anak SMP ini ultah terus mau ngadain pesta dengan teman-teman smp-nya.

Apakah keluarga anda yang masih sekolah pagi ini berkendara sepeda motor, doakan aja semoga selamat tiba di rumah pulang sore ini.

 


Leave a comment

Sekolah sukses mendidik karakter penduduk negeri; jadi pelanggar hukum dan berani membunuh diri sendiri

sd-motor

Murid Sekolah Dasar mengendarai sepeda motor ke sekolah,  ayah bilang mereka harus bekerja, tak ada angkutan umum dari rumah ke sekolah, atau harus berganti beberpa kali angkutan umum plus berjalan kaki hingga membutuhkan waktu yang lama untuk pergi dan pulang dari sekolah dan ibunya bilang mereka harus mengurus rumah tangga, menyiapkan sarapan, membersihkan rumah, mengurus anak balitanya, siapkan makan siang buat keluarga, membantu suami di sawah, ladang atau kebun, agar anaknya bisa cepat sampai di sekolah dan kembali di rumah maka dibiarkanlah anaknya membawa motor ke sekolah yang ternyata juga dilakukan oleh banyak teman-temannya di sekolah.

anak-sekolah-merokok

Saat di sekolah lanjutan anak-anak mulai bersosialisasi dan mengamati tingkah laku orang dewasa, terdorong ingin mencoba hal-hal baru, gempuran iklan produsen motor dan rokok serta tekanan sosial kelompok atau peer group membuat mereka berkumpul dengan teman seusianya sebelum atau sesudah pulang sekolah, saling bertukar kabar, cerita, sambil menikmati makanan, minuman dan berbagai merek rokok dan mereka kecaanduan rokok, menghisapnya setiap hari, saat berangkat ke sekolah, mengendarai sepeda motor sambil menjepit benda putih di jari dan menghisap rokok diantara deru asap knalpot yang juga dihisapnya.

Guru-guru di sekolah tak mengetahui hal itu? Sesungguhnya guru-guru tahu bahwa muridnya ke sekolah menggunakan sepeda motor atau menghisap rokok, karena kadang mereka parkir motornya di sekolah atau di sekitar sekolah, dan ketika berbicara dengan guru pagi hari, aroma rokok dari mulut murid bisa dihirup oleh guru.

Mungkin guru-guru merasa itu bukan urusan mereka, urusan mereka cuma mengajar mata pelajaran di kelas, tak perlu pedulikan kelakuan murid di jalan, mungkin karena anak guru itu yang seusia dengan muridnya juga melakukan hal yang sama, berangkat ke seklah berkendara motor sambil merokok sehingga itu jadi hal yang biasa, atau kalaupun guru mau menegur muridnya, menerapkan tata tertib atau memberikan sangsi yang bisa berujung pada penambahan jumlah poin atau pelanggaran hingga harus dikeluarkan dari sekolah pun akhirnya membuat guru kecewa, karena kepala sekolah tak berkenan mengeluarkan murid yang berkali-kali melanggar tata tertib dan kembali menugaskan guru-guru untuk membina lagi, hingga waktu terus berjalan dan murid itu lulus, bahkan kadang guru menjemput muridnya ke rumah agar ikut ujian di sekolah. Atau guru-guru takut dilaporkan polisi ketika memberi sangsi kepada muridnya?

Pendidikan menjadi tanggung jawab orang tua, sekolah, pemerintah dan masyarakat.

1. Andai orang tua sadar bahwa syarat seseorang boleh mengendarai motor adalah sudah berusia 17 tahun dan memiliki SIM, jika tak ada angkutan umum dari rumah ke sekolah orang tua bisa mendorong anaknya menggunakan sepeda untuk ke sekolah yang bisa sekaligus berolah raga dan mengurangi polusi serta mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

2. Sekolah harus melakukan berbagai hal yang mendorong murid menggunakan sepeda ke sekolah dengan berbagai kegiatan, seperti menyiapkan tempat parkir sepeda yang representatif, mengundang polisi lalu lintas untuk memberi penyuluhan tentang peraturan lalu lintas, mengundang polisi untuk melakukan razia pagi hari di lokasi dimana murid menitipkan motornya, memberi sangsi kepada murid yang membawa kendaraan dan belum memiliki SIM.

3. Pemerintah harus menyediakan angkutan umum yang bisa melayani kebutuhan masyarakat untuk menuju ke sekolah dari rumah mereka. Puluhan tahun negeri merdeka, kenapa angkutan umum masih saja tak nyaman dan belum menjangkau pemukiman warga di kota maupun desa. berapa rezim pemerintah sudah berganti, tetapi tetap saja angkutan umum negeri ini tak baik sehingga rakyat berusaha menyelesaikan masalah sendiri dengan memaksakan membeli sepeda motor atau kredit dengan bunga yang tak kecil karena merasa sangat butuh kendaraan untuk aktifitasnya.

Polisi harus menerapkan Undang-undang Lalu Lintas yang melarang anak berusia dibawah 17 tahun dan tak memiliki SIM mengendari kendaraan bermotor, polisi harus menindak, menilang pelajar yang melanggar aturan lalu lintas. Pembuatan SIM harus dilakukan secara baik, tak bisa “nembak” atau menyogok dengan membayar sejumlah uang untuk memperoleh SIM tanpa proses test yang benar. Masyarakat yang menyogok polisi atau mengajak berdamai dengan membayar sejumlah uang bisa dikenakan hukuman penyuapan, polisi yang disgok pun harus mendapat sangsi yang sesuai dengan peraturan.

4. Masyarakat harus secara keras menuntut kepala daerah yang selalu berjanji saat kampanye sebelum dipilih yang akan mensejahterakan rakyatnya, tetapi kenapa angkutan umum tak kunjung baik pelayanannya hingga kini dan membuat penduduk mengambil jalan pintas membeli motor untuk bisa berpindah lokasi melakukan aktifitas, termasuk ketika menuju ke sekolah.

sma-perokok

Merokok adalah pembiasaan yang faktor pencetusnya beragam, bermusik juga pembiasaan lewat proses latihan berkali-kali, keduanya sama-sama memunculkan karakter rasa percaya melakukan sesuatu hingga tak peduli apa kata orang di sekitarnya. Hal itu ada dalam fikiran para perokok, juga ada ada fikiran grup musik senyawa yang berkali-kali latihan hingga percaya diri tampil dengan pilihan musiknya hingga mendapatkan undangan pentas keliling dunia. 

Pembiaran muris sekolah membawa motor dan merokok membuat penduduk negeri terbiasa melanggar hukum dan membunuh diri sendiri (seperti yang tertulis di bungkus rokok). 

Menurut kamu?


2 Comments

Telolet, Bruno Mars dan Guru

Mengejutkan banyak orang, telolet jadi trending topik twitter se dunia dan saya jadi terkenang video Bruno Mars yang hits di youtube dan sudah ditonton 2,058,822,478 saat posting ini ditulis, ada kesamaan antara telolet dengan lagu dan video Bruno Mars, apakah itu.

Variatif, aneka bunyi dan warna, suara telolet itu berbeda dengan klakson konvensional yang bunyinya hanya satu suara, telolet memiliki suara beragam yang bisa dinikmati telinga dan memberi kepuasan kepada pendengarnya, sehingga pendengarnya selalu ingin mendengar telolet lagi, seperti kecanduan.

Demikian halnya dengan video Bruno Mars, kostumnya warna warni, suaranya variatif, musiknya menghentak walau kadang agak lembut, koreografi nya variatif dan membuat orang ingin menikmatinya lagi, seperti yang saya lakukan, saya secara sengaja atau kebetulan berkali-kali menikmati penampilan Mark Ronson – Uptown Funk ft. Bruno Mars.

Fenomena telolet dan Mark Ronson – Uptown Funk ft. Bruno Mars ini jika ditarik ke dunia pendidikan, khususnya bagi guru, jika seorang pendidik ingin disukai oleh peserta didik, beliau harus mengelola kelas secara variatif, penuh warna dan menyenangkan sehingga dirindukan oleh murid.

Bahwa telolet bisa mendunia adalah karena para penggemarnya mepublikasikan hasil kerjanya lewat media sosial dan menikati itu sambil terus menambah posting aneka bunyi telolet hingga makin banyak diketahui penduduk bumi. Guru harus terus mempublikasikan berbagai kegiatan yang dilakukan bersama murid dengan suka ria dan mendorong murid untuk ikut mempublikasikan interaksi belajar bersama dirinya di sekolah … soal cara? terserah anda.