Blog Pendidik

@dwitagama: karakter tumbuh dari pembiasaan


Leave a comment

Rokok selalu berjaya pada yang miskin hingga berpunya, kalo kamu?

Rambut sudah putih termakan usia,
badannya kurus, tulang hanya berbalut kulit tersisa,
mengemis jadi kerjanya sejak pagi hingga senja,
lihat apa yang ada di mulutnya

Mengharap orang lain iba,
memberi uang karena melihatnya tak tega,
uang hasil mengemis buat beli rokok itu biasa,
yang dihisap sambil terus mengharap iba

Mungkin ketika merokok dia jadi lupa,
kalau dirinya miskin tak punya apa-apa,
tak sadar jika sebentar lagi tak berdaya,
jadi penghuni kubur karena nafas tak ada

Dia pengemis yang tua renta
tak ada lagi yang dia fikir dia bisa
cuma mengemis dia merasa berdaya
mungkin sekolah pun dia tak merasa

Kalau kamu yang masih muda belia,
sudah jadi perokok tak berjeda,
tak bisa pisah dari asap seperti busa,
padahal berpenghasilan pun kamu tak bisa

Mungkin ketika merokok kamu jadi lupa,
kalau kamu miskin tak punya apa-apa,
sudah merasa tak lagi berdaya,
siap jadi penghuni kubur karena nafas tak ada

Dia pengemis yang tua renta
tak ada lagi yang dia fikir dia bisa
cuma mengemis dia merasa berdaya
mungkin sekolah pun dia tak merasa
apakah kamu merasa seperti itu juga?

Kalau kamu kaya
segalanya kamu punya
tapi menghisap asap kamu merasa lebih berjaya
hingga merokok jadi gaya

Mungkin ketika merokok kamu jadi tetap ingat tak lupa,
kalau dulu kamu pernah miskin tak punya apa-apa,
sudah merasa sebentar lagi tak berdaya,
siap jadi penghuni kubur karena nafas tak ada

Dia pengemis yang tua renta
tak ada lagi yang dia fikir dia bisa
cuma mengemis dia merasa berdaya
mungkin sekolah pun dia tak merasa
apakah kamu merasa seperti itu juga?

Kalau kamu pintar sudah sarjana,
berpenghasilan tetap luar biasa,
tapi menghisap asap karena terbiasa,
hingga rokok jadi teman yang slalu ada

Mungkin ketika merokok kamu jadi tetap ingat tak lupa,
kalau dulu kamu pernah miskin tak punya apa-apa,
sudah merasa sebentar lagi tak berdaya,
siap jadi penghuni kubur karena nafas tak ada

Dia pengemis yang tua renta
tak ada lagi yang dia fikir dia bisa
cuma mengemis dia merasa berdaya
mungkin sekolah pun dia tak merasa
apakah kamu merasa seperti itu juga?

Jika kamu jago bela diri dan ternama
punya teman banyak dimana-mana
sumber uang mengalir deras dan selalu ada
merokok seolah jadi makin gaya

Mungkin ketika merokok kamu jadi tetap ingat tak lupa,
kalau dulu orang tua kamu pernah miskin tak punya apa-apa,
atau sudah merasa sebentar lagi tak berdaya,
siap jadi penghuni kubur karena nafas tak ada

Dia pengemis yang tua renta
tak ada lagi yang dia fikir dia bisa
cuma mengemis dia merasa berdaya
mungkin sekolah pun dia tak merasa
apakah kamu merasa seperti itu juga?

kalo kamu?


Leave a comment

Perokok itu hebat-hebat, mereka bersaudra

Mereka hebat-hebat,
Matahari masih belum terbit
berangkat segera ke tempat ibadah
membawa kotak dan korek api
Selesai ibadah disuutnya benda putih
setelah menghadap sang pencipta
Mereka menghisap sang pembunuh

Mereka hebat-hebat,
tak punya kerja tetap
semangat bekerja apa saja yang bisa
berangkat semangat setip pagi
Mereka menghisap sang pembunuh

Mereka hebat-hebat
semangat kenakan seragam putih biru
berangkat ditemani kokok ayam
Mereka menghisap sang pembunuh

Mereka hebat-hebat
belum sempat sarapan
berangkat memanggul karung
mengais sampah yang bisa dijual
Mereka menghisap sang pembunuh

Mereka hebat-hebat
kenakan seragam perang
siap korbankan jiwa raga
membela negara tercinta
Mereka menghisap sang pembunuh

Mereka hebat-hebat
kenakan sepeda motor berseragam hijau, hitam
berangkat saat gelap menjemput penumpang
Mereka menghisap sang pembunuh

Mereka hebat-hebat
badan renta, pipi kempot,
gigi ompong, sering bengong, jarinya menjepit seseuatu
Mereka menghisap sang pembunuh

Mereka hebat-hebat
hanya takluk dengan benda 9 cm
berisi ribuan zat racun
dikemas indah dicitrakan hebat di iklan
menakukkan jutaan orang di negeri yang makmur
Mereka menghisap sang pembunuh

Mereka hebat-hebat
tak perlu nikmati indahnya sudut negeri
asik mojok di sudut gang, bawah pohon, ruang tangga kantor
buat orang-orang hebat itu
nikmatnyz asap tak tertandingi oleh segalanya
Mereka menghisap sang pembunuh

Mereka hebat-hebat
jika berjumpa sesama penghisap
mereka jadi terasa bersaudara
dalam nikmat tiada tara
menyongsong kematian bersama
Mereka menghisap sang pembunuh

Mereka hebat-hebat
mereka menghisap sang pembunuh
mereka tahu, andaipun sakit
Pemerintahnya akan menanggung biaya berobat
andai dia mati pun, pemakaman gratis
Mereka menghisap sang pembunuh


1 Comment

Miskin, bego, perokok

perokok-miskin-1

Miskin,
Bego,
Orang miskin karena bego?,
atau orang bego karena miskin?

Orang miskin disekolahin supaya pintar,
Kalau pintar orang miskin itu tak bego lagi,
Orang miskin yang sekolah sepuluh tahun harusnya jadi pintar,
Jika sudah sekolah sepuluh tahun, masih bego dan merokok,
jadilah dia orang miskin yang bego dan perokok.

  1. Saya punya cerita pendek sekali berjudul: Miskin, bego, perokok

Seorang murid tertangkap basah merokok di toilet sekolah, berikut ini cuplikan pembicaraan Guru dan murid tersebut:

“Berapa batang sehari kamu merokok?” tanya Guru.

“Empat sampai lima batang sehari Pak” jawab murid.

Sambil menyiapkan surat panggilan kepada orang tua guru itu bilang, “Besok orang tua kamu diundang ke sekolah, harus membuat pernyataan di atas materai”.

Murid itu terdiam, matanya mulai berair, dia menangis, “Orang tua saya sedang sakit, … ga punya uang Pak”.

Pak Guru terkejut, “Lho ko bisa … orang tuamu miskin, tak punya uang, bagaimana bisa kamu merokok 4 sampi 5 batang sehari?”

“Saya dikasih teman rokoknya, Pak” lanjut murid sambil menangis.

“Gini aja ya mas, mulai saat ini kalau ada temanmu yang memberi rokok, jangan kamu hisap, jika temanmu bertanya, katakan saja kamu baru merokok dan buat nanti saja dihisapnya, kemudian rokok itu kamu jual lebih murah dari harga di warung kepada temanmu yang lain, agar uangnya bisa untuk membeli materai besok”.

Guru itu melanjutkan, “Dengan cara yang sama, kamu juga bisa menabung untuk membeli sepeda motor dari rokok yang diberi teman, tidak nikin kamu sakit, ketangkap piket di toilet sekolah atau tidak penyakitan dan mati”.

Bagaimana menurut Anda?


1 Comment

Perokok itu hebat

Pada suatu siang yang terik saya menjumpai supir angkot yang merokok, setelah menghisap rokok dia hembuskan asap, hidungnya merespon seperti menolak asap, matanya juga berkedip layaknya hendak menghalau asap. Kemudian dia pejamkan mata seperti sedang menelan atau menikmati sisa asap di tenggorokannya.

Dihisapnya lagi rokoknya, dan diulangi lagi, hembuskan asap, matanya dipejamkan sambil menggelengkan kepala seperti menolak asap … Badannya kurus, kulitnya legam seperti terbiasa bermain oli.

Perokok itu hebat, berkorban menyakiti diri buat bikin kaya orang yang sudah kaya, beli sesuatu cuma buat dibakar dan tak dihisap abis, dikunyahpun tak … kalo kamu?

Saya tak membahas kelakuan merokok di siang hari saat bulan puasa, saya juga tak menghormati dia yang tak puasa, saya cuma kasihan … mungkin dia tak sekolah, kalaupun sekolah barangkali dia tak sempat naikan kualitas kemampuan berfikir otaknya hingga bersedia membayar untuk membunuh dirinya sendiri.

Kenapa sekolah tak mampu membuat penduduk negeri ini mampu berfikir baik dan melakukan yang terbaik buat dirinya sendiri, kalu dia biasa menyakiti diri sendiri, membunuh dirinya sendiri, bagaimana mungkin dia sayang orang lain dan mau membela orang lain, bangsa dan negara? Menurut anda?


Leave a comment

Negara Hukum yang tak menjalankan Hukum

Apakah mereka tak sekolah?
Jika orang tua tak mampu lagi kendalikan anaknya, sekolah tak peduli lagi pada karakter muridnya, negara seolah tak melihat ada masalah, padahal sudah ada aturan atau hukum yang bisa memenjarakan penjual rokok kepada anak yang belum dewasa.

Film diatas jelas sekali lokasi dan pelakunya, sudah tayang bertahun-tahun di youtube, kenapa perokok makin banyak di negeri ini?


Leave a comment

Korban Rokok: Rakyat seolah tak berdaya

“Pemerintah harus menutup pabrik rokok”.
Demikian yang sering rakyat katakan, kalau rokok masih dijual di warung, maka rakyat masih membelinya.

Jika masih banyak penjual rokok, tetapi karena rakyat sadar terhadap perawatan kesehatan dirinya tidak membeli rokok, maka penjual rokok akan berhenti, tak berdagang rokok lagi, pabrik rokok pun akan berhenti berproduksi dan pindah ke negeri yang masih banyak perokoknya.

Dulu di negeri paman besut ada rokok bermerek VIP dan COMODORE, sekarang tak ada lagi yang menjual rokok itu, karena tak laku. Warung, tokok, pabrik itu hanya menjual dan memproduksi barang yang laku di pasaran, kalau tak laku makan barang itu tak akan diproduksi dan tak dijual lagi.

Masih merasa jadi korban dan tak berdaya?