Blog Pendidik

@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan


Leave a comment

Merdeka ala Negeri Paman Besut

anak-merokok

Dihan Muhamad, who used to smoke up to two packs of cigarettes a day before cutting down, poses for a photo as he smokes while his mother breast feeds his younger brother at their home in the village near the town of Garut, Indonesia on February 10, 2014.

Merdeka itu
bisa menikah muda
tak pake biaya alias gratis
merokok sejak umur satu digit

Merdeka itu
bisa melahirkan gratis
walau suaminya kerja tak tentu
merokok sejak mata terbuka pagi buta

Merdeka itu
bisa berobat gratis
imunisasi pakai vaksin palsu
merokok lebih sepuluh batang sehari

Merdeka itu
bisa punya sepeda motor
dibayar angsuran walau mahal
karena angkutan umum tak cukup
merokok seperti menghebatkan

Merdeka itu
Orang tua bisa sekolahkan anaknya gratis
bersama anak berkelahi dengan guru
merokok di rumah bersama sudah biasa

perokokMerdeka itu
bisa impor garam
bisa impor gula
bisa impor obat
bisa impor istri
bisa impor gubernur
bisa impor menteri
berapapun harga rokok dibeli

Merdeka itu
bisa sekolah bawa motor pedang, clurit, belati
sekolah seperti tak tahu
tawuran, berlari di jalan sambil merokok

Merdeka itu
Murid bisa bawa senjata tajam
tertangkap polisi bebas lagi
menghukum atau mengeluarkan murid sekolah takut
merokok di sekolah sudah biasa
karena kepala sekolah dan gurunya juga perokok

Merdeka itu
tengah malam membawa karung & gerobak
memungut plastik & barang bekas
sambil merokok tak henti

Merdeka itu
bisa naik motor di jalan macet
hisap asap kenalpot
sambil hisap rokok di jepit dua jari

Merdeka itu


Merokok

Merdeka itu
tak membuat orang bisa membaca
tulisan di bungkus rokok
puluhan juta rakyat negeri merokok

Merdeka itu



1 Comment

Kerongkongan Penduduk Negeri yang Makmur Pagi ini

Berliuk seperti menari di atas roda dua,
mencari celah di lalu lintas yang padat
Wajahnya tegang takut terlambat
Di jarinya menjepit benda putih

Saat macet rokok dihisap
Saat lampu merah dihisap lagi
Kadang dibiarkan di mulut sambil berkendara
Dari mulut masuk asap rokok
Dari hidung masuk asap kenalpot

Jutaan korek api menyala pagi ini
mengantarkan asap
ke kerongkongan penduduk negeri makmur
yang katanya beriman
tapi merusak tubuh pemberian Tuhannya

Kalo kamu?


Leave a comment

Tuhan 9 cm berkepala api, puisi karya Taufik Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
Tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,

di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,

di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,

di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk

orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,

di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat

bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
*menderita* di kamar tidur

ketika melayani para suami yang _bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok_,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.

Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.

_Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS_,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,

dan *ada juga dokter-dokter merokok*,
Istirahat main tenis orang merokok,

di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,

panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-‘ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,

di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup

bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
_Mereka ulama ahli hisap._

Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
_terselip berhala-berhala kecil,_
_sembilan senti panjangnya,_
_putih warnanya,_
_ke mana-mana dibawa dengan setia,_

*satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,*
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,

tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.

Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.

Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.

Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.

Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz.
*25 penyakit ada dalam khamr.*
*Khamr diharamkan.*
*15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).*
*Daging khinzir diharamkan.*
*4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.*
_Patutnya rokok diapakan?_

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.

_Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,_
_Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,_
_jangan,_
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.

Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.

Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,

*sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.*
Korban penyakit rokok

lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,

cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan,

_berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,_
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,

*diiklankan dengan indah dan cerdasnya,*
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan *sesajen asap tuhan-tuhan ini,*

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini…

🌻Taufik Ismail 🌻


Leave a comment

Rokok itu hebat

Rokok itu hebat
Bukan cuma anak kecil yang menghisapnya
Orang tua hampir mati juga menghisapnya

Rokok itu hebat
Bukan cuma pengangguran yang menghisapnya
Orang sibuk yang sukses juga menghisapnya

Rokok itu hebat
Bukan cuma orang bodoh yang menghisapnya
Orang pintar yang profesor & gelarnya banyak juga menghisapnya

Rokok itu hebat
Bukan cuma orang yang tak faham kesehatan menghisapnya
Orang yang memakai baju putih berkalung steteskop juga menghisapnya

Rokok itu hebat
Bukan orang yang tidak taat beragama menghisapnya
Orang tua rajin beribadah hampir mati juga menghisapnya

Rokok itu hebat
Bukan cuma orang yang pengecut menghisapnya
Orang yang berani mati juga menghisapnya

Rokok itu hebat
Bukan cuma lelaki yang menghisapnya
Perempuan hamil dan banci juga menghisapnya

Rokok itu hebat
Bukan cuma orang miskin yang menghisapnya
Orang kaya juga menghisapnya

Rokok itu hebat
Bukan cuma orang patah hati yang menghisapnya
Orang yang mabuk cinta juga menghisapnya

Rokok itu hebat
Bukan cuma gelandangan yang menghisapnya
Pemilik rumah mewah juga menghisapnya

Rokok itu hebat
Bukan cuma anak murid yang menghisapnya
Guru dan Kepala Sekolah juga menghisapnya

Rokok itu hebat
Bukan cuma orang kampung yang menghisapnya
Orang kota juga menghisapnya

Rokok itu hebat
Bukan cuma pejalan kaki yang menghisapnya
Pemilik jet pribadi juga menghisapnya

Rokok itu hebat
Bukan cuma orang yang tak pernah berolahraga menghisapnya
Arlit juara dunia juga menghisapnya

Rokok itu hebat
Bukan cuma rakyat jelata yang menghisapnya
Pemimpin pilihan rakyat juga menghisapnya

Rokok itu hebat
Bukan cuma waras yang menghisapnya
Orang yang “tak waras” juga menghisapnya

Rokok itu hebat
Bukan cuma orang yang lemah menghisapnya
Tentara yang sering perang juga menghisapnya

Rokok itu hebat
Bukan cuma tukang parkir yang menghisapnya
Pemilik mobil mewah juga menghisapnya

Rokok itu hebat
Bukan cuma orang sehat yang menghisapnya
Orang tua yang batuk-batuk tal berhenti juga menghisapnya 

Rokok itu hebat
Bukan cuma sopir yang menghisapnya
Majikannya pemilik mobil juga menghisapnya

Rokok itu hebat
Bukan tukang kembang tahu yang dipikul menghisapnya
Pemilik pabrik tahu juga menghisapnya

Rokok itu hebat
Bukan cuma tukang ojek yang menghisapnya
Pemilik dealer motor besar juga menghisapnya 

Rokok itu hebat
Bukan cuma orang yang gelap kulit & lebar mata menghisapnya
Orang yang terang kulit & sipit mata juga menghisapnya 

Rokok itu hebat
Bukan cuma rakyat tak berbaju yang menghisapnya
Pemimpin yang banyak asesoris di baju juga menghisapnya 

Rokok itu hebat
Bukan cuma orang yang tak pernah jalan-jalan menghisapnya
Traveler yang sudah keliling dunia juga menghisapnya

Rokok itu hebat
Bukan cuma orang yang menghisapnya
Monyet juga menghisapnya

Rokok itu hebat
Kalo kamu tak merokok
Berarti kamu lebih hebat

Rokok itu hebat
Lebih 60 juta penduduk yang merokok
Jumlahnya terus bertambah
Bagaimana dengan kamu?


Leave a comment

Pendidikan tak fungsikan otak

Anak kecil itu
Melihat ayah ibunya merokok
Tetangganya merokok
Anak tetangganya merokok

Di warung ada penjual rokok
Kadang orang tuanya menyuruh beli rokok
Dia jadi biasa melihat rokok
Dia jadi biasa memegang rokok

Anak kecil itu ingin tahu apa rasa rokok
Diam-diam dia coba mengisap rokok
Ketika orang tuanya melihat mereka tak marah
Otaknya tak dipakai walau semua sekolah

Kalo kamu?


Leave a comment

Membelai anak dengan asap

image

#Repost @dutacilikantirokok

Berikut beberapa efek buruk jika orangtua sering merokok di depan anak seperti yang dilansir oleh kompas.com pada Jumat (28-08-2015) diantaranya adalah :

1. Sindrom kematian mendadak pada bayi
Merokok di dekat anak Anda bisa meningkatkan risiko terjadinya sindrom kematian mendadak pada bayi atau SDIS ( sudden death infant syndrome). SDIS biasanya terjadi pada bayi berusia di bawah 1 tahun. Asap rokok dikhawatirkan mengganggu jalan napas anak.

2. Menghambat pertumbuhan paru-paru
Anak-anak yang masih dalam masa tumbuh kembang harus dijaga kesehatannya. Jika Anda sering merokok di dekat anak, maka itu bisa menghambat pertumbuhan paru-parunya. Zat-zat berbahaya dari rokok akan mudah masuk ke dalam paru-paru  melalui saluran pernapasan anak.

Catatan bagi orangtua yang harus diinga-ingat!!! setelah merokok Anda harus wajib mengganti pakaian jika ingin menggendong bayi Anda. Sebab, kandungan berbahaya dari rokok melekat pada pakaian. Bahkan juga menempel di sofa jika Anda merokok dalam rumah

3. Masalah pernapasan ketika dewasa
Anak yang sering terpapar asap rokok akan lebih sering batuk-batuk. Anak juga lebih berisiko terserang asma. Dampak buruknya mungkin tak selalu terlihat saat anak masih kecil. Saat dewasa nanti, anak bisa memiliki masalah pada pernapasannya jika lingkungan sekitarnya adalah perokok.

4. Infeksi telinga
Infeksi telinga tak hanya berisiko tinggi bagi para perokok, tetapi juga bagi anak Anda yang merupakan perokok pasif. Risiko infeksi telinga pada anak-anak dapat meningkat jika orangtua mengisi udara di rumah dengan asap rokok.

5. Anak jadi perokok
Yang paling terakhir dan paling menyedihkan dari efek dari merokok di depan anak adalah anak jadi ikut-ikutan merokok. Dampak negatif jika Anda selalu merokok di depan anak adalah kemungkinan besar mereka akan menjadi perokok saat mereka beranjak dewasa. Masalah kesehatan akan lebih buruk terjadi jika usia perokok semakin muda.

Untuk menghindari risiko efek yang berbahaya akibat dampak merokok di depan atau di dekat Anak tersebut, langkah terbaik yang harus Anda lakukan bukan tidak merokok di depan atau dekat Anak, melainkan berhentilah aktivitas merokok mulai dari sekarang!!!

#dutacilikantirokok

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 20,791 other followers