Waspada WhatsApp Diretas

pexels.com

Kejadian peretasan nomor whatsapp makin sering terjadi, bahkan ada korban seorang profesor yang cukup terkenal di negeri ini, yang ahli dibidang teknologi, menyelesaikan S3 di negeri paman sam dan Inggris, punya website yang menceritakan banyak aktifitas sebagai ahli pengamanan jaringan dan teknologi digital. Jika orang sehebat beliau bisa tertipu oleh peretas whatsapp, bagaimana dengan kita? 

Korban peretasan whatsapp saya kategorikan menjadi dua kelompok, yaitu: kelompok pertama, adalah korban yang nomor whatsapp nya dibajak, dan kelompok kedua adalah korban yang tertipu akibat percakapan palsu antara pelaku peretas dengan relasi pemilik nomor whatsapp yang dibajak.

Kelompok pertama, orang yang dibajak nomor whatsapp biasanya tidak dalam keadaan waspada merespon pesan yang masuk. Salah satu cara yang umum dilakukan oleh peretas adalah meminta kiriman balik nomor otorisasi berupa rangkaian angka atau huruf sebagai sandi mengambil alih nomor whatsapp saat mulai diretas. 

Ketika seseorang mengirimkan kode otorisasi kepada orang lain maka orang yang menerima kode otorisasi akan bisa menggunakan nomor whatsapp korban untuk berkomunikasi dengan semua daftar kontak pada nomor whatsapp korban.

Korban kelompok ini tak mengalami kerugian materi secara langsung, tetapi harus menanggung perasaan bersalah kepada orang-orang yang menjadi korban kelompok kedua, bahkan ada yang kemudian mengganti sejumlah uang sesuai dengan kerugian yang diderita.

Saya beberapa kali menerima pesan berupa permintaan untuk mengirimkan kembali kode yang dia kirim, jika saya sedang sibuk saya tak merespon pesan pelaku dan langsung memblok nomor pelaku agar tak bisa menghubungi saya lagi. Ketika saya tak sibuk beberapa kali saya menghubungi nomor pelaku. Umumnya mereka tak mau menjawab panggilan telepon dari saya. Tetapi pernah beberapa kali ada yang menjawab panggilan telepon saya.

Saya bertanya, kenapa anda meminta kembali nomor kode yang sudah anda kirim sendiri? Saya katakan jika dia mengirim kode itu kepada saya, artinya dia mengetahui apa yang dia kirim. Pelaku menjawab macam-macam, bahkan ada yang langsung menutup telepon. 

Ada pelaku yang pandai bersilat lidah atau tak sadar bahwa saya sudah menyadari rencana jahat yang bersangkutan, dia masih saja meminta kode otorisasi yang akan dia kirim. Biasanya saya bilang, sudah lah tak usah melanjutkan niat jahat anda menipu saya atau relasi saya, silahkan cari pekerjaan yang halal dan lebih baik daripada menipu.

“Assalamualaikum” …”Lagi dimana?”

Dua kalimat di atas adalah percakapan pembuka yang umumnya digunakan peretas untuk memulai menggarap korban jenis kedua, yaitu relasi dari pemilik no whatsapp yag diretas.

Saya selalu berpikir positif sambil tetap waspada, umumnya saya menjawab: biasa … dan jika nomor whatsapp tak diretas, pemilik nomor akan melanjutkan percakapan dengan gaya yang biasa dia lakukan hingga saya berkesimpulan bahwa situasi aman-aman saja. Pelaku peretasan biasanya  langsung masuk ke fokus penipuan dengan berbagai cara yang ujungnya meminta saya menstransfer sejumlah uang ke nomor rekeningnya. 

Saat saya sedang sibuk, apalagi saya merasa jarang berkomunikasi dengan nomor itu, tetapi tiba-tiba pelaku meminta stransfer sejumlah uang, hal yang tak biasa buat orang Indonesia, saya tak merespon permintaannya.

Ketika ada waktu luang, saya ladeni percakapan dengan pelaku, seolah berempati dan ingin membantu mengatasi kesulitan pelaku dan akan menstransfer uang yang dia minta. Biasanya setelah berkali-kali saling balas pesan, saya bilang akan menelponnya.

Pernah, suatu ketika meminta saya menstransfer uang satu juta rupiah, saya berpura-pura akan menstransfer dan menelpon pelaku, saya bilang kalau biasanya transaksi kami minimal sepuluh juta rupiah, kenapa kali ini sangat sedikit?.  Saya cuma ingin memberi kesan bahwa saya tak sadar akan ditipu, tapi umumnya mereka memberi kesan memang sedang butuh dana sedikit dan tak merubah nominal angka yang ditransfer, saya tak bertanya tentangf alamat rekening yang berbeda dengan nama relasi saya, tetapi saya bertanya alamat kantor cabang bank dimana dia membuka rekening yang diberikan kepada saya. Umumnya pelaku tak mau memberikan.

Akhirnya saya sering bilang pada pelaku bahwa saya akan membantu kesulitan dia jika sedang memerlukan uang dengan menstransfer jumlah yang lebih banyak dari yang dia minta, dengan syarat berikan foto KTP yang sesuai dengan nama dan alamat rekening serta melakukan video call dengan saya. Biasanya mereka menolak dan tak melanjutkan komunikasi dengan saya.

Tulisan ini terinspirasi dari kabar ada teman yang tertipu telah mentransfer 80 persen dari saldo di rekeningnya kepada pelaku peretas nomor whatsapp, jumlah yang tak sedikit di saat pagebluk ini, semoga kejadian macam ini tak menimpa diri kita. Anda punya cerita?

Sekolah selalu berubah

tanam-padi-jepara-1024x700
Sumber foto: http://www.murianews.com/2016/03/18/75638/petani-ajari-siswa-menanam-padi-organik-di-pati.html

Berawal dari ditutupnya satu unit sekolah negeri yang berada di gedung yang sama guru-guru di sekolah itu menjadi lebih kompak, sebelum sekolah yang satu atap itu ditutup guru-guru hampir tak pernah mengadakan rapat kecuali awal tahun ajaran dan saat kenaikan kelas, diluar itu guru-guru asik bekerja sendiri-sendiri seoilah tak perlu kerjasama atau membicarakan sesuatu … semuanya mengalir begitu saja sampai sekolah yang berada dalam satu gedung tidak ada murid baru yang mendaftar sehingga murid-murid yang masih ada digabungkan menjadi satu sekolah, guru-gurunya ada yang bergabung, beberpa dari mereka harus berpindah ke sekolah lain.

Persepsi mereka beragam; Program keluarga berencana (KB) yang sukses sehingga penduduk usia sekolah berkurang, banyak penduduk pindah ke daerah perbatasan kota, penduduk sekitar sudah makin dewasa dan sekolah pada jenjang yang lebih tinggi, dan berbagai analisa berkelebat merespon ditutupnya unit sekolah dalam satu gedung tersebut.

Guru-guru mulai khawatir, bisa saja peminat ke sekolahnya semakin menurun hingga tak ada lagi orang tua yang mau menyekolahkan anaknya di sekolah negeri tempat mereka bertugas, seperti yang terjadi pada sekolah yang dilebur … sementara ada sekolah swasta yang tak jauh dari sekolah negeri itu peminatnya melimpah, sekolah swasta itu sudah menerima pendaftaran murid baru sejak September dengan pembayaran biaya macam-macam yang jumlahnya tak sedikit, atau bisa dibilang mahal.

Kenapa sekolah yang mahal tetap saja banyak peminatnya, sementara sekolah negeri dengan biaya yang tak ada atau gratis semakin banyak yang tak diminati hingga berujung tutup, dilikuidasi, digabung, dimerger atau berbagai istilah lainnya.

Kini guru-guru jadi sering mempertanyakan kenapa sekolah yang satu atap itu tutup, dan bagaimana agar sekolah mereka tetap eksis dan diminati masyarakat sekitarnya, guru-guru jadi sering kumpul, diawali dengan makan siang bersama, pengajian, arisan, demo masak, demo kesehatan atau kegiatan apa yang selanjutnya membahas berbagai hal untuk meningkatkan kualitas atau mutu pembelajaran dan pelayanan peserta didik agar sekolahnya tetap diminati oleh masyarakat disekitarnya. Guru-guru jadi terbiasa rapat sebulan sekali untuk membicarakan banyak hal sesuai kondisi sekolah dan lingkungan yang terkini.

Guru-guru jadi sering studi banding ke sekolah terdekat yang dikabarkan punya keunikan atau keunggulan yang bisa diterapkan di sekolah mereka. Up grading, kegiatan penyegaran mengundang narasumber dari luar untuk penerapan konsep baru, sistem baru dan hal-hal lain yang memperbaiki proses pembelajaran di kelas.

Suasana kelas, suasana sekolah jadi lebih terasa bergairah, murid-murid memanfaatkan teknologi informasi terkini dan melakukan kegiatan-kegiatan baru yang sebelumnya tak ada dengan melibatkan orang tua murid dan organisasi lain di luar sekolah. Murid-murid yang tak masuk dengan alasan yang tak jelas segara dipanggil orang tuanya untuk dikaji penyebabnya dan dilakukan treatmen sehingga murid jadi semangat sekolah lagi.

Kegiatan ekstra kurikuler jadi lebih aktif, frekuensi ikut serta dalam berbagai kompetisi semakin tinggi, prestasi murid dan guru jadi hal yang sangat biasa di sekolah itu. dokumentasi kegiatan sekolah, proses belajar, saat menjadi juara dan lainnya berkelebat di facebook, twitter, instagram, steller dan youtube.

Orang tua murid terlibat dalam berbagai kegiatan, termasuk ketika para orang tua merasa bahwa anak-anaknya perlu mendapatkan pengalaman belajar di luar sekolah, mereka bersepakat menjadwalkan liburan bersama dengan teman-teman sekelas dan mengajak guru-guru di sekolahnya, dengan agenda wisata edukasi, belajar di alam terbuka. Pembiayaan untuk hal itu dikelola oleh orangtua murid yang anaknya ikut serta dalam kegiatan wisata itu.

Berbagai perubahan dan kegiatan-kegiatan yang jadi kebiasaan baru di sekolah itu rupanya diamati oleh masyarakat sekitar sehingga peminat ke sekolah itu semakin meningkat, orangtua murid menjadi mitra yang kompak dengan guru saat menjalankan program yang meembentuk murid menjadi pribadi yang lebih baik, mampu berkompetisi di zaman yang terus berubah. Bagaimana dengan sekolah kamu?

beberapa alternatif lakukan e-learning

Anda guru?
Pernah kasih tugas peserta didik berbasis teknologi informasi?
Apa hasil kerja peserta didik yang anda nilai?

Jika peserta didik masih mengumpulkan hasil cetakan projeknya dan anda menilai setelah membaca print out projek peserta didik … Sementara anda tahu, bahwa peserta didik bisa cuma copy paste pekerjaan temannya dan mengganti judul lalu memberi namanya.

Sudah ada unsur teknologi informasinya? Ya … Sudah, tapi masih rendah levelnya. Bagaimana cara pembelajaran berbasis IT atau biasa disebut e-learning.

Berikut ini beberapa alternatif lakukan e-learning:

– Usahakan tak gunakan kertas, karena kertas makin mahal dan merusak alam (kertas dibuat dari pohon atau tumbuhan)
– Usahakan judul projek antar kelompok atau antar peserta didik berbeda, sesuai Kompetensi yang sedang dipelajari … Mengantisipasi kemungkinan terjadi copy paste
– Laporan atau hasil tugas laporan berupa paparan di posting di BLOG peserta didik, link nya diinfokan kepada guru melalui FACEBOOK, TWITTER, EMAIL, dll.
– Laporan atau hasil tugas laporan berupa SLIDE, diupload di SLIDESHARE.NET dan di posting di FACEBOOK, BLOG peserta didik, link nya diinfokan kepada guru melalui FACEBOOK, TWITTER, EMAIL, dll.
– Laporan atau hasil tugas laporan berupa VIDEO, diupload di YOUTUBE, FACEBOOK, di posting di BLOG, link nya diinfokan kepada guru melalui FACEBOOK, TWITTER, EMAIL, dll.
– Kegiatan belajar di kelas dimanfaatkan untuk mempresentasikan hasil kerja atau projek di hadapan teman-teman dan gurunya.

Anda punya alternatif lain? Kita manfaatkan teknologi buat kebaikan yuuu, happy deh…….

Masih jadi GURU JADUL?

change

Agar guru bisa bekerja seirama dengan arus perubahan abad 21 dan mampu menjadi fasilitator bagi siswa-siswinya menghadapi tantangan zaman

  1. Guru memiliki antusiasme, rasa kasih sayang dan kemampuan berpikir merdeka dan mandiri. Tanpa hal diatas guru hanya akan menjadi orang yang kerjanya menunggu instruksi dan perintah. Antusiasme membuat guru menjadi bersemangat, kasih sayang pada siswa akan membuat ia tahu mana yang paling baik untuk siswanya dan bersedia mengambil risiko.
  2. Menguasai teknologi, bukan untuk menjadi guru yang ahli komputer, tetapi guru perlu mengetahui dan mempelajari teknologi agar bisa maksimal dalam membantu siswa belajar melalui modalitas belajar yang siswa punyai.
  3. Guru-guru yang hebat juga manusia biasa, kadang mereka telat datang ke sekolah dan melakukan kerja lembur jika pekerjaan menumpuk. Namun satu hal yang membedakan ia dari guru lain adalah dedikasi dan semangatnya dalam membelajarkan siswa. Continue reading “Masih jadi GURU JADUL?”

POLISI dibutuhkan & DIHUJAT

sangiang.files.wordpress.com
sangiang.files.wordpress.com

Saya mengenang perjalanan mudik lebaran kemarin, ratusan polisi siaga disepanjang jalur lalulintas … semua jalur yang akan dilalui pemudik telah disiapkan untuk hantar penduduk negeri ke kampung halaman. Terasa bahwa polisi ada dan sangat berjasa … kita butuh mereka …

 

Perseteruan “Cicak & Buaya” menenggelamkan kebaikan yang pernah ada … ini tak boleh terus terjadi … dari ribuan polisi mungkin lebih banyak yang profesional bekerja … dahsyatnya publikasi, kran media yang menganga lebar membuat kelakuan segelintir polisi “basi” menutupi lebih banyak kebaikan polisi negeri.

Saya mau mudik lagi … saya ingin jumpa banyak polisi yang baik … tabahlah polisiku … singkirkan benalu dalam dirimu, kembalilah bersinar … negara membutuhkanmu.

Selamat pagi pembaca, anda polisi?

Pencitraan lewat FAX

Sedang memikirkan pencitraan? Mulai dari mana?

Buatlah fax ditempat anda siap dihubingi kapan saja dan selalu ada petugas yang merespon.

Masih belum punya fax? Berapa tahun anda dan institusi anda tertinggal dlm bidang komunikasi?

Pencitraan, tak hanya dikatakan tapi harus dilakukan.