Blog Pendidik


Leave a comment

Ngobrol dengan orang yang sudah meninggal

victim

Di kantor, di pasar, di jalan, di sosmed sedang ramai dibicarakan pembunuhan sadis di Pulomas Jakarta, rupanya itu tak cukup … akun korban yang sudah meninggal pun jadi sasaran kepo atau keingintahuan masyarakat.

Polisi sibuk mencari siapa pelaku pembunuhan, sementara masyarakat sibuk mencari informasi siapa korban pembunuhan. Di akun instagram salah satu korban pembunuhan dibanjiri ratusan komentar, isinya beragam; ucapan berduka, mention ke teman lain memberi tahu, komentar, dsb. Ngobrol dengan orang yang sudah meninggal, bagaimana cara orang yang meninggal itu menjawabnya?

Jika anda meninggal, orang lain bisa menemukan info tentang anda dimana? akankah anda meninggal tanpa jejak? Dengan handphone yang anda miliki anda bisa meninggalkan banyak jejak kebaikan dengan media dan gaya yang anda suka, lewat hobby yang anda tekuni, lewat pekerjaan yang anda sukai, happy deh.

Advertisements


3 Comments

Guru Desa eksis mendunia, Guru Kota takut dipenjara

Seorang Guru honor di sebuah sekolah dasar di kaki gunung yang berjarak hampir seribu kilometer dari ibukota negeri, menulis cerita tentang sekolahnya, tentang kegiatannya, tentang anak murid-muridnya, tentang lingkungan tempat tinggalnya, beliau juga mendokumentasikan pelajaran, soal-soal ulangan, ujian dan foto-foto serta video yang ingin dikenangnya di blog pribadinya.

Dia tak mengeluh saat akses internet sedang berhenti, disimpannya bahan tulisan untuk posting blognya, dan saat mendapat akses internet yang bagus guru itu memposting tulisannya sehingga guru di pinggir gunung itu dikenal oleh banyak orang seantero negeri.

Melalui mesin pencari google, guru-guru seluruh negeri bahkan yang berada di luar negeri mencari materi belajar, soal-soal, dan hal-hal lain untuk proses belajar di Sekolah Dasar. Guru pemilik blog yang tak berbayar jadi sering diundang ke berbagai forum di daerah lain hingga ke ibukota negeri dan kerap mendapat kiriman tiket pesawat dan fasilitas akomodasi di hotel berbintang, sebuah anugerah luar biasa untuk seorang guru honor di daerah terpencil. Dia menjadi narasumber pada berbagai kegiatan seminar dan pelatihan di berbagai kota di negerinya. Guru itu juga mendorong murid-murid SD nya untuk memanfaatkan teknologi informasi memberitakan kegiatan di sekolahnya.

sd-jambekumbu

Murid SDN Jambekumbu 01

Seorang guru di ibukota negeri berpenghasilan belasan juta rupiah sebulan, tak memiliki blog, tak berani menuliskan sesuatu karena takut dipenjara, dia senang berselancar membaca berbagai informasi, dia seperti berkubang di lobang yang sama puluhan tahun dan semakin tenggelam, dilupakan murid-muridnya, tak dikenal teman guru sekecamatan, apalagi dicari oleh guru di kota lain, keikutsertaannya dalam seminar-seminar atau pelatihan sebagai peserta atas undangan dinas pendidikan di kota dan profinsinya.

Betapa sia-sia fasilitas di sekolah guru yang terletak di ibukota negeri dan akses internet yang berlimpah … bahkan nama guru ibukota itu tak terlacak di mesin pencari google, nama sekolahnya pun hanya sedikit jejaknya di google.

Bagaimana dengan anda dan guru-guru di sekolah anda?


3 Comments

Cerdas dalam Memasyarakatkan Internet Sehat

DIAMATI

Begitu yang ditulis tentang Dedi Dwitagama oleh seseorang yang tak dikenalnya sama sekali…., berjarak ratusan kilometer … tak pernah jumpa dan bercakap sekalipun, beliau menuliskan begini:

“Salah satu contoh yang menginspirasi saya, sekaligus menguatkan bahwa kampanye internet sehat bisa dimulai dari diri dan lingkungan kita, adalah apa yang telah dicapai oleh Bapak Dedi Dwitagama. Beliau adalah seorang kepala sekolah di SMK Negeri 36 Cilincing Jakarta, juga seorang blogger dan trainer yang berpengalaman. Lebih dari itu, beliau adalah seorang yang cerdas dalam memasyarakatkan internet sehat. Kebijakan yang unik pun telah beliau torehkan, yaitu mewajibkan seluruh guru dan siswa di sekolahnya agar mempunyai akun Facebook dan membuat blog. Lebih unik lagi, beliau menambahkan syarat pengambilan ijazah bagi siswa yang telah lulus adalah minimal  telah menulis 100 postingan di blognya masing-masing !. Sungguh, saya belum pernah mendengar yang lebih praktis dan lebih tajam seputar membumikan internet sehat selain apa yang telah digagas oleh bapak Dedi Dwitagama ini. Semoga kita bisa terinspirasi untuk menorehkan langkah-langkah unik lainnya, tentunya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.”

Rupanya beliau menyimak posting-posting saya yang saya sendiri sudah lupa kapan, dan apa isi postingnya … mungkin karena posting saya yang tak sedikit itu ya? Ha ha ha ha … Jangan percaya dulu ……, posting Hatta Syamsuddin. Alumni Sudan, penulis dan dosen Mahad Abu Bakar UMS Surakarta. Trainer Motivasi Keislaman dan Keluarga Romantis tentang Dedi Dwitagama silahkan simak disana.


1 Comment

terima SMS pembaca blog ini

bermaatkah?

bermaatkah?

“Apakah setiap guru mata pelajaan memanfaatkan internet untuk bahan pengajaran?”

Demikian SMS Bapak Teguh seorang Guru SMP di Pati Jawa Tengah … pesan itu membuat saya merasa ada teman di sepi malam jalan tol dari Bogor menuju Jakarta.

Sayapun menelponnya … ternyata Bapak Guru ekonomi itu sedang mempertanyakan fasilitas hotspot di sekolahnya … apakah hanya ikut tren … bagaimana seharusnya?

Selamat siang pembaca, apa yang Anda hasilkan dari hotspot di sekolah?


10 Comments

Bertemu sahabat

Pagi ini
Saya antar istri
yang harus ikut pelatihan
dalam rangka sertifikasi
di wisma kinasih cimanggis

tempatnya bagus
tertata, terpelihara
banyak tumbuhan
berbagai jenis buah
daunnya sangat rimbun
saya sangat menikmati

di sekitar aula
berjumpa dengan banyak sahabat
jadi ingat saat-saat kuliah

ada yang masih tetap dengan gaya mahasiswa pendiam
ada yang tetap dengan gaya ramainya
ada juga yang terlihat makin matang
ada yang melihat dari kejauhan

di kaca pintu tertulis
“hotspot area”
langsung Saya tes
baguuus !!! cepat, asyiiik boooo

seorang sahabat lama
berlalu sambil komentar
“Pagi-pagi lihat bokep?”

Wow
kasihan sekali sahabatku itu,
kabarnya dia jadi wakil kepala sekolah
di sebuah SMA di Jakarta Barat
saat ini masih mengganggap internet hanya bokep

Kalau wakil kepala sekolahnya begitu
gimana guru-gurunya
gimana murid-muridnya

Pak Wakil Kepala Sekolah yang terhormat
internet itu seperti jarum suntik
bisa antarkan ke alam kubur
untuk para pecandu narkoba
tapi bisa juga antarkan seseorang jadi Dokter, Doktor, dll
atau peroleh relasi, pekerjaan atau uang yang tak sedikit

Selamat sore pembaca, apa yang Anda nikmati dari Internet?


Leave a comment

menyimpan tulisan NINOK LEKSONO; Mumbai, Jurnalisme, dan Masa Depan Internet

anda blogger?

anda blogger?

“Serangan di India bisa menjadi studi kasus lain tentang bagaimana teknologi mentransformasi warga menjadi reporter potensial, menambah satu dimensi baru pada media berita.”(Brian Stelter dan Noam Cohen, “New York Times”, 29/11)

 

Internet sebagai teknologi terbukti ampuh digunakan dalam berbagai bidang, mulai dari komunikasi personal hingga korporasional, mulai dari perdagangan hingga media. Khususnya untuk yang terakhir, salah satu wujudnya yang telah mapan adalah hadirnya media online seperti Kompas.com.

Dalam perkembangan berikut, muncul fenomena blog, yang aslinya lebih berupa ekspresi personal atas berbagai topik, tetapi dalam perkembangan selanjutnya melahirkan impak yang jauh di wilayah media
dan jurnalistik. Bahkan, muncul pertanyaan fundamental, “Apakah blog menjadi masa depan jurnalistik?”

Jawabannya terpulang pada keyakinan masing-masing, tetapi blog bersama tren lain yang kini juga berkembang, yakni jurnalisme warga (citizen journalism), tak diragukan lagi akan terus berkembang mewarnai perkembangan media.

Salah satu uraian tentang praktik jurnalisme warga yang aktual karena terkait dengan berita utama internasional adalah yang dilakukan Arun Shanbhag ketika terjadi aksi teror di Taj Mahal Palace dan Tower di Mumbai, Rabu (26/11) malam pekan silam. Ia melaporkan apa yang terjadi melalui internet dari teras Colaba Causeway di Mumbai selatan (Lihat Brian Stelter dan Noam Cohen di The New York Times yang dikutip di atas).

Shanbhag sendiri adalah asisten profesor di Harvard Medical School di Boston, yang hari itu kebetulan ada di Mumbai. Karena menyaksikan kejadian itu secara langsung, ia terpanggil untuk berbagi. Lalu, ia
pun mengabarkan tentang suara rentetan tembakan dari senapan melalui Twitter dan mengunggah foto-foto yang ia buat dalam blog pribadinya.

Dalam kenyataan, apa yang dilakukan Shanbhag itu hanya satu dari laporan yang ditulis jurnalis warga. Semuanya memperlihatkan bagaimana teknologi sedang mengubah warga menjadi reporter potensial.

Saat aksi teror memuncak, ada lebih dari satu pesan dalam satu detiknya dengan kata “Mumbai” di dalamnya yang dikirim ke Twitter, layanan pesan pendek yang semula dianggap keanehan, tetapi kini dalam dua tahun berhasil tumbuh menjadi satu panggung berita (news platform).

Pesan-pesan tersebut dan juga lainnya yang dikirim melalui situs web dan juga situs yang digunakan untuk berbagi foto memang terkesan kacau. Namun, itu rupanya sangat berarti untuk menghubungkan orang dari berbagi tempat di dunia.

Sebenarnya apa keunggulan yang ditawarkan media baru ini?

Melalui Twitter, seseorang mendapat umpan (feed) dari banyak orang
dalam satu waktu. Selain itu, jurnalis warga juga bisa menghindar dari
aturan birokrasi yang dihadapi organisasi media. Misalnya saja batas
waktu transmisi video langsung seperti yang dihadapi CNN, yang membuat
reporternya lalu hanya bisa mengirim laporan via telepon, padahal
stasiun TV berita, seperti CNN, amat mengandalkan gambar video.
Sementara kamera dan telepon yang dibawa warga lain, termasuk jurnalis
warga, tidak terikat dengan aturan di atas.

Informasi yang dikirim jurnalis warga ini diakui besar artinya pada
tahap awal krisis, khususnya ketika informasi resmi baik dari
pemerintah maupun media utama masih berusaha menaksir seberapa luas
skala serangan.

Informasi tersebut barangkali sedikit, tetapi informasi yang sedikit,
menurut guru besar Graduate School of Journalism Columbia University
Sreenath Sreenivasan, lebih baik daripada tidak ada informasi sama sekali.

Masa depan internet

Dari uraian di atas tampak internet memegang peranan penting dalam
munculnya dimensi baru jurnalisme.

Mereka yang akrab dengan sejarah internet mengetahui bahwa medium ini
tumbuh dan berkembang bisa dikatakan bukan sebagai produk akhir.
Internet sebagai bukan produk akhir memberi kesempatan luas bagi siapa
pun untuk berkreasi di atasnya. Pebisnis dan penemu bisa
menggunakannya sebagai papan lontar untuk inovasi selanjutnya.

Kini, ketika internet telah menjadi media utama, muncul desakan untuk
mengubahnya menjadi sistem yang sudah mereka kalahkan, yaitu dengan
jalan membuatnya tertutup. Artinya, nanti akan tidak ada lagi peluang
bagi pihak luar untuk “main-main” atau merekayasa (tinkering) sistem
jaringan ini. Kalaupun tidak sepenuhnya, peluang untuk itu hanya akan
dibuka sedikit, di bawah pengawasan ketat (Jonathan Zittrain, “The
Internet is Closing”, Newsweek, 8/12)

Alasan keamanan

Perubahan yang akan terjadi itu sebagian karena adanya kebutuhan untuk
menjawab masalah keamanan yang memang biasanya muncul pada teknologi
terbuka. Sebagian alasan lain adalah karena bisnis.

Namun, upaya untuk mengubah sistem terbuka menjadi sistem tertutup
diperkirakan akan memunculkan inovasi baru yang lazimnya muncul dari
akibat tak terduga aktivitas otak- atik, yang sejauh ini telah memberi
kita web, pesan cepat (instant messaging), jaringan langsung ke pihak
tertentu (peer- to-peer networking), Wikipedia, dan sejumlah inovasi lain.

Langkah penutupan juga akan memunculkan penjaga gawang, yang akan
membuat kita, tetapi juga mereka, tawanan bagi rencana bisnis yang
terbatas dan juga regulator yang umumnya takut pada hal-hal baru yang
mengguncangkan.

Kemungkinan di atas bisa jadi akan menimbulkan gelombang balik yang
mengguncangkan. Bisa kita bayangkan berapa harga yang harus dibayar
untuk berbagai sistem tertutup yang akan diperkenalkan, sementara
pilihan teknologi dan aplikasi mungkin juga akan lebih terbatas.

Namun, konsekuensi hilangnya kreativitas yang selama ini banyak dipicu
dengan bebas dan terbukanya internet boleh jadi yang paling mendalam.
Kita menilai bahwa internet yang kita kenal selama ini adalah salah
satu pembentuk peradaban terbuka dan demokratis yang cocok dengan
zaman dan gaya hidup abad ke-21.

Sumber: Kompas