Blog Pendidik


3 Comments

Agar Hidup Terasa Makmur

perokok miskin

Bangun tidur
Yang dicarinya asap
dihisap agar tak lelap
agar hidup terasa makmur

Sarapan
panganan seadanya
ditutup dengan asap
agar hidup terasa makmur

Saat bekerja
di sela jari selalu terselip
benda penghasil asap
agar hidup terasa makmur

Perjalanan pulang
macet di jalan
jadi tak terasa karena asap
agar hidup terasa makmur

Sebelum tidur
asap yang dicari
dihisap memberi rasa hangat
agar hidup terasa makmur

Terlelap
di teras rumah
dalam gang sempit
karena di dalam penuh penghuni

Bangun tidur
Yang dicarinya asap
dihisap agar tak lelap
agar hidup terasa makmur

Advertisements


1 Comment

Miskin, bego, perokok

perokok-miskin-1

Miskin,
Bego,
Orang miskin karena bego?,
atau orang bego karena miskin?

Orang miskin disekolahin supaya pintar,
Kalau pintar orang miskin itu tak bego lagi,
Orang miskin yang sekolah sepuluh tahun harusnya jadi pintar,
Jika sudah sekolah sepuluh tahun, masih bego dan merokok,
jadilah dia orang miskin yang bego dan perokok.

  1. Saya punya cerita pendek sekali berjudul: Miskin, bego, perokok

Seorang murid tertangkap basah merokok di toilet sekolah, berikut ini cuplikan pembicaraan Guru dan murid tersebut:

“Berapa batang sehari kamu merokok?” tanya Guru.

“Empat sampai lima batang sehari Pak” jawab murid.

Sambil menyiapkan surat panggilan kepada orang tua guru itu bilang, “Besok orang tua kamu diundang ke sekolah, harus membuat pernyataan di atas materai”.

Murid itu terdiam, matanya mulai berair, dia menangis, “Orang tua saya sedang sakit, … ga punya uang Pak”.

Pak Guru terkejut, “Lho ko bisa … orang tuamu miskin, tak punya uang, bagaimana bisa kamu merokok 4 sampi 5 batang sehari?”

“Saya dikasih teman rokoknya, Pak” lanjut murid sambil menangis.

“Gini aja ya mas, mulai saat ini kalau ada temanmu yang memberi rokok, jangan kamu hisap, jika temanmu bertanya, katakan saja kamu baru merokok dan buat nanti saja dihisapnya, kemudian rokok itu kamu jual lebih murah dari harga di warung kepada temanmu yang lain, agar uangnya bisa untuk membeli materai besok”.

Guru itu melanjutkan, “Dengan cara yang sama, kamu juga bisa menabung untuk membeli sepeda motor dari rokok yang diberi teman, tidak nikin kamu sakit, ketangkap piket di toilet sekolah atau tidak penyakitan dan mati”.

Bagaimana menurut Anda?


2 Comments

Mental peminta-minta; dia slalu merasa miskin

Dia tak berbaju lusuh apalagi rombeng
Penampilannya trendi
Kendaraanya berkilap
Omongannya tinggi

Dia memang tak minta-minta uang di jalan
Tapi dia selalu menghitung setiap kerja
Dan meminta tips untuk setiap yang dikerjakan
Di luar gaji yang setiap bulan dia terima

Bekerja asal-asalan
Selalu meminta petunjuk
Selalu meminta contoh
Selalu meminta dipanggil
Selalu meminta diajak bicara
Seperti anak kecil yang meminta perhatian

Terbiasa meminta
Dia jadi tak terbiasa memberi
Tak bisa memberi perhatian buat teman
Tak peduli pekerjaan menumpuk
Tak mencoba memberi manfaat buat sesama

Buat dia
Setiap kerja harus ada SK nya
Perhatikan deh, dia selalu merasa miskin
Karena yang kaya selalu memberi


3 Comments

Kontribusi industri rokok tak sebesar yang didengungkan, malah memiskinkan

mlive.com

Pada training-training saya, banyak pertanyaan “jika rokok berbahaya buat kesehatan, kenapa pabrik rokok tak ditutup?” … saya hampir selalu menjawab bahwa perusahaan rokok membawa dampak positif buat banyak fihak negeri ini …. ternyata jawaban saya itu keliru.

Sesungguhnya kontribusi industri rokok tak sebesar yang didengungkan, demikian diungkap peneliti dari UI, begini selengkapnya, spt yang dilansir detik.com.

“Kontribusi industri rokok terhadap perekonomian nasional sering dipakai sebagai argumen untuk tidak melarang penjualan dan peredaran rokok di Indonesia. Akan tetapi, sesungguhnya sumbangan industri rokok terhadap perekonomian Indonesia itu tidak sebesar yang didengungkan.

“Kita bagi kontribusi itu terhadap PDB, secara tenaga kerja, dan secara cukai,” kata peneliti dari Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Abdillah Ahsan, usai mengikuti pertemuan Komisi Nasional Pengendalian Tembakau dengan Wapres Boediono di Kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (12/11/2010).

grinningplanet.com

Dimulai dari cukai terlebih dahulu, Abdillah mengatakan, cukai rokok sebetulnya bukan perusahaan rokok yang membayar, melainkan pembeli atau perokok. Artinya. pembayaran cukai itu dibebankan kepada konsumen, sehingga para perokoklah yang memberi sumbangan terhadap penerimaan negara.

Penerimaan negara dari cukai ini, ia menghitung sekitar Rp 56 triliun. Namun, jumlah tersebut hanya 5-7 persen dari seluruh penerimaan negara yang tahun ini berjumlah lebih dari Rp 1.000 triliun.

Kedua, sumbangan dalam bentuk pendapatan domestik bruto (PDB). Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 1995-2005, diketahui sumbangan dari industri rokok menurun. Ia mengaku tidak ingat secara pasti angka penurunan tersebut, namun sekitar 2 hingga 1 persen.

“Sehingga itu tidak sebesar yang diklaim oleh industri rokok,” katanya.

Industri rokok, lanjutnya, selama ini hanya terpusat di Jawa Tengah, Jawa Timur, sedikit di Yogyakarta, Jawa Barat, dan Sumatera Utara. Artinya, dari 33 provinsi di Indonesia, hanya 28 daerah yang menjadi tempat memproduksi rokok.

Lalu mengenai lahan pertanian tembakau, menurut Abdillah, 90 persennya berpusat di Jatim dan Jateng juga. Itu pun tidak semua kabupaten di Jatim menanam tembakau dan memproduksi rokok. Hanya di sentral-sentral tertentu saja.

Bagaimana sumbangan industri rokok dalam hal penyerapan tenaga kerja? Abdillah menghitung, untuk tenaga kerja langsung, jumlah pekerja di industri rokok hanya sekitar 300 ribuan saja se-Indonesia. Sedangkan petani tembakau berjumlah 500 ribuan berdasarkan data BPS.

“Kenapa angka yang disodorkan dari industri rokok jauh lebih banyak? Karena mereka juga menghitung tenaga kerja tidak langsung kemudian dikalikan dengan jumlah anggota rumah tangga yg ditanggung. Jadi kalau satu petani tembakau menanggung 4 orang, maka yang dihitung 4 petani tembakau. Jadi dinaikkan seperti itu,” tutupnya.”

Status fesbuk saya pagi ini bertajuk:

rokok menghajar sistem & strutur syaraf pusat atau otak, maka pecandunya terkapar, tak berdaya, tak terasa untuk selalu menghisapnya agar terasa nyaman hidupnya, tergantung seumur hidup, merusak organ tubuh dan memperkaya pengusaha rokok hingga menjadi orag terkaya di dunia sementara perokoknya makin miskin & sakit-sakitan … am happy not smoking

Selamat pagi Pembaca … semoga anda tak merokok  saat ini?, terima kasih telah berkunjung ke blog saya semoga anda dalam sehat dan sukses selalu, ini posting ke 1.316 sejak Nopember 2005.

Tulisan terkait:

Hai Para Perokok, Bersiaplah jadi Miskin


2 Comments

Hai Para Perokok, Bersiaplah jadi Miskin

tempointeraktif.com

Lho koq gitu? bagaimana bisa? … silahkan simak tulisan yang diungkap detik.com ini hari.

“Sebagian besar perokok di Indonesia adalah golongan masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan. Karena itu, cara mengentaskan kemiskinan pun cukup dilakukan dengan mengedalikan rokok yang mereka konsumsi setiap harinya.

“Apabila kita ingin mengentaskan kemiskinan, masalah rokok harus ditanggulangi sebaik-baiknya,” kata Ketua Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Farid Anfasa Moeloek, dalam jumpa pers usai bertemu Wakil Presiden Boediono di Kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (12/10/2010).

Menurut Moeloek, rokok masuk dalam daftar konsumsi masyarakat miskin nomor dua setelah padi-padian. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli rokok ini bahkan lebih besar dari ongkos pendidikan bagi anak-anak mereka.

Besarnya uang yang dialokasikan untuk membeli rokok membuat mereka tidak bisa membeli makanan-makanan yang bergizi. Sehingga, dampak rokok pun merembet kepada menurunnya kualitas perkembangan anak-anak keluarga miskin.

“Jadi anak-anak yang seharusnya mendapat protein, dapat daging, telur, ini tidak dapat. Hal itu akan membuat kerusakan pada otak anak yang sedang berkembang. Mereka akhirnya tidak bisa menjadi orang-orang yang pandai,” kata mantan Menteri Kesehatan itu.

Peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Abdillah Ahsan, pada kesempatan yang sama mengatakan, 60 persen rumah tangga dari 34 juta penduduk miskin mengalokasikan pengeluarannya untuk membeli rokok. Bila dihitung secara individu, jumlah perokok dari golongan miskin itu berjumlah 12 juta, atau 30 persen dari 34 juta penduduk miskin.

grinningplanet.com

Ia juga menjelaskan, dampak rokok bisa membuat orang miskin selamanya akan miskin. “Bayangkan saja, orang miskin merokok lalu sakit. Untuk berobat duit sendiri nggak punya terus meminjam. Akhirnya dia terjebak dalam kemiskinan,” tutupnya.”