Podcast Pak Dedi di Spotify

Saya membuat podcast (siniar) menggunakan aplikasi anchor, ternyata mantap sekali … produk podcast saya bisa disimak di berbagai platform, kamu punya podcast?

Di bawah ini, penampakan podcast saya di spotify, selamat menikmati.

Gap Year Anak Kecil

Gap year adalah istilah yang populer digunakan alumni SMA yang memutuskan mengambil setahun tak kuliah atau tak kerja, umumnya mereka memilih belajar secara mandiri atau mengikuti bimbingan belajar agar bisa menyiapkan diri untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi dan jurusan yang diinginkan.

Ibu Juleha, penduduk ibukota negeri paman besut yang sudah ditinggal suaminya menghadap sang pencipta memiliki dua orang anak, yang  sulung tamat SMP, sedangkan yang bungsu tamat SD.

Kedua anak Juleha tak bisa masuk ke SMA dan SMP negeri di dekat rumahnya karena umur keduanya masih muda, yang tertua berusia 15 tahun dan bungsu berusia 12 tahun, di kotanya anak yang berusia 20 tahun akan sangat nyaman bisa memilih SMA negeri dimanapun sesuai zonasinya karena dia menang sebagai peserta seleksi tertua dan namanya bertengger di urutan teratas daftar murid yang diterima di SMA negeri.

Juleha bekerja menjadi buruh cuci setrika di tiga rumah sejak pagi hingga hari menjelang malam,  penghasilannya hanya cukup untuk biaya makan dan sandang sehari-hari, sangat sulit Juleha menyisihkan uang untuk menabung menyiapkan biaya pendidikan untuk anaknya, walau Juleha tahu bahwa sulit untuk bisa masuk sekolah negeri, sementara bersekolah di swasta dia tak mampu membayar uang pangkal dan iuran bulanannya.

Tempat tinggal Juleha di daerah pemukiman padat sementara jumlah sekolah negeri sangat sedikit, sehingga yang diterima di sekolah terdekat adalah anak-anak yang umurnya diatas 16 tahun untuk SMA negeri dan diatas 13 tahun untuk SMP negeri.

Beruntung sekali Juleha berhasil memberi pengertian kedua anaknya untuk mau gap year selama setahun kedepan dan mencoba keberuntungan bersaing masuk sekolah negeri di tahun depan.

Setiap pagi kedua anak Juleha bermain di sekitar rumahnya, tapi tak banyak teman bermain di sekitar rumah karena anak-anak seusianya kebanyakan bersekolah di pagi hari. Kedua anak Juleha hanya bermain berdua di sekitar rumahnya, jika lelah mereka pulang untuk menonton televisi. Saat makan siang Juleha selalu berusaha pulang ke rumah setelah membeli makanan matang di sekitar tempat kerjanya, makan bersama kedua anaknya dan kembali pergi bekerja cuci setrika ke rumah yang kedua.

Juleha dulu tak sekolah, sehingga dia tak punya kemampuan untuk memberikan pelajaran kepada kedua anaknya. Anak-anaknya pun tahu bahwa seleksi masuk sekolah jalur zonasi SMA dan SMP tak menggunakan nilai hasil belajar, patokannya hanya lokasi tempat tinggal dan umur, jadi mereka fikir tak perlu belajar, karena semua buku sudah dijual ke tukang loak dan uangnya sudah habis untuk biaya makan sehari-hari.

Gap year di masa lalu umumnya dijalani alumni SMA yang sudah dewasa yang tak diterima di perguruan tinggi, sekarang gap year jadi miliknya anak-anak kecil yang baru lulus SD dan SMP, kalo kamu?

Pelajar Tak Mau Belajar

pixabay.com

Pak Mustopa mengajar di sebuah sekolah dasar swasta di Negeri Paman Besut, dia memiliki dua orang anak, yang pertama sudah selesai menempuh pendidikan di sebuah politeknik negeri dan yang kedua masih bersekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Sembilan tahun yang lalu, Pak Mustopa sangat bahagia melihat anak pertamanya rajin belajar setiap hari. Selesai makan malam anak pertamanya selalu terlihat tekun belajar karena anak sulungnya memiliki obsesi untuk kuliah di Politeknik Negeri ternama di Negeri Paman Besut.

Akhir-akhir ini Pak Mustopa prihatin melihat anak keduanya yang setiap malam asik memainkan gawai dengan earphone di kedua telinganya, sibuk main game online dengan teman-temannya hingga tengah malam lewat.

Berkali-kali Pak Mustopa mengingatkan kepada anak keduanya agar rajin belajar untuk persiapan menghadapi ujian, anaknya menjawab,

“Tenang saja Pak, umur Saya lebih tua dari kebanyakan anak SMP sekarang, Saya pasti diterima di SMP negeri manapun yang saya mau.”

Pak Mustopa hanya bisa menarik nafas, sedih tapi tak bisa memaksa karena anaknya tak mau belajar dengan alasan yang amat sangat menohok dirinya sebagai guru.

Seleksi masuk sekolah negeri dengan perimbangan umur?

Ya, di Negeri Paman Besut sejak tahun kemarin sistem penerimaan murid baru SMA sebagian besar menampung murid dengan standar umur, makin tua umur seorang calon murid baru maka makin besar peluangnya untuk diterima di sekolah negeri. Di sebuah SMA negeri paman besut ada murid baru SMA yang diterima berusia 20 tahun, 10 bulan, 8 hari per 1 Juli 2021.

Ada jalur prestasi yang menggunakan pertimbangan nilai atau prestasi anak selama di SMP. Pada jalur zonasi selain faktor lokasi tempat tinggal, faktor umur menjadi penentu diterima atau tidaknya seorang murid di sekolah negeri yang dituju.

Rupanya anak-anak sudah faham sistem yang digunakan dan sebagai pelajar mereka merasa tak perlu belajar, karena nilai tak hanya menjadi satu-satunya pertimbangan penerimaan murid baru, tetapi umur dia akan menjadi penentunya. Mereka menganggap pelajar tak perlu belajar.

Podcast Pak Dedi: Sekolah Favorit

Di podcast kali ini saya menceritakan bagaimana proses lahir sekolah favorit di negeri paman besut, kalo sekolah kamu?

Apakah yang dimaksud dengan Podcast? Dalam Bahasa Indonesia Podcast diartikan dengan kata Siniar, istilah “podcasting” pertama kali muncul dalam sebuah karangan artikel oleh Ben Hammersley di surat kabar The Guardian pada Februari 2004, bersama dengan istilah lain yang diusulkan untuk menamakan teknologi baru ini. “Podcast” merupakan lakuran kata “pod” — “playable on demand” (dimainkan atas permintaan), yang kelak digunakan Apple Computer (sekarang Apple) untuk merek pemutar-media-saku (portable media playeriPod — dan “broadcasting” (penyiaran). Nama ini dapat menyesatkan, karena siniar dapat digunakan tanpa iPod, atau bentuk pemutar-media-saku lain; isi-kandungannya dapat diperoleh dengan komputer yang dapat memainkan berkas media. Penggunaan istilah “podcast” mendahului adanya dukungan asal (native support) untuk layanan siniar bagi iPod, atau perangkat lunak Apple iTunes. Untuk menghindari keterkaitannya dengan istilah “iPod”, beberapa orang memakai istilah “netcast” sebagai pengganti “podcast“, seperti siniarwan (podcaster) TWiT.tv Leo Laporte. Singkata balik (backronym) telah diusulkan supaya “podcast” dapat diuraikan sebagai “personal odemand broadcast” (penyiaran atas permintaan pribadi).

Podcast mungkin baru terdengar gaungnya di Indonesia, tetapi telah lama dikenal di dunia. Pada 2004, The Guardian menyebutnya sebagai “audible revolution”. Sejak 2014, pendengar podcast melalui ponsel naik hingga 157%. Tentunya ada pula yang mendengar melalui perangkat lain seperti tablet atau komputer. Sepuluh besar negara dengan pendengar podcast terbanyak adalah Korea Selatan, Spanyol, Swedia, Australia, Amerika, Italia, Kanada, Prancis, Jepang, dan Jerman. Genre terpopuler yang didengarkan di Korea Selatan adalah berita dan politik, musik, komedi, film, dan bahasa. Pendengar di genre politik sendiri mencapai 35,2%. Bisa dibilang podcast dianggap sebagai konten yang cukup kredibel untuk menjadi sumber berita meski penyiarnya bisa jadi individu, bukan organisasi tertentu.

Studi lain menyebutkan bahwa ada 51% dari total populasi penduduk Amerika yang menjadi pendengar podcast. Lima tema besar yang populer di Amerika adalah budaya, bisnis, komedi, berita dan politik, serta kesehatan. Mayoritas pendengar berusia 25 hingga 34 tahun. Artinya medium ini populer di kalangan muda. Bila dibandingkan dengan kelompok pendengar usia 65 tahun ke atas, jumlahnya hanya mencapai 6%. Hal ini bisa jadi karena kalangan muda lebih banyak menggunakan internet juga beragam perangkat teknologi komunikasi. Podcast belum cukup ramah untuk lansia.

Bagaimana dengan tren pengguna podcast di Indonesia? Ada 67,97% yang mengaku familiar dengan podcast. Dari jumlah itu, 80,82% mendengarkan podcast dalam enam bulan terakhir. Namun bukan berarti mereka adalah mendengarkan podcast secara intens. Separuh dari responden mengakui belum yakin untuk mendengarkan podcast secara reguler. Mayoritas juga mengakan idealnya durasi podcast mencapai 10 hingga 20 menit saja.

Beberapa podcaster mendapatkan penghasilan dari mengiklanan sendiri produk maupun jasa yang ia buat. Ia juga dapat menawarkan semacam meet and greet sehingga pendengar dapat melihatnya langsung ketika podcaster berbicara. Persis seperti menonton seminar atau kuliah umum.

Seperti instagram, kamu bisa follow akun Siniar saya dan bisa memberi respon berupa tepuk tangan, atau siaran bareng.

Wisata Mudik

https://simakterus.com/

Di Negeri Paman Besut, menjelang lebaran petugas keamanan melakukan razia terhadap kendaraan pribadi dan angkuan umum antar kota antar propinsi diberhentikan di batas kota karena para punggawa Negeri Paman Besut melarang warganya mudik atau pulang kampung, kendaraan yang mengangkut pemudik diperintahkan putar balik kembali ke daerah asal.

Para punggawa negeri telah mengumumkan jauh-jauh hari kepada seluruh penduduk negeri mengenai larangan mudik dan pulang kampung, diumumkan pula bahwa tempat rekreasi dan wisata diperbolehkan beroperasi dengan berbagai persyaratan dan protokol. 

Sudah menjadi budaya dan tradisi setahun sekali, warga negeri paman besut pulang kampung untuk merayakan lebaran bersama keluarga di kampung halaman, mereka yang mencari nafkah di kota-kota besar se antero negeri punya organisasi atau komunitas, hal ini memudahkan mereka mengorganisir kegiatan lebaran setiap tahun.

Gito: “Bagaimana rencana mudik kita?”

Yono: “Tenaaaang, ketua pagoyuban kita sudah mencarter bis pariwisata yang bagus, nyaman untuk antar jemput kita sebelum dan sesudah lebaran”

Ternyata, saat puncak arus mudik dan arus balik lebaran, di semua jalan tol dan jalan arteri yang menghubungkan antar kota tak ada lagi lalu lalang angkutan umum, semua bis yang lalu lalang bertuliskan “Pariwisata”, dan aparat keamanan tak menghentikan bis-bis yang hendak mengantarkan turis mengunjungi objek wisata jauh di luar kota.

Beberapa bis diberhentikan dan penumpangnya diperiksa karena dicurigai mereka bukan hendak berwisata tetapi hendak pulang kampung dan mudik lebaran, supir dan kernet bis saat ditanya tujuannya menjawab mereka menuju ke destinasi wisata favorit di ujung pulau terbesar negeri paman besut. Ketika diperiksa bawaan dan bagasi, tak ditemukan kardus-kardus atau tas bawaan pakaian untuk di kampung halaman, karena barang bawaan sudah dikirim melalui jasa ekspedisi secara terpisah dengan pemiliknya, sehingga di bis pariwisata hanya ada barang-barang yang diperlukan sepanjang perjalanan.

Bis-bis yang biasa melayani trayek antar kota dengan nama-nama tertentu, kini tak ada lagi, semua berganti tulisan dengan stiker besar bertuliskan “pariwisata”, demikian juga bis-bis kecil travel yang menembus desa-desa terpencil kini berstiker “pariwisata”.

Negeri paman besut seolah sedang mengadakan festival pariwata bersama, jalan antar kota penuh dengan angkutan “pariwisata”, lokasi-lokasi wisata pun dipenuhi oleh penduduk yang datang bersama rombongan dari desa menggunakan bus “pariwisata”, mereka bergembira menikmati indahnya alam sambil menikmati kuliner negeri yang beraneka, untuk melupakan sejenak kepenatan dan penderitaan mencari penghasilan di kota-kota besar.

Podcast Lebaran 2020

Here’s a show for you… SELAMAT IEDUL FITRI 1441 H, TAQOBALLAH MINNA WA MINKUM episode of Negeri Paman Besut https://open.spotify.com/episode/2S1PN3KCiRc3UnAOojz1ah?si=w2vVVa3oToS1LrksX4OmuQ

Miskin Settingan

poor
Foto: pixabay.com

Di negeri Paman Besut banyak warganya yang berpura-pura miskin, saat mengandung dicarinya surat keterangan tak mampu agar bisa melahirkan di rumah sakit tanpa biaya alias gratis.

Pekerjaan suami disembunyikan, tetangga dan sanak keluarga tak boleh tahu, sengaja tinggal di tempat yang kumuh agar status tak mampu bisa terus dimanfaatkan memperoleh pelayanan kesehatan saat anggota keluarganya sakit.

Saat anaknya akan bersekolah, surat keterangan tak mampu kembali digunakan untuk memperoleh jalur khusus diterima di sekolah favorit dekat rumah. Berlanjut dengan meminta beasiswa berkedok kartu paman pintar yang uangnya cair tiga bulan sekali, atai enam bulan sekali bisa untuk membeli seragam sekolah, buku, beras, daging, termasuk pakaian orang tuanya, dsb.

Sampai anak-anaknya di SLTA (Sekolah lanjutan Tingkat Atas) banyak keluarga negeri paman besut terus berpura-pura miskin untuk menerima berbagai fasilitas dan kemudahan dari negara.

Memasuki perguruan tinggi, keluarga itu masih menggunakan surat keterangan tidak mempu untuk medapatkan kemudahan masuk perguruan tinggi dan beasiswa dari negara, hingga lulus kuliah.

Ayahnya bekerja, memiliki penghasilan dengan bekerja serabutan, penghasilannya digunakan untuk membiayai kehidupan keluarga dan sisanya ditabung di bank, setelah menabung bertahun-tahun uangnya semakin banyak tetapi kepala keluarga itu tak berani membeli aset, seperti sepeda motor karena takut masuk kategori tidak miskin lagi dan tidak mendapat fasilitas-fasilitas kartu paman pintar yang sudah dinikmati semua anak-anaknya selama bertahun-tahun. Keluarga itu pun tetap tinggal di lingkungan yang kumuh agar predikat miskin bisa selalu diperoleh untuk mendapat fasilitas kartu paman pintar dan fasilitas negara lainnya.

Fasilitas kartu paman pintar dicabut jika diketahui dalam satu kartu keluarga memiliki beberapa unit sepeda motor, sementara berapapun simpanan sebuah keluarga di bank tak membuat fasilitas kartu paman pintar dan fasilitas negara lainnya diberhentikan.

Menikmati Pilkada Negeri Paman Besut: ada peningkatan konsumsi rokok?

Calon pertama

Di Negeri Paman Besut, seorang yang berniat mencalonkan diri jadi kepala daerah berusaha menjadi bahan berita setiap hari, kabar tentang apa yang dikerjakan setiap hari harus selalu jadi bahan berita koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb. Karena dia berambisi untuk ikut pemilihan kepala daerah maka berbagai cara dilakukan agar namanya jadi bahan berita koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb setiap hari, jika forum rapat terbatas, orang itu akan meminta stafnya atau orang lain untuk mendokumentasikan dan diedarkan menjadi bahan berita koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb, untuk media sosial seperti facebook, twitter, instagram, youtube, dsb bisa dilakukan siapa saja, dimana saja asal memiliki akses internet tanpa biaya alias gratis.

Setiap hari, apapun yang dilakukan orang itu selalu menghiasi berita koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb yang jika dijumlahkan dalam setahun, jutaan kabar berita tentang orang itu berkelebat di berita koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb. Upaya menggalang dukungan berupa fotokopi KTP dan pengisian formulir dukungan  dilakukan sejak jauh-jauh hari hingga memperoleh jutaan dukungan yang membuat banyak partai politik jatuh hati dan memberi dukungan walau sang calon awalnya menyatakan enggan mencari dukungan partai untuk maju sebagai calon kepala daerah dan mengandalkan dukungan teman-temannya melalui jalur independen.

Calon-calon yang tenggelam

Ada beberapa tokoh partai politik yang secara malu-malu atau terang-terangan menyatakan keinginan untuk maju mencalonkan diri jadi kepala daerah, tetapi akhirnya mereka harus menunggu keputusan partai politik yang punya hak untuk mengajukan calon kepala daerah. Para ketua partai pun yang awalnya berminat mencalonkan diri akhirnya harus tau diri dan menerima apapun keputusan ketua umum partainya. Mereka sangat faham benar sistem kenegaraan di negeri paman besut sehingga mereka merasa tak perlu mempromosikan dirinya melalui berita-berita di koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb karena kabarnya perlu biaya yang sangat mahal.

Calon kedua

Seorang pengusaha yang gemar berpetualang dan punya fisik yang prima karena suka berolah raga dan punya kekayaan yang selevel dengan dana APBD sebuah propinsi entah merasa terpanggil atau didorong oleh fihak lain secara serius ddan konsisten menyatakan niatnya maju sebagai calon kepala daerah dan melakukan pendekatan kepada berbagai partai politik di negerinya, rupanya nilai jual pengusaha ini tak terlalu moncer sehingga lama sekali tak memperoleh dukungan secara penuh dari partai politik hingga mendekati deadline pencalonan atau mungkin partai politik menilai kemungkinan terpilihnya pengusaha ini sangat kecil sehingga sulit memenangkan pertarungan. Dia sudah berusaha memanfaatkan koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb untuk mengekspose visi-misinya sebagai calon kepala daerah, tetapi tetap saja dukungan belum fix berfihak padanya, anda tahu kenapa?.

Pilkada di negeri paman besut merupakan ajang perebutan kekuasaan partai-partai politik yang telah membuat peta dan analisis tentang profil-profil orang yang bisa didukung untuk menjadi calon kepala daerah dan punya peluang yang besar untuk memenangkan pemilihan kepala daerah.

Calon-calon dipaksa

Hingga hari terakhir pencalonan yang harus diajukan beberapa partai masih belum memutuskan calon yang akan diusung, hingga detik-detik terakhir batas waktu beberapa partai bergabung mengusung calon yang tak diprediksi sama sekali untuk maju, kecuali calon kedua yang disandingkan dengan calon lain sebagai wakil.

Partai-partai seperti tak punya kader yang punya nilai jual sehingga mendukung orang-orang yang sama sekali tak terduga, bahkan ada lawan politik yang pernah bersebrangan dengan partai itu saat pemilihan calon presiden didukung maju sebagai calon dari partai.

Pemenang pilkada

Jika calon pertama memenangkan pilkada dengan satu atau dua putaran bisa jadi sebagai buah kerja keras plus membentuk citra lewat berita koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb sehingga penduduk terpesona oleh dirinya. Sementara jika kalah, betapa energi dan sumber daya yang luar biasa banyak telah dikerahkan tak cukup menarik hati dan minat pemilih untuk menusuk fotonya di dalam bilik suara. Walau memang ada peristiwa yang berawal dari bahan berita koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb yang menjungkirkan citra dirinya dan menurunkan elektabilitas berdasarkan riset banyak lembaga survey di negeri paman besut.

Jika calon kedua dan calon dipaksa berhasil menang mungkin jadi potret penduduk negeri yang mudah digiring oleh gempuran berita koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb. Seperti calon pertama yang mempesona karena bombing berita di media kemudian jatuh oleh bombing berita koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb.

Tentang calon dipaksa yang masih muda itu saya kira masih belum punya nilai jual tinggi  untuk dipilih apalagi pendampingnya juga terkena bombing bahan berita koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb berhubungan dengan kasus korupsi di masa lalunya.

Jika calon dipaksa yang masih muda itu menang, mungkin beliau akan repot karena jam terbang sebagai birokrasi masih harus diuji sementara senior yang akan diandalkan harus menguatkan daya tahan hadapi gempuran aparat penumpas korupsi.

perokok

Saya menikmati pilkada melihat rakyat yang datang ke lokasi pemungutan suara sambil merokok, termasuk panitia pemilihan yang merokok, karena biasanya ada sponsor yang menyediakan konsumsi termasuk rokok untuk menemani kerja petugas, rakyat libur sehingga bisa merokok lebih banyak, lebih bebas (karena di kantor atau tempat kerja dilarang), kalau ada yang riset mungkin pada hari itu ada peningkatan konsumsi rokok?

Selamat berpesta saudaraku … tetaplah damai dalam beda yang banyak.

Seragam sekolah buat Murid yang hamil, siapa yang mau membuat disainnya?

image

Di sebuah sekolah di Negeri Paman Besut, seorang murid perempuan beberapa hari tak masuk sekolah, walikelasnya memanggil orang tua murid untuk mencari tahu kenapa murid itu tak masuk sekolah.

Orang tua murid datang memenuhi panggilan, diterima oleh wali kelas dan guru BK, orang tua murid menceritakan sambil menangis bahwa anak gadisnya yang berusia 16 tahun tak lagi mau bersekolah karena sudah hamil, menikah dan tinggal bersama suaminya di luar kota. Orang tua itu terlihat sangat terpukul oleh kejadian yang menimpa anak perempuannya, bliau marah hingga tak mau menghadiri acara pernikahan anaknya, kemudian orang tua murid itu membuat surat pernyataan bahwa putrinya keluar atau berhenti dari sekolah.

Masalahnya seperti selesai dengan keluarnya murid perempuan itu, ada peristiwa lain dimana murid yang hamil saat menjelang ujian, dan murid itu berkeras untuk mengikuti ujian dengan perut buncitnya yang tak bisa disembunyikan lagi
karena orang tua murid itu juga meminta agar anaknya bisa menyelesaikan ujian di sekolahnya.

Remaja umur belasan tahun, masih sekolah, hamil di luar nikah …
Sispa yang salah?
Orang tua?
Teman lelakinya?
Tetangga?
Sekolah?
Guru?
Teman sekolahnya?
Sosial media?
Televisi?

Jika murid kelas sepuluh hamil, dan dia berkeras hati tetap ingin sekolah, menurut Anda, apakah murid itu dibiarkan sekolah dengan perut buncit?, bagaimana ketika jadwal pelajaran olah raga?, apakah perlu ada disain khusus baju seragam untuk pelajar putri yang hamil?, setelah melahirkan bolehkah murid itu cuti melahirkan seperti karyawati di perusahaan?, artinya perlu dibuat peraturan baru tentang hak pelajar wanita yang hamil?.

Bagaimana dengan lelaki yang menghamili?
Jika dia bertanggung jawab, masihkan boleh bersekolah?
Jika dia tak mau bertanggung jawab, sementara si wanita yakin bahwa dia pelakunya?
Jika dinikahkan, lalu mereka berumah tangga, masih boleh sekolah?

Kenapa saya menulis ini? Kabarnya penduduk negeri Paman Besut itu sedang gemar mengagungkan hak azasi manusia, ketika ada guru yang mencukur anak muridnya untuk merapihkan dan mendisiplinkan, guru itu dilaporkan oleh orang tua murid ke polisi hingga divonis bersalah, walaupun vonis itu dibatalkan oleh Mahkamah Agung negeri itu beberapa tahun kemudian.

Ada peristiwa murid membawa senjata tajam, melakukan tawuran, saat dikeluarkan oleh sekolah, orangtuanya menggugat mengunakan pengacara, berlandaskan hukum bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan, melaporkan ke Polisi, membuat warga sekolah bertambah pekerjaan menghadapi kasus hukum, diliput media, dipanggil oleh Dinas Pendidikan atau Pemda, dalam rentang waktu yang panjang itu sangat melelahkan menguras energi dan biaya, sehingga membiarkan murid pembawa clurit, pelaku tawuran yang sudah dikeluarkan itu kembali bersekolah.

Bagaiamana sekolah di negeri kamu?

Mendidik warga melanggar hukum

diskusi-anak-motor-55e504784123bdd5359691e1

Di Negeri Paman Besut, orang tua merokok di sembarang tempat di rumah atau dimana saja, walaupun ada anak-anak mereka. Padahal ada Peraturan Daerah yang melarang semua orang penduduk negeri ibukota paman besut merokok, sejak kecil anak dibiasakan melihat orang tuanya melanggar hukum  maka anak-anak itupun menjadi perokok pada usia yang sangat muda tanpa merasa ada hukum yang dilanggar.

Sejak sekolah dasar anak sudah diajarkan mengendarai sepeda motor, terbiasa melihat anggota keluarga lainnya naik motor tanpa helm & tanpa memiliki SIM serta cerita-cerita berkelit atau berdamai dengan polisi ketika ada razia di jalan. Anak-anak itu kemudian menjadi terbiasa naik motor tanpa helm, tak memiliki SIM atau berkendara sesuka hati di jalan tanpa merasa ada peraturan yang dilanggar.

Dengan berbagai alasan anak-anak yang bersekolah di SLTP & SLTA membawa sepeda motor ke sekolah, dan sekolah menyiapkan tempat parkir serta petugasnya seolah lupa bahwa sekolah seharusnya mendidik murid untuk taat hukum dan tak ada instruksi dari Dinas Pendidikan yang mengatur murid bermotor ke sekolah.

Itu hanya beberapa contoh bagaimana keluarga dan sekolah mendidik anak negeri melanggar hukum, pantas jika berita pelanggaran hukum di media massa tak kunjung surut dan kecelakaan laku lintas terus makan korban hingga kematian.

Makin lengkaplah kesalahan fatal institusi negara yg harusnya mendidik karakter baik malah mendidik untuk melanggar hukum: keluarga, sekolah, media.

Beruntunglah anda yang memiliki keluarga yg peduli terhadap pembinaan karakter baik, bersekolah di sekolah yang mendidik karakter baik & taat hukum atau tinggal di lingkungan yang peduli terhadap kebaikan.

Kalau anda jadi guru, bagaimana anda mendidik penerus bangsa?

Dia berharap dibantu Google buat jadi Presiden, kalo kamu?

 
Gubernur negeri paman besut hampir setiap hari membuat pernyataan yang memancing kontroversi di mass media; soal anggaran, pecat pejabat, minuman keras, pelacur, korupsi, banjir, dsb.

Mungkin dia sedang meniru seniornya yang sukses terpilih jadi presiden lewat mengelola mass media & google untuk tingkatkan popularitas dan elektabilitas dirinya, tampaknya gubernur berminat maju jadi calon presiden yang akan datang.

Presiden negeri paman besut meniru keberhasilan presiden negeri paman doblang yang warna kulitnya ungu berhasil terpilih dua kali kerana berteman akrab dengan google lewat pencitraan di mass media.

Coba ukur popularitas pimpinan anda, googling namanya, cari gambar dirinya, googling juga nama anda, seberapa populerkah anda di jagat nyata dan jagat maya?

Anda guru? jika masih banyak murid di sekolah anda yang tak mengenal anda apalagi google?

Jika itu terjadi, mungkin anda harus introspeksi diri tentang komitmen anda dalam bekerja. Supaya hari ini kita lebih baik dari kemarin.

Seragam di Negeri Paman Besut bikin hilang rasa percaya diri

  

Di negeri paman besut orang senang dan cenderung fanatik berseragam, hingga ada yang hilang rasa percaya dirinya ketika tak kenakan seragam yang sama dengan yang lainnya. 

Hal itu terjadi karena sejak dilahirkan, belasan tahun sekolah, saat beli baju baru buat hari raya, kuliah, kerja, dsb … rakyat negeri dibiasakan seragam, hingga pakaian seragam atau kaos kesebelasan se dunia laku keras di negeri paman besut, bahkan tak sedikit yang mengeluarkan uang jutaan kepeng untuk membeli kaos idaman, hingga ke stadion markas kesebelasan favoritnya di negeri yang empat musim itu.

Wajah-wajah pada foto di atas mungkin tak peduli pada warna atau corak seragam hingga tulisan di kaosnya, mereka memakai kostum tergantung kesebelasan dimana mereka bekerja, bermain bola.

Mereka, berlatih, berkompetisi, berprestasi, dsb … soal seragam yang dikenakan itu ga penting. Sementara di negeri paman besut, mati-matian mengupayakan punya & mengenakan seragam tanpa bekerja, latihan, kompetisi & prestasi.

Pake kaosnya aja udah bangga banget, main bola tak bisa, berprestasi ga pernah, seolah mementingkan kulit dibanding isinya. Sementara di negeri lain mereka berprestasi dan berganti sergam sekian waktu sekali karena kontrak kerja & prestasi, punya berapa jersey?

guru & kepala sekolah takut memberikan sangsi, skorsing, apalagi hingga mengeluarkan dari sekolah terhadap kelakuan yang tak bagus itu karena bisa dipolisikan 

  


Foto: ilustrasi

Di negeri paman besut anak sekolah berani melakukan perbuatan kriminal seperti tawuran, pengeroyokan, mencuri, dsb.

Mereka tahu bahwa guru & kepala sekolah takut memberikan sangsi, skorsing, apalagi hingga mengeluarkan dari sekolah terhadap kelakuan yang tak bagus itu karena bisa dipolisikan & dipenjara karena melanggar hukum membuat anak tak mendapat hak pendidikan.

Seaundaunya korban melaporkan ke polisi & pelajar yang jadi pelaku dihukum penjara, anak-anak tenang saja karena mereka tahu bahwa di dalam tahanan mereka bisa ikut ujian sekolah.

Tentang lulus sekolah? anak-anak tahu bahwa guru-guru & kepala sekolah selalu berusaha meluluskan murid di sekolah memelihara rekor pencapaian 100 % yang seolah menjadi harga mati tiap akhir tahun, bagaimana di sekolah anda?

Berobat gratis, ambulan gratis, pemakaman gratis, cuma pipis & boker yang bayar

Fara fembunuh
Fara fembunuh

Penduduk negeri paman besut bangga perlihatkan foto alat komunikasi, kopi, rokok & korek, plus komentar bahwa dia tak tidur menjaga keamanan, seolah dia bangga telah melakukan tindakan mulia …

Dia tak tahu, fara fetugas keamanan yang dilatih, dibayar untuk mengamankan negeri sedang tidur lelap setelah konvoi dengan motor besar, bersepakat target baru kriminalisasi, strategi ferlindungan terhadap koruftor, dsb.

Sesungguhnya rakyat itu sedang membunuh dirinya sendiri dengan tidak tidur, isap racun, dsb …. mreka tak khawatir sakit karena berobat gratis, ambulan gratis, pemakaman gratis, fendidikan gratis, tunjangan hidup gratis, … pipis & boker aja yang bayar.

mereka sukses membuat pelajar tewas

  
di negri paman besut pjabat tawuran, anggota partai tawuran, fulisi tawuran ama tengtara, fulisi ama kafeka, gubernur ama depeerde, anak skolah tawuran di jalan dibritakan di media, skolah mana berikutnya?

Pelajar cuma meniru pemimpinnya, apalagi mereka tahu tak perlu belajar serius bisa lulus, tak ikut ulangan tetap dapat nilai, sekolah tak berani untuk tidak meluluskan murid.

Murid nakal diberi sangsi bisa melaporkan guru & kepala sekolahnya ke polisi, dan dibela oleh banyak fihak … tawuran tak henti, yang mati jadi berkali, bagaimana di sekolah anda?

sekolah bikin angkot negeri jadi rusak & jelek

 

Di negeri paman besut banyak sekolah yang mengijinkan atau membiarkan muridnya membawa sepeda motor ke sekolah, alasannya beragam; tak tersedia angkutan umum, jarak rumah terlalu dekat atau jauh, ongkos angkot mahal, dsb.

Bahkan beberapa guru dan murid yang mengusulkan pengadaan bus sekolah untuk antar jemput murid. Sepertinya sekolah menjadi lembaga yang hebat bisa mengatasi berbagai masalah rakyat yang menjadi murid di sekolahnya.

Niat baik membantu murid menjadi bencana masa depan, murid terlatih melanggar hukum sejak kecil, undang-undang lalulintas yang mengharuskan pengendara harus memiliki surat izin mengemudi, menyuap polisi saat razia atau tertangkap polisi jadi terbiasa sejak kecil. Fungsi sekolah sebagai tempat mendidik karakter murid agar jadi manusia taat hukum jadi pendorong murid untuk melanggar hukum sejak kecil,

Pemerintah negeri paman besut seolah merasa rakyat sudah mampu menatasi masalah transportasi dan lalai menyediakan angkutan kota atau angkot untuk mengantar penduduk berpergian. Pemerintah merasa sudah menyediakan angkot dan tak menyediakan angkot yang baik, kalaupun ada pengusaha yang berbisnis angkutan, pemerintah membiarkan angkot tak mencukupi, rusak, bau, tak aman, tak nyaman, tak tepat waktu, dsb.

Sekolah seolah sudah mengatasi masalah transportasi muridnya tetapi mendorong pemerintah makin tak peduli terhadap sistem transportasi publik, angkot semakin jelek, makin jarang, makin mahal, tak nyaman, dst.

Bagaimana di sekolah anda?

Penduduk Negeri Paman Besut terlalu bodoh shg mudah ditipu

Lautan motor
Lautan motor di negeri Paman Besut

Negeri Paman Besut bersekolah di sekolah yang kurikulumnya tak jelas
hasilnya mereka punya kecerdasan yang tak jelas
ukurannya cuma nilai ujian yang pas
sekolah belasan tahun kelakuan tak terimbas

Diberi pendidikan gratis
tapi tak latih bersikap kritis
kurikulum tak bisa bikin rakyat berfikir taktis
jadilah mereka orang-orang dewasa yang apatis

Aturan kredit kendaraan dipermudah
seolah harga mobil dan motor murah
untuk berpergian mereka kredit kendaraan hingga berdarah
seharusnya angkutan umum tersedia meriah

Rakyat tak menuntut Presiden, Gubernur atau bupati
buat tepati teriakan kampanye berisi banyak janji
jalan macet, angkutan tak layak tak peduli
punya mobil dan motor seolah sudah hidup berarti

Dimanjakan dengan hiburan beberapa kali di secara gratis
rakyat jadi merasa para aparat sudah bekerja taktis
padahal korupsi semakin kritis
permufakatan hebat untungkan aparat dan pebisnis

aturan dibuat banyak tapi seolah menguap
merokok dilarang di semua tempat, faktanya tetap pengap
aturan tetap tapi tak mendekap
bertahun sudah dibuat, penerapannya gagap

harga barang pertanian di pasar murah
rakyat tak tahu bahwa itu impor yang tumpah
petani menjerit enggan menanam di tanah yang merah
karena harga beli hasil tani kalah murah dari impor negeri sebelah

Tampil berbaju putih seolah suci
janji-janji kampanye seolah dikunci
rakyat tetap diam tak bisa menagih
karena mass media sudah diarahkan secara canggih

Rakyat bodoh terbiasa atas masalahnya sendiri
pemerintah ada tapi seolah tak berarti
yang kuat menindas yang lemah karena tak mandiri
pelajar biasa membunuh teman sambil berlari

aparat yang harusnya jaga keamanan
malah bikin tak tenang diperjalanan
mereka sibuk berkelahi dengan teman
saling tembak dengan yang beda seragam tega nian

ga dapat jatah menteri, beberapa suku protes

ilustrasi: google.com
ilustrasi: google.com

Di Negeri Paman Besut
beberapa suku protes
karena tak ada nama bermarga sukunya
ada dalam susunan nama menteri yang diumumkan Presiden baru
suku itu merasa banyak warganya yang mampu jadi menteri
suku itu juga merasa sudah bekerja keras mendukung pencalonan,
kampanye hingga pemilihan presiden

kenapa setelah terpilih Presiden lupa?
di media masa suku itu banyak yang kampanye sebelum pemilihan
ikut mendampingi kesana kemari,
berada di dekat calon presiden ketika kampanye
dan kabarnya Presiden sudah berjanji saat kampanye

saat pemilihan
apakah semua warga suku memilih calon yang sama?
dalam bilik suara ada yang tahu siapa yang dipilih?
tanya sama Tuhan yuuuu?

Kamu dari suku apa?
adakah yang jadi menteri?
terus kamu marah gituh?
dan bawa spanduk sambil teriak & guling-gulingan

Sekolah tak persiapkan muridnya jadi anggota DPR

Sumber foto: http://www.republika.co.id/
Ilustrasi, Sumber foto: http://www.republika.co.id/

di negeri paman besut
anak skolah targetnya cuma lulus ujian nasional
tak dilatih rapat yang baik
mengelola perbedaan pendapat
bertingkah sopan di forum

murid tak pernah dipersiapkan jadi anggota DPR
dilatih berpenampilan rapih
dilatih menulis pendapat
dibiasakan menyampaikan pendapat secara sopan
dibiasakan berlaku sopan di forum rapat

saat jadi anggota DPR
kelakuanya jadi memalukan
katanya gudung itu gedung dewan yang terhormat
kenapa kelakuan penghuninya tak pantas dihormati

wahai bapak ibu guru dan kepala sekolah
mari latih murid-murid kita mempersiapkan rapat,
mengonsep tema repat
mengonsep pendapat
menyampaikan pendapat secara baik
mengambil keputusan secara bijak
menerima keputusan sesuai hasil rapat
menjalankan keputusan rapat

kapan terakhir anda melatih anak muda
melakukan rapat yang bermartabat
atau kita bakal terus lihat rapat yang keparat
di negeri yang katanya berkarakter, berkemanusiaan dan berketuhanan
preeeeeeet!!!!

Apakah selama lima tahun partai tak sempat menanamkan ideologi partai kepada anggota dan keluarganya? Apa saja kerja partai sebelum masa kampanye?

20140317-104055.jpg
Kampanye di Negeri Paman Besut sudah dimulai, aturannya anak kecil tak boleh ikut kampanye, pada hari pertama kampanye beberapa partai melanggar aturan itu, terlihat jelas banyak anak kecil yangikut kampanye. Saat dikonfirmasi, seorang pengurus partai yang berteman dengan sapi menyatakan bahwa anak-anak kecil itu memang sengaja diajak, karena perlu penanaman ideologi partai kepada anggotanya sejak masih kecil, tak heran jika balita terlihat banyak ikut serta.

Apakah selama lima tahun partai tak sempat menanamkan ideologi partai kepada anggota dan keluarganya? Apa saja kerja partai sebelum masa kampanye? Yaaah, namanya juga politikus … harus pandai bicara, panitia pemilu harusnya memberikan sangsi buat partai yang melanggar atau menunggu korban jiwa dulu? sebaiknya tidak … anak-anak kecil itu tak perlu meninggal karena pemilu yang seharusnya mensejahterakan dia.

Belum jadi wakil rakyat aja udah melanggar aturan, pantas aja pada masuk penjara setelah terpilih jadi wakil rakyat, happy kah?

Apa arti Jutaan Sekolah? Kenapa sulit sekali cari Pemimpin yang baik?

ditinggalkan
ditinggalkan

Akhir-akhir ini di Negeri Paman Besut sedang ramai bincangkan calon Presiden yang bakal dipilih beberapa bulan mendatang, terasa sekali di Negeri yang penduduknya sekitar 250 juta orang seperti tak ada yang pantas jadi pemimpin, yang muncul dan berminat menjadi calon Presiden adalah orang-orang yang punya rekam jejak kurang berhasil memimpin, karena dari berbagai kesempatan memimpin di masa lalu terlihat bahwa calon-calon itu tak terlalu bersinar.

Kenapa Negeri yang jumlah penduduknya termasuk yang terbanyak di dunia itu tak mampu melahirkan pemimpinnya saat ini, padahal dulu negeri itu memiliki pemimpin yang disegani hingga di seluruh dunia.

Mungkin sistem kadersiasi kepemimpinan melalu jalur Partai Politik tak lagi bisa diandalkan, karena ternyata banyak sekali tokoh-tokoh partai yang jadi pemimpin di berbagai bidang di Negeri itu terbukti mengkhianati rakyat dengan melakukan korupsi, enggan hadir di Sidang Parlemen, kawin mawin secara resmi atau diam-diam, memperkaya diri sendiri dan kelompoknya atau berbagai kelakuan yang tak seharusnya.

Sekolah harus mengambil peran menyiapkan kader pemimpin di Negeri Paman Besut lewat berbagai kegiatan yang memberi pengalaman kepada murid nikmatnya jadi pemimpin sehingga minat dan kemampuannya untuk menjadi pemimpin terus terasah hingga dewasa. Murid perlu mendapat pengalaman mengelola Organisasi dari yang terkecil hingga besar, fokus belajar tak melulu pada sukses Ujian Nasional, tetapi sukses mengelola organisasi yang menghasilkan berbagai kegiatan menyenangkan yang mendorong murid semakin betah di sekolah dan tak melakukan hal-hal tak sesuai tujuan pendidikan.

Jutaan sekolah di Negeri Paman Besut sejak SD hingga Perguruan Tinggi harusnya bisa lahirkan dua orang terbaik sebagai calon Presiden dan wakilnya setiap lima tahun sekali agar rakyat tak bingung memilih calon pemimpinnya.

Apa yang dilakukan Sekolah Anda membenu Negeri yang sepertinya tak punya pemimpin berkualitas?

Setelah mengotori kota terus membolos?

sampah
sampah

seperti anak sekolah
seperti anak sekolah

Ini peristiwa di Negeri Paman Besut, bagaimana jika terjadi di negeri Anda?

Negeri seolah-olah

Di Negeri Paman Besut
Pemerintahnya sering melakukan kerja seolah-olah
Seolah-olah mengurus pendidikan tapi anak didik dibiarkan
Rakyat mendirikan sendiri sekolah-sekolah yang bagus
Anak memilih sekolah sesuai dengan seleranya

Kepala Sekolah dan Guru seolah mendidik murid
Tapi mereka serba takut melakukan tindakan pendidikan
Yang tak disukai anak dan orang tuanya
Kesalahan kecil saja jadi konsumsi besar di media
Tekanan para pemilik mulut besar memojokkan pendidik

Daripada menhadapi masalah dan beraneka tekanan
Para pendidik memilih mendidik bergaya seolah-olah
Seolah anak sekolah karena tiap hari berseragam
Belajar tiap hari mengejar target lulus Ujian Nasional
Anak didik masih harus berkeringat di ruang-ruang bimbingan belajar

Saat pelajaran usai, anak sekolah diminta segera tinggalkan sekolah
Karena dikhawatirkan membuat video yang memalukan
Maka seolah sekolah menjadi tempat anak menunggu diberi ijazah
Bukan untuk memunculkan potensi anak negeri yang beraneka

Karena orang pintar sulit disogok dan pandai menilai kelakuan SUKIT #pendidikankarakter

Di sekitar rumahnya dia dipanggil SUKIT
Kerjanya kongkow di ujung gang & rame di kenduri di Negeri Paman Besut
Semangat membantu orang lain yang butuh surat ini itu
Kemudian SUKIT terkenal penolong orang yang kesulitan
Dia juga dikenal banyak tahu itu ini

Menjelang Pemilu di Negeri Paman Besut dia gabung dengan partai
Kampanye sana sini dibantu orang yang sudah & masih butuh dibantu
Kaos disebar, ongkos bis, truk, konsumsi dan uang rokok dibagi
Menjelang hari pemilihan, fulis makan banyak berpindah tangan
Didekati orang2 bodoh diberi 50 ribu untuk memilihnya

SUKIT terpilih jadi anggota parlemen Negeri Paman Besut
Produknya terus fokus untuk bikin rakyat bodoh permanen
Agar mudah disogok dengan uang kecil dan memilihnya lagi
Karena orang pintar sulit disogok dan pandai menilai kelakuan SUKIT
Yang kalo ngomong cuma lantang tak berisi
Negeri Paman Besut pun jadi makin suram dan terpuruk
Korupsi tak henti
Rasa aman jauh dari hati

Berkelahi jadi hari-hari

20120805-205958.jpg