Blog Pendidik

@dwitagama: karakter tumbuh dari pembiasaan


Leave a comment

Pagi ini saya minum teh tawar panas, kalo kamu?

Saya mencoba memahami fikiran orang-orang yang membeli minuman yang tak jelas kandungannya, menelan cairan yang rasanya tak jelas, dan mati dengan cara yang tak jelas juga. Kenapa mereka mau minum sesuatu dengan alasan solidaritas, kekompakan, pertemanan atau apapun yang berujung pada kematian.

Apakah di dalam kubur mereka tetap bisa bertemu dan membeli minuman oplosan lagi buat dinikmati bersama hingga mati kedua kalinya?

Pagi ini saya minum teh tawar panas, kalo kamu?

Advertisements


3 Comments

Goyang oplosan kalahkan pendidikan agama, sebuah fakta di desa

20140726-122344.jpg

di sebuah desa tak jauh dari pantura, puluhan anak-anak ABG dengan penampilan seperti remaja kota; mengenakan topi, kacamata warna-warni , kaos, celana dan sepatu distro bergoyang oplosan diiringi lagu dan musik oplosan, puluhan anak-anak balita ditemani otangtuanya mengikuti group itu menyusuri jalan kampung.

suatu model pendidikan oplosan sukses menyebar dari TV ke pelosok desa, orang” tua di desa itu seolah tak peduli, walau anak” ABG itu merokok, makan & minum seenaknya di siang hari bulan puasa.

Apa kabar presiden baru & Mentri Pendidikan negeri?