Blog Pendidik


Leave a comment

Reshuffle Kabinet Bakal Terjadi, Mendikbud Aman?

Sebuah lembaga survey ternama negeri ini sudah mengeluarkan hasil survey masyarakat terhadap menteri-menteri di kabinet Jokowi, ini dipublish hampir bersamaan dengan Kongres sebuah partai yang ricuh di Sulawesi dan mendeklarasikan dukungan kepada Jokowi. Survey dan dukungan hasil kongres partai itu cukan secara kebetulan, tetapi sebuah momentum yang dijadwalkan waktunya sesuai pola kerja Jokowi pada kabinet yang lalu, ada reshuffle yang kriterianya sangat beragam sesuai kemauan Jokowi sebagai pemegang hak perogratif.

Pada periode pemerintahan Jokowi yang lalu Mendikbud termasuk yang direhuffle, apakah Mas Nadiem masih aman dari reshuffle? Tampaknya Mas Menteri berusaha melaksanakan intruksi presiden dengan kecepatan yang tinggi pada awalnya, tetapi kini Mas Menteri terlihat seperti mengurangi kecepatan dan menahan diri tak terlalu sering mengeluarkan ide-ide pembaharuan, sering mengajak berbicara stakeholder pendidikan negeri ini, apakah situasi ini membuat Mas Menteri aman dari reshuffle? bisa saja belum aman, karena jabatannya banyak diincar oleh partai-partai pendukung koalisi, termasuk yang baru saja berkongres dan mendeklarasikan dukungan.

Tak ada yang gratis dalam politik, dukungan baru sebuah partai harus mendapat imbalan di kabinet agar proses pengambilan keputusan di parlemen tak terganggu, oleh sebab itu penggantian menteri pasti akan terjadi untuk mengakomodir partai yang baru masuk ke basisan koalisi. Siapakah menteri yang bakal tersingkir?

Bercermin pada beberapa kali reshuffle yang dilakukan Jokowi, menteri yang membuat gaduh, asik sendiri, jarang memberitakan kegiatan dan program-programnya  berpeluang besar direshuffle, salah satunya adalah menteri agama yang memulai kerja kabinet dengan kegaduhan celana cingkrang dan cadar yang kemudian tak diteruskan, isu radikal, pendaftaran majelis taklim, surat rekomendasi bagi FPI, perusakan mushola dan gereja tampaknya membuat Jokowi “gerah”, apalagi di partai yang baru berkongres dan masuk koalisi partai pendukung memiliki banyak kader yang mumpuni di bidang keagamaan.

Menteri kelautan tampaknya juga sering menimbulkan polemik dalam mengambil kebijakan, bahkan seolah secara frontal saling berbantah dengan mantan menteri kelautan melalu sosial media, padahal menteri kelautan sebelumnya sangat diapresiasi penduduk negeri dan aktivis sosial media. Kemungkinan menteri kelautan akan digantikan oleh militer dari partai yang sama, karena partai itu banyak memiliki stok militer, sekaligus untuk mencegah luka militer yang salah satu menterinya di reshuffle.

Beberapa menteri lain yang akan terkena reshuffle adalah mereka yang gagap, seolah tak percaya diri memulai program kerja, seolah tak terdengar aksi “kerja, kerja, kerja” yang selalu digembar-gemborkan Jokowi. Jika presiden sibuk blusukan kesana kemari (kapan ke Kediri?) menteri yang asik di ruang kerjanya saja tanpa publikasi, bersiaplah menyingkir karena reshuffle, ini membuat partai pendukung ketar-ketir, menurut Anda?


Leave a comment

Polisi: Target Tawuran Anak SMK, Solidaritas untuk Kakak Mahasiswa

WhatsApp Image 2019-09-25 at 19.25.17

Gemuruh mahasiswa turun ke jalan, keluar dari kampus menuju titik kumpul di gedung DPR, DPRD di berbagai daerah menjadi berita yang mewarnai negeri beberapa hari terakhir hingga tumpah ruah ke media sosial seperti instagram, twitter dan facebook, menjadi santapan warga net, termasuk anak-anak SMK.

Rasa solidaritas anak SMK terbakar, mereka merasa kasihan melihat kakak-kakak mahasiswa berhadapan, seolah “tawuran” dengan aparat, sehingga hormon adrenalinnya terpicu untuk membela kakak mahasiswa bertempur menghadapi aparat, kebiasaan tawuran sudah memberikan skill bertempur di jalan raya, seperti lokasi demonstrasi dan bentrok pendemo mahasiswa dengan aparat, jadilah adegan berlarian anak-anak SMK menjadi pemandangan menakjubkan bagi kakak-kakak mahasiswa hingga viral di media sosial, padahal sesungguhnya itu hal yang sudah sangat biasa anak-anak SMK lakukan ketika tawuran yang sasarannya sesama anak sekolah, kini sebagai target lawannya adalah aparat bertameng, water canon dan gas air mata, menggantikan batu, kayu, gir, clurit, pedang yang biasa jadi alat tempur tawuran.

Jika mahasiswa malakukan aksi dilakukan dengan perencanaan dan koordinasi internal kampus dan dengan kampus lain, terlihat dari pemakaian jaket almamater, isu-isu yang diangkat, poster-poster, spanduk yang dibentangkan, mobil komando, mobil angkutan (umumnya bis), lagu-lagu yang dinyanyikan sudah dilatih dan dipersiapkan sebelumnya.

Sementara anak-anak SMK seperti terbawa arus, mungkin berawal dari keingintahuan, istilah anak sekarang “kepo”, anak-anak SMK melihat kakak-kakak mahasiswa melakukan aksi di pinggir jalan, lama kelamaan jumlah anak SMK semakin banyak dan terbawa emosi masuk ke dalam arena demonstrasi, dengan cara dan gaya yang tak direncanakan, mereka melakukan dengan gaya khas mereka saat tawuran yang berlarian di jalan, berteriak, melempar dan memukul lawan dari sekolah lain, di lokasi demonstrasi yang menjadi lawannya adalah pihak yang berhadapan dengan mahasiswa, yaitu polisi, jadilah seolah anak-anak SMK berhadapan dengan polisi.

Sebagai guru yang banyak bergaul dengan anak-anak SMK, saya menduga kemunculan anak-anak SMK dengan aksi khasnya menjadi viral di media sosial, beredar di grup-grup whatsapp mendorong anak-anak SMK yang sudah terbiasa tawuran untuk memanfaatkan suasana demosntrasi mahasiswa sebagai panggung melampiaskan “kegemaran” di jalan selama ini.

Terlihat bahwa kedatangan mereka ke sekitar gedung DPR tak terorganisir, mereka hanya memakai seragam sekolah hari itu, padahal anak-anak SMK juga memiliki seragam jaket almamater seperti kakak-kakak mahasiswa, tak ada bis yang mengangkut anak SMK, mereka ke lokasi dengan cara “membajak” truk dan kendaraan lainnya yang bisa mengantarkan mereka ke lokasi, sedikit sekali atau hampir tak ada poster dan spanduk yang anak-anak SMK bawa, jika ditanya mereka menjawab sesuai pengetahuan mereka dari mass media, tak ada issu khusus yang diangkat berhubungan dengan kehidupan sekolah atau remaja se usianya.

Yang terjadi “seolah” anak-anak SMK menemukan sasaaran atau lawan yang makin sulit mereka cari saat ini, karena banyak SMK negeri dan swasta yang telah menereapkan aturan sangat tegas untuk muridnya yang terlibat tawuran hingga langsung dikeluarkan, dihentikan tunjangan KJP, diproses kepolisian, dsb.

Peristiwa tawuran di jalan semakin jarang terjadi selain karena faktor ketegasan sekolah, masyarakat sekarang juga sudah muak dengan kelakuan anak SMK yang tawuran di lingkungannya hingga penduduk bereaksi dengan mengusir, melempar, menangkap dan menyerahkannya ke polisi.

Dari daftar sekolah yang beredar di grup-grup whatsapp guru terlihat bahwa sedikit sekali murid sekolah negeri yang tertangkap polisi, kebanyakan mereka berasal dari sekolah swasta yang disiplinnya tak begitu baik, murid nakal, jarang masuk, terlibat tawuran seolah dibiarkan.

Melihat liputan langsung dari lokasi, tampaknya anak-anak SMK lebih berani dan lebih anarkis dari kakak-kakak mahasiswa. Polisi harus bergerak cepat mendata siapa dan dari sekolah mana yang terlibat demonstrasi anarkis, mengidentifikasi peran mereka, hingga menemukan aktor intelektual yang mengerahkan mereka ke lokasi, termasuk ketika polisi menemukan orang yang bukan anak SMK bergabung dengan anak-anak SMK harus segera di identifikasi dan dijelaskan kepada masyarakat, akrena badan dan tampang mereka tampaknya lebih “boros” serta tak memakai seragam sekolah.

Anak sekolah terlibat politik itu keniscayaan, mereka harus melek politik karena mereka akan menjadi pemilih dan berhak dipilih sebagai wakil rakyat dan pemimpin negeri sehingga saat ini sekolah tak perlu lagi tabu memberi pembelajaran berpolitik kepada murid-muridnya, seperti yang dilakukan kepada mahasiswa baru saat ospek mereka dikenalkan lagu-lagu perjuangan pergerakan mahasiswa, dilatih berorasi, membuat poster dan spanduk, hingga simulasi demonstrasi di lingkungan kampus, seharusnya di SLTA murid mulai dikenalkan dengan kehidupan berpolitik.

Anak-anak SLTA dikenalkan dunia politik termasuk cara menyampaikan pendapat secara santun, bermartabat, tidak anarkis agar saat ada kesempatan turun ke jalan mereka sudah tahu adab menyampaikan aspirasinya, dan ketika menjadi mahasiswa mereka lebih menyempurnakan cara penyampaian pendapat berdasarkan pengalaman sejak di SLTA.

Semoga kejadian kemarin murni gaya anak SMK tawuran di jalan, bukan karena unsur politik berupa rekayasa pihak-pihak tertentu yang menginginkan Indonesia chaos dengan memanfaatkan anak sekolah, andai itu terjadi aparat harus bisa menemukan siapa aktor intelektualnya.

Bagaimana menurut Anda?


12 Comments

Debat Presiden Rasa Ujian Nasional, Kisi-kisinya dibocorkan

mic dwitagama

Seseorang yang dicalonkan jadi calon Presiden dan Wakil Presiden pasti orang hebat, kalau tak hebat tak mungkin jadi calon, karena tak ada partai politik yang mau mencalonkan dia sebagai calon Presiden (Capres) atau calon Wakil Presiden (Cawapres) yang akan memimpin negeri berpenduduk lebih dari seperempat milyar.

Koalisi Partai Politik yang mencalonkan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang bersepakat pasti tahu bahwa pasangan yang dicalonkan adalah penduduk terbaik negeri ini yang mampu memimpin negeri, mereka orang-orang hebat. Orang-orang hebat yang dicalonkan pasti telah berpengalaman dalam berbagai bidang yang bermanfaat untuk rakyat banyak. Agar rakyat bisa melihat orang-orang hebat yang akan dipilihnya maka perlu dilakukan debat terbuka yang bisa dilihat oleh penduduk se negara.

Kisruh bocoran pertanyaan debat atau kisi-kisi calon Presiden dan Wakil Presiden membuat rakyat bertanya-tanya tentang kehebatan calon pemimpin tertinggi negeri ini. Argumen Komisi Pemilihan Umum (KPU) selalu berusaha membenarkan keputusan yang diambil, tetapi pembocoran soal atau kisi-kisi menjadi sangat disayangkan karena seolah-olah KPU ingin menyatakan bahwa Capres dan Cawapres kita bukan orang-orang hebat yang mampu menjawab berbagai pertanyaan dalam debat.

Kesalahan yang sudah terjadi bisa diperbaiki dengan menganulir semua soal atau kisi-kisi yang telah diberikan kepada Capres dan Cawapres, berikan keleluasaan kepada panelis, host bahkan kepada semua rakyat untuk mengajukan pertaanyaan kepada calon pemimpinnya, di era digital sekarang, bisa saja pertanyaan diberikan oleh rakyat lewat saluran website, twitter, instagram, email, dsb. Panelis atau host bisa memilih pertanyaan yang sesuai dengan tema atau isu yang dibahas.

Saya jadi terkanang saat persiapan ujian nasional, guru-guru memberi kisi-kisi ujian untuk muridnya agar memperoleh nilai ujian nasional  yang baik.

Anda punya pertanyaan untuk 0rang-orang hebat yang akan berdebat?

Silahkan ketik di kotak komentar. Terima kasih.


Leave a comment

Jika di Sulawesi Selatan biayanya sedemikian besar, berapa biaya untuk peroleh dukungan pattai di Jawa, berapa pula di Jakarta? Buteeeeeeeeeet deh

20130926-222821.jpg

20130926-222833.jpg

20130926-222840.jpg
Kabar angin tentang biaya dukungan pattai senilai sepuluh milyar untuk seorang calon gubernur di Sulawesi itu ternyata berwujud benar adanya, pada proses persidangan terungkap praktek itu, seperti yang diberitakan kompas.com.

Jika di Sulawesi Selatan biayanya sedemikian besar, berapa biaya untuk peroleh dukungan pattai di Jawa, berapa pula di Jakarta? Buteeeeeeeeeet deh.

Ketika Para pembeli dukungan itu terpilih, apa yang dia lakukan? Jadi xxxxx milih nih 😦


Leave a comment

Sementara pak sopir itu bilang yang di atas “salam-salaman bagi-bagi ….

Hari masih gelap, azan subuh belum bergema …. Setelah basa-basi sedikit, sopir taxi yang antar saya ke bandara di Surabaya langsung masih ke topik serius bikin kantuk saya hilang …

Pendidikan politik negeri ini masih belum baik … Dua anak muda yang awalnya main catur sambil bincang kanan kiri hampir berkelahi karena yang satu bilang … Semua harus milih partai “X” karena partainya wong cilik … Yang satu bilang harus pilih partai “Y” karena berbasis agamanya dan jika tak memilih bakal masuk neraka …. Sementara pak sopir itu bilang yang di atas “salam-salaman bagi-bagi ….


2 Comments

politikus negeri yg rusak adalah salah Guru

hari-hari kita disodorkan berita ttg politikus yang terlibat kasus beraneka … partai politik dekati artis untuk jadi calon anggota legislatif … karena sohor.

kita tak punya orang yang berkualitas jadi politikus … ini salah guru dan dunia pendidikan yang tak siapkan peserta didik jadi politikus.

Coba lihat di sekolah anda … kegiatan apa aja yang sudah pernah dilakukan siapkan politikus bagus negeri ini … kalo belum, bikin kegiatan yuuuu


3 Comments

orang tua berpolitik uber kekuasaan, anak uber kepuasan, keduanya berujung kehancuran

20120115-170920.jpg

di sebuah media jejaring sosial, seorang remaja menulis begini:
“Orang tua sibuk ngurusin Partai-partai nya yg gak jelas. Anak nya sibuk ngurusin Party-party Ubas dirumahnya. … Ancur INDONESIA.”

waspadalah-waspadalah


Leave a comment

tentang KABINET SBY

‘kabinet adalah forum untuk bekerja
bukan untuk berpolitik sendiri-sendiri”

demikian yang diucapkan SBY di Sabuga Bandung
bakalan tak banyak menteri yang pentolan partai
hidup teknokrat …. !!!

selamat malam pembaca, kalo mau jadi menteri tunjukkan profesionalisme Anda … masih mau merapat ke partai?