Negeri Tak Tentu | Puisi Pendidik

Di negeri itu

Angin bertiup tak tentu

Kapal berlayar arah tak jelas

Mungkin karena laut terlalu luas

Curut berebut ingin diturut

Tapi kelakuan biasa tak patut

Hukum bisa dipola sesuai kehendak majikan

Yang di atas bebas, bawah terus ditekan

Lima tahun sekali rakyat dibujuk

Di lemari beras dan kaos wajah pelanduk

Amplop berkelebat di pagi buta

Untuk beli dia punya suara

Usai pencoblosan rakyat kembali dilupa

Janji kampanye seolah tak ada

Obral jabatan buat pendukung

Gaji komisaris menggunung tak usik perusahaan tak untung

Para pengkritik diberi jabatan

Berimbas tebal amplop penghasilan

Setelah itu mereka harus diam

Yang tetap mengkritik dibikin tenggelam

Jurnal Pagi Karantina Mandiri 300320

teacup-2324842_1280
Foto: pixabay.com

Bangun tidur
Mandi
Sholat subuh
beresin kamar

Ngeteh
sambil update
berita daring
Ngeteh lagi

Sarapan
nasi goreng
berteman timun dan tomat
Ngeteh lagi

Jawab chat murid
yang setor tugas
sambil jawab komen
di instagram
Ngeteh lagi

Membuka kap mobil
kontrol mesin
bersihkan mesin
menghidupkan mesin

Cek semua lampu
kontrol tekanan ban
dengerin musik & berita
di radio
Ngeteh lagi

Diajak keluar
nganterin bokin
nengokin tukang
renovasi rumah lain
Ngeteh lagi

Jalanan sepi
hampir ga pernah ngerem
antrian di lampu merah
pendek-pendek aja
Jakarta yang tak biasa

Di mobil
ngeteh lagi
teh tawar
panaaaaaas

Tuhan Sembilan Senti (Taufiq Ismail)

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Amin Yaa Rabbalalamin

Agar Hidup Terasa Makmur

perokok miskin

Bangun tidur
Yang dicarinya asap
dihisap agar tak lelap
agar hidup terasa makmur

Sarapan
panganan seadanya
ditutup dengan asap
agar hidup terasa makmur

Saat bekerja
di sela jari selalu terselip
benda penghasil asap
agar hidup terasa makmur

Perjalanan pulang
macet di jalan
jadi tak terasa karena asap
agar hidup terasa makmur

Sebelum tidur
asap yang dicari
dihisap memberi rasa hangat
agar hidup terasa makmur

Terlelap
di teras rumah
dalam gang sempit
karena di dalam penuh penghuni

Bangun tidur
Yang dicarinya asap
dihisap agar tak lelap
agar hidup terasa makmur

Gadis Peminta-minta

Oleh: Toto Sudarto Bachtiar

Setiap kali bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang

Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, ah kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda

Tiba-tiba saya kangen puisi ini yang pad tahun 80-an sring saya bacakan di berbagai lomba di Jakarta: TIM, Bulungan, Polonia, dan berbagai tempat lainnya, kamu sedang kangen siapa?

Sumber:  Pencinta Puisi

Persoalan Jari Tangan

Screen Shot 2019-02-07 at 10.36.26 AM
Dulu rakyat negeri ini
bebas mengekspresikan jari-jarinya
saat sedang berpose untuk difoto

bahkan tak sedikit
remaja yang mengekspresikan jari tengah ke atas
saat berjumpa dengan rombongan berseragam
yang berpapasan dengannya.

isyarat jari tengah itu tak pernah sampai ke penegak hukum
walau eksesnya menimbulkan tawuran hingga korban jiwa.

Sekarang rakyat tak bebas
mengekspresikan jarinya karena bisa berujung di pengadilan

Tiang Listrik

Screen Shot 2018-11-14 at 9.44.36 AM.png
Foto: Dedi Dwitagama

Dia ditempel nomor telepon sedot tinja.
Dia diikat kawat iklan badut dan sulap.
Dia diikat kawat penyedia layanan asisten rumah tangga dan baby sitter.
Dia ditempel kertas bimbingan belajar.

Dia disangkutkan kabel televisi banyak channel dan internet.
Dia diikat kawat dipasang kayu untuk menjajajak jas hujan plastik.
Dia diikatkan dengan kompresor tambal ban.
Dia diikat untuk memasang spanduk.

Dia jadi sasaran coretan pilox orang belajar nulis.
Dia ditabrak buronan sambil makan bakpao.
Dia dipasangi wajah orang hilang.
Dia dipasangi wajah calon legislatif.

Dia diikatkan spanduk penerimaan murid baru.
Dia diikatkan spanduk mendukung Asian Games.
Dia dipasangi wajah calon presiden.
Dia dikencingin kucing, anjing, manusia.

Dia bertanya: “Adakah yang lebih menderita dari Aku?”

Puisi Hits: Pada Tiang

663859_720

Saya mengelola blog ini dan blog lain di Kompasiana, sangat terkejut ketika saya menuliskan kesediahan buat tiang yang ditabrak mobil di sekitar permata hijau Jakarta dan menjadi viral di mass media, ternyata puisi itu dijenguk oleh lebih dari tiga ribu pembaca, begini puisinya:

Pada tiang alam menitipkan ranting
Pada tiang dititipkan daun
Pada tiang dialirkan listrik
Pada tiang disampaikan pesan

Pada tiang dikabarkan usaha
Pada tiang disebarkan wajah
Pada tiang ditambatkan kenangan
Pada tiang dilukis bahagia

Pada tiang ditabrakkan mobil
Pada tiang dipuaskan ambisi
Pada tiang dihindari masalah
Pada tiang diletakkan karangan bunga

Foto: https://foto.tempo.co/read/61255/usai-ditabrak-setnov-tiang-listrik-ini-jadi-ajang-berfoto-warga

Puisi | Pada Malam

Pada malam ada gelap
ada senyap
yang membuat makhluk terlelap
hingga kata tak terucap

Pada malam ada sunyi
ada nurani
yang lupa jadi ingat lagi
kembali pada yang hakiki

Pada malam ada rasa
yang menumbuhkan asa
bisa memberi cinta
menyburkan semesta

Pada malam ada kamu
yang membuat susah berlalu
selalu ada di hati aku
iyalah kamu

baru beranjak dua digit

Seorang anak sekolah
badannya kurus, kulitnya gelap
berseragam kemeja putih, celana panjang biru
berjalan gontai, tatapan matanya kosong

jari tangan menjepit benda putih 9 cm
dihisap asap dari benda yang dijepit jarinya
segera asap dihembuskan dari mulutnya
dihisap lagi, dihembuskan asap dari mulutnya

umurnya mungkin baru beranjak dua digit
aroma tubuhnya mirip kakek bungkuk 70 tahun
cara berjalannya juga mirip
tapi dengan kecepatan yang lebih karena usia

Saya mau bertanya padanya
apa rasa asap pagi hari
apa kata ayah ibunya
apa kata guru-gurunya

sayang saya harus antar anak ke sekolah
sambil mendekap dan mendoakannya
semoga dia tak hisap asap kelak
setelah mencium sambil bisikkan bahwa saya akan menjemputnya nanti
kami berpisah

IBU KOTA, KOTA IBU; Puisi Remi Sylado

Sekitar akhir tahun 80-an dan awal tahun 90-an Saya aktif di dunia sastra, sebagai penikmat, pembaca dan pemburu lomba baca puisi di Jabotabek, level kecamatan hingga level Nasional … entah kenapa tiba-tiba saya kangen puisi Om Remy Sylado yang dulu sering saya baca dan dibaca teman-teman yang ikut lomba, judulnya Ibu Kota, Kota Ibu … terkenang banyak teman yang selalu ketemu di arena lomba dan jadi teman akrab: Olo Tahe Sinaga (OTE) yang skarang jadi Guru di SMAN 36 Jakarta, Defri Maulana (pernah ngetop di Bandung bareng Padhyangan Group), Denny Maulana, Dian Samudra (mereka adik-kakak), ada juga Tabah Penemuan, Tahta Perlawanan (dua bersaudara yang hijrah ke sinetron), Tria, Titut, Dewi (yang jadi dubber Doraemon), Lia Yulianingsih, Fery Iskandar, dsb. Saya juga terkenang seniman yang bisa jadi juri: Abdul Hadi WM, Sutardji Colzum Bachri, Leon Agusta, Merit Hendra, WS. Rendra, Jose Rizal Manua, Sapardi Joko Damono,  Remy Sylado, Toto Sudarto Bachtiar, … dsb, semoga semua dalam sehat selalu.

remi-sylado

IBU KOTA, KOTA IBU

kalau aku makmur
kubeli jakarta, kucelup jadi putih

kau bisa bayangkan
kalau jakarta tiba – tiba putih semua
mas di puncak monas : putih
patung selamat datang : putih
pohon taman surapati : putih
lapangan sepakbola istora : putih
air ciliwung : putih

barangkali dengan putih
dosa – dosa jakarta akan tersamar
penjambretan, ponodongan, pemerkosaan
perjudian, pelacuran, pembunuhan :
putih !

putih kau tau warna kesucian
tapi putih kau pun tau, warna kekalahan
bagaimana orang bisa dipercaya bicara
jika ia berada dalam kelas yang kalah
seperti kini jakarta disesaki olehnya

kalau aku kalah
kumau kalah dengan kesucian
tapi aku tidak persis dalam kalau – ku
kunyanyikan ode ini untukmu
betapapun tak merdu, sediakanlah kupingmu

ini kota, kau tau, bukan sekedar ibu kota
tapi kota ibu
dengan sejumlah kalau

REMY SYLADO

“KETIKA KATA KETIKA WARNA”
( YAYASAN ANANDAYA JAKARTA – 1995 )

Puisi ini Saya dapat dari: https://ainulcentre999.wordpress.com/2009/03/06/puisi-remy-sylado/

Saatnya akan tiba Kawan terdekat memakanmu Dan kalian saling menusuk Hingga punah satu gelanggang

Hai para pejabat yang korupsi,
Hai para politikus yang rakus,
Hara para pengusaha yang ingin kaya halalkan sgala cara,
Teruskan kelakuan bejatmu yang seolah resmi tak langgar hukum

Nikmati saja persengkongkolan jahat yg kau bilang nikmat
Hingga datang laknat mendekat
Mungkin karena rakyat lebih banyak yang bodoh
Seolah tak tahu kebusukan kamu

Saatnya akan tiba
Kawan terdekat memakanmu
Dan kalian saling menusuk
Hingga punah satu gelanggang

Karena alam terbiasa kerja sendiri
Memisahkan racun dengan madu
Memilah batu dan air
Mengurai bau busuk dan wangi

guru dan WS RENDRA

puisi senjatanya
puisi senjatanya

Orang-orang harus dibangunkan
Aku bernyanyi menjadi saksi

Dua baris syair yang ditulis Rendra, menunjukkan betapa beliau ingin rakyat negeri ini tak tidur karena bodoh, malas atau lainnya. Tak beda yang dilakukan Guru SMK, agar peserta didik tak bodoh, malas atau lainnya sehigga bisa menembus dunia kerja dan hidup sejahtera.

Saya sangat beruntung beberapa kali menikmati penampilannya di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, kepiawaiannya mengolah kata, mood penonton dan tata suara, membuat panggung Graha Bhakti Budaya TIM yang didekor sangat minimalis menjadi sangat berwibawa … arena “Sang Burung Merak” yang manggung membius saya dan ratusan peminat sastra.

Kemarin malam Burung Merak itu kembali ke “Sarang Keabadian”, meinggalkan nisbinya dunia yang tak pernah kekal, burung indah itu menuju ke kekelannya. Malam Jumat … waktu sangat bagus yang diharapkan orang-orang yang bertaqwa untuk kembali pulang kehadiratNya … Rendra mendapatkan waktu untuk VVIP, Very Very Important People menghadap Penciptanya.

Mendengar rakyat
Kedepankan kepentingan rakyat
Melestarikan budaya
Berani berfikir beda
Menyuarakan yang berbeda
Tak bungkam walau ditekan
Konsisten pada pendirian
Adalah sebagain yang akan selalu dikenang

Selamat jalan Bung
Semoga Allah melapangkan jalammu
Terbanglah Burung Merakku

Selamat pagi pembaca, masih tak peduli dengan kuaitas anak bangsa?, apa yang Anda lakukan buat mereka?

PUISI Agus R. Sarjono

SAJAK PALSU

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah
dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka
yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hokum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu. Sebagian
menjadi guru, ilmuwan dan seniman palsu. Dengan gairah tinggi
mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu. Mereka saksikan
ramainya perniagaan palsu dengan ekspor
dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan
berbagai barang kelontong kualitas palsu.
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus
dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga
pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri
yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakat pun berniaga
dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka
uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu
sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis
yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam
nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu
meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan
gagasan-gagasan palsu di tengah seminar
dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya
demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring
dan palsu

Kangen PUISI

Tiba-tiba Saya kangen saat-saat sering baca puisi dan melatih puisi … karya TOTO SUDARTO BACHTIAR

GADIS PEMINTA-MINTA

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dam kemayaan riang

Duniamu yang lebih tinggi dari menara ketedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kauhafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk membagi dukaku

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, ah kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda

ROKOK jadi TUHAN

Puisi yang diposting dalam rangka Hari Tanpa Tembakau Sedunia 31 Mei 2008

TUHAN SEMBILAN SENTI

Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara- perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang
yang tak merokok,

Continue reading “ROKOK jadi TUHAN”

Bersihkan BENDERA PARTAI

Pagi masih malu-malu
kendaraan sedikit yang berlalu
pandangan mataku terganggu
oleh ratusan bendera gagu
yang bersiap ikut pemilu
lama berkuasa, lihat penderitaan rakyat sambil lalu
hatiku pilu
lidahku kelu

[UN3] Keep Fight


Anak-anakku
setelah sekian tahun berjuang
hari ini keputusan ditanganmu
percaya dirimu
sesuai kemampuanmu
karena ini bukan akhir perjalananmu

Bapak-Ibu guru
berbagai bekal dan tauladan
jangan kau hancurkan dalam sekejap
karena kita kelompok terhormat

Mungkin

Mungkin
Karena terbiasa berjalan
terbiasa ditempat
terbiasa diam
terbiasa menerima


Jadi sulit
untuk diajak berlari
melihat dunia luar
mempelajari hal baru
berbicara untuk kemajuan
membiasakan memberi

ach …
Mungkin …

Menyanyi LUPAKAN REALITA

penyanyi.jpgPerhatikan acara TV kita

mulai anak kecil hingga kakek

mulai OB hingga Dokter

ada juga pelawak

semua bukan penyanyi

lalu …

mereka lantunkan suara

lagu melayu hingga barat

rating TV jadi terangkat tinggi

hingga saling tiru menderu

lalu …

kita terpana dilayar kaca

lupa banyak busung lapar, demam berdarah,

harga minyak membubung

penegakkan hukum yang membiru

banjir yang meninggi di banyak daerah

juga kerusuhan di perbatasan Timor Leste

lalu …

kita juga lupa bahwa mentalitas anak kita ringkih

tak punya semangat, malas berfikir, enggan berkreasi,

sukanya nongkrong di Mall

antri karcis ayat-ayat cinta

mereka senang seragam, termasuk nonton film yang sama

dengan gunakan pakaian yang sama

sementara semua dari mereka sama-sama belum baca novelnya

lalu …

kita lupakan semua dengan sedotan dalam asap putih

yang mayoritas sahamnya dimiliki perusahaan asing

dan ketika penduduk negeri sakit karena aap itu

obatnya harus diimpor dari negeri pemilik saham rokok, juga obatnya

lalu …

kita sering lupa

Image: alalalan.com

Air Mengalir dari Puncak

Subuh penuh suara gemuruh

Buih kabut mencengkeram  pandangan

Membekap tulang, membuat gigi gemeretak

Matahari makin tinggi, tapi pandangan terus terbatas 

Kabut ditemani butiran hujan makin deras

Terbayang perjalanan air menuju Jakarta

Ditambah hujan merambah juga Ibukota 

Semoga kiriman air dari sekitar Puncak

Tak membuat Jakarta makin tenggelam

Jalan-jalan juga tak semakin berlubang

Ah … Jakartaku malang pisan  

Cisarua, Selasa 19 Februari 2008