Blog Pendidik


1 Comment

Jejak Digital

“Pernah googling nama sendiri?”

Sudah berapa kali anda memasukkan nama anda sendiri di google dan search informasi apa yang ada di jagat maya tentang citra diri anda? Apakah anda pernah googling nama anggota keluarga anda? Apakah anda pernah googling sekolah anda atau tempat kerja anda? Apa yang anda dapat?

Google kini menjelma seperti perpustakaan terbesar di dunia yang bisa dikunjungi oleh siapa saja dari manapun, karena aksesnya sangat terbuka yang hanya dengan menggunakan telepon genggam siapapun bisa mendapat informasi tentang apa saja.

Seseorang yang merasa tak pernah memasukkan berita atau foto tentang dirinya ke google merasa terkejut bagaimana bisa tulisan atau foto-foto seseorang bisa diketemukan google.

Google menghimpun berbagai informasi berupa tulisan, foto dan video yang tersebar di internet melalui berbagai layanan seperti facebook, twitter, instagram, website, blog, youtube, aplikasi, toko online, dsb. Jika anda tak pernah menuliskan sesuatu atau menunggah foto atau video, maka google akan menghimpun tulisan, foto dan video yang mencantumkan diri anda yang diunggah oleh orang lain yang anda kenal maupun tak kenal.

Jika anda sebagai murid atau guru di suatu sekolah, silahkan googling nama sekolah anda, informasi berita, foto dan video apakah yang anda peroleh dari google? Berapa banyakkah jumlah info tentang sekolah anda?, yang anda dapat saat googling sekolah anda merupakan jejak digital sekolah anda. Sebuah SLTA di Jakarta yang sedang viral menjadi berita di jagat maya dan group-group WA karena perbuatan salah satu guru yang mengajar di sekolah itu.

Jika jumlah murid sekolah itu 700 orang lebih, dengan jumlah guru dan tata usaha hampir 100 orang, yang jika jumlah 800 itu diikutkan kedua orang tua dan istri, suami serta anak-anak guru dan tata usaha, maka jumlah keluarga besar sekolah itu bisa 2.400 orang sedang merasa sedih karena pemberitaan tentang sekolah yang kurang bagus menjadi viral di mass media, termasuk media online yang dirangkum oleh google menjadi album yang tak sedap dilihat oleh lebih dari 2.400 orang keluarga sekolah itu, belum termasuk alumni yang telah tamat dari sekolah itu.

Saat saya menulis artikel ini, ada 8 halaman hasil pencarian tentang sekolah itu di google yang berisi 75 informasi artikel tentang peristiwa yang tak menyenangkan itu. Ada satu informasi baik tentang sekolah itu yang bertajuk “Prestasi” yang berasal dari website resmi sekolah itu yang sangat disayangkan ketika saya mengakses link itu website sekolahnya hanya ada dua prestasi murid yang diperoleh pada tahun 2017, sementara prestasi gurunya tak ada, apakah sejak sekolah itu didirikan pada tahun 1986 tak pernah ada murid atau guru yang memperoleh prestasi?.

Ada yang bilang bahwa jejak digital itu menyakitkan, hal itu jika anda tidak aktif mengabarkan kebaikan atau halhal yang bagus di sekitar anda dan membiarkan fihak lain memberitakan diri anda atau lembaga anda sesuai dengan selera mereka.

Bagaimana sekolah bisa memviralkan kebaikan atau hal-hal bagus di sekolahnya dan menjadi arsip di google. Berikut ini beberapa alternatif yang bisa dilakukan anda atau sekolah anda agar branding diri anda atau sekolah anda menjadi baik terekam di google.

1. Buatlah akun anda atau lembaga anda di berbagai platform sosial media seperti facebook, twitter, instagram, website, blog, youtube, liked in, dsb, dengan menggunakan data dan identitas yang asli sesuai data sekolah anda.

2. Instagram, website dan blog bisa dihubungkan dengan facebook, twitter dan liked in sehingga saat anda posting foto dan video di instagram atau artikel di website dan blog akan muncul link nya di facebook, twitter dan liked in.

3. Kabarkan berbagai hal-hal baik yang ada disekitar anda dan sekolah anda, misalnya; murid baru, murid berprestasi, guru baru, guru pension, prestasi guru tumbuhan dan hewan peliharaan anda, proses memasak, masakan yang akan disantap, corak batik yang anda kenakan, sepatu yang baru saja anda semir, atau apa saja yang sedang anda nikmati agar bisa jadi histori buat hidup anda dan kenangan sekolah di masa depan.

4. Sekolah sebaiknya menugaskan guru dan karyawan tata usaha yang bertanggung jawab mengelola website, blog, instagram, twitter dan facebook resmi sekolah dan harus mengunggah kabar-kabar baik dari sekolah setiap hari. Jika disekolah ada 700 murid dan 100 guru/karyawan, itu artinya sekolah punya 800 bahan posting yang bisa diunggah lebih dari dua tahun, cari lokasi yang bagus untuk foto dengan murid atau guru di sekolah, minta kepada murid atau guru yang difoto untuk menuliskan komentar atau catatan foto tersebut, bisa mereka yang langsung mengetik di telepon genggam sebelum di posting di website, blog, instagram, twitter dan facebook resmi sekolah. Cantumkan nama sekolah pada judul, berikan hastag atau tagar nama sekolah, lokasi sekolah atau kata-kata lain yang ingin anda citrakan buat sekolah anda. Apakah itu artinya harus posting setiap hari?, tidak. Karena website, blog, instagram, twitter dan facebook memiliki fasilitas untuk menjadwalkan kapan artikel harus ditayangkan, bisa saja dalam satu hari petugas memposting 30 artikel yang akan tayang setiap hari selama 30 hari ke depan, dan selama sebulan ke depan dia tak perlu lagi posting, internet akan menayangkan sesuai waktu yang dijadwalkan, anak murid bisa melakukan ini, karena bukan hal yang sulit.

5. Setiap guru yang mengajar harus memberi tugas kepada murid yang tidak dicetak atau dibuat makalah untuk dinilai guru, penilaian dilakukan lewat website, blog murid, facebook, twitter, instagram, dsb. Pada judul tugas cantumkan nama sekolah dan nama guru, disertai hastag dan lokasi sekolah. Andai 10 guru memberi tugas satu kali dalam satu semester kepada 700 murid di sekolah, maka akan ada 14.000 posting kebaikan dalam setahun yang terangkum di google yang bisa dilacak oleh semua orang dan menjadi jejak digital yang baik.

6. Saat ada kegiatan di sekolah seperti pensi, wisuda, LDKS, seminar, dsb, adakan kompetisi foto di instagram yang harus diikuti oleh semua murid dan guru, selama satu hari sepanjang acara berlangsung dengan peraturan harus disertakan hastag atau tanda pagar: #SMKN 123 JAKARTA, #SEKOLAH HIJAU, #SEKOLAH RAMAH ANAK, atau hastag apa saja yang bisa jadi cara mempromosikan sekolah dan meninggalkan jejak digital di google. Termasuk menandai lokasi foto di sekolah anda agar posisi sekolah anda mudah dilacak dan diketahui banyak pengguna internet.

7. Mengabarkan Prestasi. Ketika ada murid, guru, karyawan atau sekolah meraih prestasi harus dikabarkan melalui berbagai platform, seperti foto dan keterangannya posting di instagram yang terhubung ke facebook dan twitter, blog sekolah yang terhubung ke facebook dan twitter, website sekolah yang terhubung ke facebook dan twitter, dokumentasikan dalam bentuk video berisi wawancara dengan yang berprestasi dan saat penyerahan piala atau hadiah diposting di youtube yang terhubung ke facebook dan twitter, secara khusus posting juga foto, keterangan dan video ke facebook dan twitter resmi sekolah. Dengan cara yang sangat mudah, sekolah telah mengabarkan satu prestasi dan menyebarkan 14 jejak digital sekolah yang bisa dilacak di google. Jika sekolah anda biasa berprestasi, bisa jadi ratusan atau ribuan jejak digital bagus sekolah anda.

8. Sekolah memberi apresiasi atau penghargaan untuk murid, guru atau karyawan yang rajin mengabarkan aktifitas sekolah di berbagai platform digital, hal ini bisa mempengaruhi semua warga sekolah untuk memproduksi kontent positif yang mempromosikan sekolah di jagat maya, apresiasi atau hadiah bisa berupa paket data, flash disk, telepon genggam, notebook, dsb.

9. Berjejaring dengan media massa cetak dan elektronik. Ketika sekolah mengadakan kegiatan-kegiatan apa saja yang layak dipublikasikan, buatlah undangan dalam bentuk cetak maupun email kepada media massa seperti Kompas, Republika, Wartakota, Poskota, Tempo, RCTI, Metro TV, SCTV, Jak TV, NET TV, Trans TV, Trans 7, Elshita, Radio, dsb. Undangan liputan membuat mereka mendapat sumber berita yang bisa dikemas untuk materi media mereka, dan tak perlu khawatir harus menyediakan budget biaya, karena media mainstream yang bermutu seperti yang tercantum di atas melarang reporternya menerima uang dari sumber berita yang diliput, jika terbukti reporter meminta uang maka perusahaan akan memberikan sangsi yang berat. Acara yang menurut sekolah biasa-biasa saja karena sudah terlalu sering dilakukan jika dikemas secara kreatif dengan melibatkan OSIS dan murid, bisa jadi objek berita yang menarik layak dikabarkan di media cetak dan elektronik, secara otomatis media di atas juga mengabarkan di website resmi media mereka yang akan meninggalkan jejak digital di google.

10. Melayani jurnalis. Jika sekolah anda dikunjungi reporter media berkelas nasional atau internasional, berikan pelayanan secara optimal hingga liputan selesai, tak perlu khawatir mereka akan meminta imbalan sejumlah uang, karena mass media berkelas tak membolehkan reporternya meminta imbalan dari sumber berita.

11. Mengintegrasikan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Untuk lebih mempercepat masa pengenalan sekolah, setiap murid baru ditugaskan posting foto dan video di instagram berisi tentang sejarah sekolah (2 posting), foto bersama guru (5 posting), foto bersama kakak kelas (10 posting), foto bersama teman baru (10 posting) dengan menggunakan hastag atau tagar #SMKN 321 JAKARTA, dsb. Jika satu orang murid baru meninggalkan jejak digilat sejumlah 27, maka dari 200 rang murid baru akan meninggalkan jejak digital sebanyak 5.400.

12. Guru Bahasa Indonesia atau Pembina OSIS bisa menugaskan kepada murid yang akan lulus untuk membuat 2 tulisan bertema “Kenangan yang tak akan terlupakan di SMKN 321 Jakarta” dan posting 10 foto di intagram dengan teman sekolah yang dipilihnya dan 5 foto dengan guru pilihannya yang diposting dengan menggunakan hastag atau tagar #SMKN 321 JAKARTA, dsb. Jika satu orang murid yang akan lulus meninggalkan jejak digital sejumlah 17, maka dari 200 orang murid kelas 12 akan meninggalkan jejak digital sebanyak 3.400. Ketika ada berita buruk tayang diinternet, maka berita buruk itu akan tenggelam diantara lautan berita baik yang sudah diunggah dan diunggah kemudian setelah peristiwa buruk terjadi, karena jumlahnya jauh lebih banyak yang baik, efeknya ketika ada yang googling nama sekolah itu akan mendapatkan kabar-kabar yang baik.

13. Dsb.

Saat ada peristiwa atau musibah yang tak bagus hingga diberitakan tak sedap di mass media, kabar tak sedap itu akan tenggelam diantara ribuan atau jutaan kontent bagus yang sudah eksis di dokumentasikan sebagai jejak digital oleh google. Budaya sekolah yang terbiasa mengabarkan kebaikan di dunia maya akan menenggelamkan kabar-kabar atau jejak digital jelek tentang sekolah anda.

Anda punya ide lain?

Advertisements


Leave a comment

Pencitraan Sekolah (School Branding) itu harus, atau sekolah Anda bakal tak ada peminat

image

Pencitraan Sekolah atau School Branding adalah suatu cara seseorang membedakan satu sekolah dengan sekolah lainnya, adalah citra visual dan pesan yang masuk atau terekam di memori seseorang ketika mendengar nama sebuah sekolah disebut dalam percaturan sekolah yang massal, banyak sekali. Jika Adalah Guru atau karyawan sekolah, ini adalah janji apa yang menawarkan sekolah Anda. Ini adalah harapan yang ada di benak pelanggan utama, orang tua murid Sekolah Anda. Ini adalah kesempatan untuk terhubung secara emosional dengan orang tua murid Sekolah Anda.

Pencitraan Sekolah serupa dengan Pencitraan Manusia, ada sekolah yang dibangun di tepi jalan utama kota sehingga sejak pertama kali menerima murid baru sudah menjadi rebutan masyarakat sehingga yang diterima di sekolah itu memiliki nilai bagus dan dengan pembinaan yang biasa-biasa saja, alumni sekolah itu bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi atau merebut peluang kerja.

Sekolah di atas seperti seorang bayi yang dilahirkan sebagai keturunan keluarga bergenetik unggul, penampilannya bagus, intelegensinya bagus sehingga orang-orang disekitarnya tertarik padanya.

Bagaimana sekolah Anda? Apakah bergenetik baik disebabkan berbagai faktor seperti lokasi, konsep pendirian sejak awal (ada sekolah yang dibangun untuk jadi unggulan)?

Apakah sekolah Anda mewah? Sehingga orang-orang kaya senang bersekolah di tempat Anda, atau letak sekolah Anda mepet sawah (di pinggir sawah), mungkin sekolah Anda di perkampungan atau pedalaman yang tak bisa dicapai kendaraan selain berjalan kaki.

Apakah citra sekolah bisa dibentuk? Bagaimana membentuk citra sekolah?, bagaimana merubah citra sekolah?

Tujuan Pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indoensia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Setiap jenjang pendidikan memiliki tujuan yang khas, misalnya tujuan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan, sbb:

Tujuan khusus pendidikan menengah kejuruan adalah sebagai berikut: (a) menyiapkan peserta didik agar menjadi manusia produktif, mampu bekerja mandiri, mengisi lowongan pekerjaan yang ada sebagai tenaga kerja tingkat menengah sesuai dengan kompetensi dalam program keahlian yang dipilihnya; (b) menyiapkan peserta didik agar mampu memilih karir, ulet dan gigih dalam berkompetensi, beradaptasi di lingkungan kerja dan mengembangkan sikap profesional dalam bidang keahlian yang diminatinya; (c) membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni agar mampu mengembangkan diri di kemudian hari baik secara mandiri maupun melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi; dan (d) membekali peserta didik dengan kompetensi-kompetensi yang sesuai dengan program keahlian yang dipilih.

Sekolah yang punya citra bagus secara genetika hanya butuh perawatan, memelihara tradisi baik dan terus menunjukkan citra baik sesuai tuntutan masyarakat, jika hanya berdiam diri dan puas dengan keunggulan yang given, misalnya letak sekolah di tepi jalan utama, suatu saat bakal ditinggalkan masyarakat karena perkembangan wilayah pemukiman yang cenderung melebar ke pinggir kota.

Ada sekolah yang terletak di pusat kota, nomor sekolahnya sangat kecil, dahulu mendapat tambahan teladan atau bertaraf internasional kini makin tak diminati, hal ini terlihat dari jumlah dan level nilai murid yang masuk ke sekolah itu, makin menurun.

Anda bekerja di Sekolah Negeri?, merasa tak peduli dengan pencitraan? Karena walau semua guru bekerja santai, asal-asalan tanpa motivasi ke arah tujuan pendidikan, murid baru tak pernah berkurang, bahkan selalu berlebih karena gratis tak berbiaya dan semua fasilitas dipenuhi oleh Pemerintah.

Perhatikan banyak Sekolah Dasar di Negeri ini yang mengalami kesulitan sehingga melakukan berbagai cara agar masyarakat mau menyekolahkan anaknya di sekolahnya, bahkan ada sekolah yang guru-gurunya merelakan sebagian tunjangan sertifikasinya dikumpulkan untuk dibelikan seragam sekolah yang akan dihadiahkan kepada murid baru yang mendaftar di sekolah itu, karena masyarakat enggan menyekolahkan anaknya di sekolah itu.

Tak sedikit pula sekolah yang tak memperoleh murid baru sehingga sekolahnya dimerger atau digabung dengan sekolah lain yang masih ada peminat, ada yang bilang Program Keluarga Berencana (KB) berhasil sehingga jumlah penduduk berkurang, faktanya sekolah tetangga tetap banyak muridnya.

Bagaimana langkah-langkah melakukan pencitraan sekolah atau school branding?

1. Buatlah Logo atau Seragam Sekolah yang paling menarik, keren atau eye catching istilah anak sekarang, jika logo atau seragam sekolah anda yang sekarang dirasa sudah ketinggalam zaman, libatkan murid dalam bentuk sayembara untuk mendisain logo atau seragam sekolah dengan berbagai filosofi sesuai dengan misi sekolah. Logo atau seragam yang lama menjadi dokumentasi yang bisa dilihat, dikenang lewat display di dinding-dinding sekolah, kelas, website, blog, cerita sejarah sekolah, dsb.

2. Fokus pada tujuan pendidikan nasional & tujuan yang sesuai dengan jenjang pendidikan sekolah anda, usahakan semua sumberdaya berjalan ke arah tujuan, jika ada warga sekolah seperti kepala sekolah, guru, karyawan, orang tua dan murid.

Ada contoh sekolah yang menyatakan Ketuhanan dan Kejujuran adalah nilai-nilai yang diterapkan sekolah, ketika ada murid yang menyontek saat ulangan harian atau diketahui mencuri di sekolah mendapat sangsi dikeluarkan dari sekolah. Sekolah-sekolah seperti itu selalu banyak yang berminat walau harus membayar biaya yang mahal untuk diterima di sekolah itu.

3. Pembeda atau Ciri Khas. Orang tua memasukkan anaknya ke sekolah yang punya kelebihan atau pembeda dari sekolah lain, pembeda itu bisa berupa nilai-nilai atau skill yang diajar atau terus dilaksanakan selama murid bersekolah disana. Terlalu berat untuk melaksanakan atau memperlihatkan output semua tujuan pendidikan di Sekolah, pilih saja satu atau sedikit karakter unggulan sebagai pembeda yang bisa dilihat orang tua murid.

Sebagai contoh sekolah yang menyatakan menanamkan nilai ketaqwaan melakukan berbagai kegiatan yang pada akhirnya memperlihatkan sikap taqwa murid sekolah itu lebih baik dari murid sekolah lain, hal ini membuat masyarakat senang menyekolahkan anaknya disana karena merasakan perbedaan tingkah laku anaknya sebelum dan setelah bersekolah disana.

Ada contoh sebaliknya, sekolah yang menyatakan menanamkan nilai KOMPETITIF, tetapi kenyataannya murid di sekolah itu tak dibiasakan menekuni bidang-bidang tertentu yang bisa membuat nurid memiliki skill tertentu untuk memenangkan kompetisi, murid jarang diikutkan kompetisi di berbagai bidang, sehingga jarang menjadi juara memenangkan kompetisi, penekanan proses belajar hanya berfokus pada kompetisi mendapatkan nilai Ujian Nasional (UN) yang terbaik, hal ini tak cukup karena banyak orang tua yang sudah menyadari bahwa nilai UN saja tak cukup buat persiapan anaknya menghadapi masa depan.

4. Menyenangkan. Suasana sekolah harus memberi rasa senang dan membuat betah semua warganya, tak ada rasa takut atau cemas. Menjadikan murid, orang tua, guru & karyawan betah berada di sekolah karena teduh, nyaman serta keramahan warga sekolah.

5. Tak punya pembeda atau Ciri Khas. Sekolah yang biasa-biasa saja tanpa ciri khas mungkin masih banyak muridnya karena terletak di pemukiman, tapi coba perhatikan murid di sekolah itu, apakah berasal dari pemukiman terdekat atau dari luar lingkungan.

Saya pernah menjumpai sebuah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) yang berada di sebuah kompleks pemukiman kelas atas dengan mayoritas penduduknya dari golongan tertentu, ternyata murid sekolah itu yang berasal dari lingkungan terdekat hanya sedikit sekali, mayoritas berasal dari luar kompleks dalam kategori latar belakang sosial ekonomi yang jauh lebih rendah.

Manusia itu unik, dan manusia menyukai hal-hal unik yang berbeda yang bisa memberi nilai lebih, jika hal itu sesuai dengan harapan mereka, maka masyarakat bersedia membayar biaya walau mahal sekalipun secara sukarela, karena yakin bakal mendapat nilai tambah keunggulan yang khas pada anaknya.

Membiarkan Sekolah Anda tak memiliki Pembeda atau Ciri Khas akan membuat fihak luar memberi tekanan-tekanan sesuai kepentingan dan menjadikan manajemen Sekolah Anda semakin gagal fokus menuju kebesaran sekolah dan hanya sibuk menyelesaikan target-target rutin yang diminta lingkungan, tunggu saja saat sekolah Anda makin sepi peminat atau dipilih oleh murid-murid yang dekat tempat tinggalnya atau dengan level nilai rendah dan tak diterima di tempat lain.

6. Mengabarkan. Sekolah harus secara sadar merekam atau mendokumentasikan berbagai aktifitas sekolah, keunikan peserta didik, guru, karyawan, prestasi, proses latihan dan semua hal yang ada di Sekolah dalam bentuk Foto, Video dan menyeleksi foto-foto dan video terbaik untuk dipublikasikan dalam bentuk brosur, website, blog, instagram, youtube dan berbagai platform media sosial.

Guru bisa memberikan tugas belajar, yang pada zaman dulu harus di cetak, kini bisa dirubah dengan meminta murid mempublikasikan di blog, youtube atau media sosial lainnya yang bisa menjadi memory atau kenangan serta materi promosi pencitraan yang alami tentang apa yang dilakukan di dalam Sekolah Anda.

7. ATM sekolah yang bagus. Amati berbagai hal dari sekolah yang bagus memurut Anda, Tiru hal-hal bagus, Modifikasi cara melakukan hal-hal bagus disesuaikan dengan kondisi sekolah Anda.

Melakukan ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi) bisa dilakukan dengan berkunjung ke sekokah bagus yang terdekat, tak perlu studi banding hingga naik pesawat.

8. Budaya menghargai prestasi. Prestasi apapun yang diperoleh murid, guru, karyawan sekolah harus selalu mendapat apresiasi dari semua warga sekolah, sehingga muncul semangat berprestasi dan budaya membicarakan prestasi di sekolah jadi kebahagian bersama.

Jika sekolah tak terbiasa dengan budaya prestasi maka yang terjadi adalah pembiasaan membicarakan keburukan, kelemahan, kecelakaan fihak lain. Akhirnya, sekolah jadi terbiasa dengan keributan antar murid, antar guru, tawuran dengan sekolah lain, bolos, hamil di luar nikah, urusan polisi, dsb.

9. Pembiasaan evaluasi, introspeksi dan berubah.

Salah, keliru, gagal, benar, dan sukses adalah proses hidup yang selalu kita jumpai, apapun yang diperoleh harus dievaluasi, untuk jadi bahan perbaikan yang akan dilakukan di masa depan, sehingga perubahan selalu tak bisa dihindari, agar bisa terus bertahan di dunia yang terus berubah.

Di Negeri Paman Besut ada sekolah yang melakukan berbagai rekayasa, dari yang positif seperti mamotivasi murid agar serius belajar, memberi pengayaan materi, latihan soal-soal hingga memberi strategi menyontek atau bekerja sama saat ujian, memberi kunci jawaban, dsb …. sekolah-sekolah itu hanya jadi statistik negara, bahwa sekolah itu ada, tapi guru-guru & murid tak bangga pada sekolahnya hingga makin sepi peminatnya dan ditutup, dimerger atau dialih fungsikan gedungnya untuk keperluan lain, walau sekolah itu tak memungut biaya atau gratis.

Sementara, ada sekolah yang menyeleksi murid baru sangat ketat, menerapkan nilai karakter baik di sekolah, murid yang menyontek saat ulangan harian dikeluarkan dari sekolah, dsb …. umur sekolahnya hampir seratus tahun, tak pernah kekurangan murid, bahkan selalu menolak murid walau orang tua harus membayar uang masuk puluhan juta kepeng dan iuran bulanan jutaan kepeng.

Bagaimana citra sekolahmu?