Blog Pendidik


2 Comments

Tak Ada lagi Kampanye Sekolah Gratis?

Screen Shot 2018-03-07 at 11.02.23 AM

Mendikbud RI meminta calon kepala daerah tak lagi kampanyekan sekolah gratis. Apakah permintaan itu bakal dituruti oleh mereka yang ikut kontestasi pemilihan kepala daerah? Apakah maksud pernyataan tersebut? Saya mencoba menganalisa penyebabnya.

  1. Dorongan Kreatif. Menteri mendorong calon kepala daerah untuk tidak kopi paste, meniru gaya dan isi kampanye calon gubernur atau calon presiden sebelumnya.
  2. Pendidikan gratis efeknya tak bagus untuk kualitas pendidikan sehingga secara perlahan rakyat diedukasi bahwa tak ada pendidikan gratis yang pada akhirnya nanti rakyat harus ikut serta membayar biaya pendidikan. Undang-undang sistem pendidikan nasional sesungguhnya memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi membiayai pendidikan.
  3. Pembiayaan pendidikan minimal 20 persen APBN mungkin dirasa tak cukup untuk membiayai program pendidikan di negeri ini, sehingga harus ditambah untuk pencapaian kualitas pendidikan yang bermutu.
  4. Menteri sedang lupa kalau bos beliau menggunakan isu pendidikan gratis untuk kampanye pemilihan gubernur dan presiden.
  5. Penyebab lain, anda tahu apa?
Advertisements


7 Comments

Murid tak niat, guru nya baik amat

Beberapa hari sebelum ujian guru wali kelas di sebuah sekolah negeri yang gratis datang ke rumah murid perwaliannya karena murid itu sering tidak masuk sekolah. Percakapan dengan murid dan keluarganya diperoleh informasi bahwa murid itu tak bisa ke sekolah karena tak memiliki uang untuk ongkos ke sekolah, keluarga murid itu punya sepeda motor tapi tak ada uang buat beli bensin. Wali kelas yang baik itu meninggalkan sejumlah uang agar murisld itu bisa ke sekolah beberapa hari ke depan.

Tiba di sekolah, wali kelas yang baik itu mengabarkan hasil kunjungan ke rumah muridnya dan membuat beberapa guru iba sehingga memberi uang untuk ke sekolah hingga beberapa belasan atau puluhan hari ke depan.

Murid itu datang ke sekolah dan mengikuti ujian praktek dua hari, dan hari ke tiga dimana dia masih harus ujian murid itu tak hadir di sekolah.

Kemanakah murid itu?
Untuk apa uang yang diberikan guru-gurunya?
Kenapa dia tak datang ujian?
Kenapa ….
Kenapa ….

Menurut Anda?


Leave a comment

Sekolah seolah pasrah dan tak bergairah

“Pak Dedi, mayoritas murid sekolah kami berasal keluarga miskin, mereka tinggal di rumah kontrakan satu kamar yang punya banyak fungsi untuk ruang keluarga, kamar tidur, dsb, kemampuan intelektualnya rendah, perilaku disiplin sulit buat mereka, kalau diterapkan sangsi tegas sesuai aturan tata tertib akan banyak murid yang dikeluarkan dari sekolah, mungkin jika mereka punya ijazah nanti ada peluang hidup lebih baik, oleh sebab itu sekolah sering membiarkan pelanggaran disiplin atau tata tertib, kami sulit merubah karakter nakal atau perilaku tak baik anak-anak miskin itu”.

Foto: Ilustrasi

 

Maka sekolah itu puluhan tahun menjadi sekolah pilihan terakhir dari masyarakat di sekitarnya, bukan sekolah pilihan pertama, sekolah itu tetap diminati mungkin karena statusnya sebagai sekolah negeri, gratis, bagus gedungnya, letaknya dekat jalan utama.

Bagaimana dengan misi sekolah membentuk karakter, merubah kualitas hidup dari yang kurang baik menjadi yang lebih baik, seolah sekolah hanya jadi institusi pemberi ijazah tanpa meningkatkan mutu anak negeri? Jika hal itu dibiarkan akhirnya sekolah itu tak akan diminati oleh masyarakat karena mereka sadar bahwa guru-guru di sekolah itu tak bekerja secara profesional. Mungkin guru-guru di sekolah itu tak tahu bahwa tak jauh dari sekolah mereka ada sekolah yang punya aturan siswa yang menyontek saat ulangan akan dikeluarkan dari sekolah, tetapi orang tua murid bersedia membayar sumbangan puluhan juta rupiah kepada sekolah untuk bisa diterima di sekolah itu dan membayar iuran dua juta rupiah lebih setiap bulan, karena para orang tua yakin anaknya dididik dengan baik di sekolah yang tak gratis itu.

Jika anda orang tua murid, pilih sekolah yang mana?

Jika anda guru, apakah pasrah pada keadaan,  membiarkan saja proses pendidikan di sekolah berlangsung sekedar formalitas, tanpa greget membentuk generasi yang lebih baik karena sudah puas dengan penghasilan yang tinggi, takut kena isu-isu HAM, tak dimotivasi pimpinan, atau sebab lainnya?

Karena ada pejabat di pemerintah daerah kota itu yang bilang bahwa kinerja yang bagus aparatnya terlihat dari penggunaan seragam & atribut yang lengkap serta datang dan pulang tepat waktu (termasuk guru?).


2 Comments

Sekolah gratis, murid tak berhak menuntut kualitas, “Maunya gratis koq pengen bagus.”

Di Negeri Paman Besut, sekolah negeri gratis sejk SD hingga SLTA, orang tuan yang keadaan ekonomi terbatas sangat senang dengan kebijakan pemerintah daerahnya, karena bisa menyekolahkan anaknya di sekolah negeri tanpa merisaukan biaya, terlebih lagi ada pemberian beasiswa kepada murid berupa kartu pintar atau nama lainnya, murid yang bersekolah seperti sudah bekerja memperoleh penghasilan. menurut peraturan, dana yang diberikan untuk mendukung berbagai kegiatan sekolah anak, tetapi orang tua sering ikut menggunakan uang untuk keperluan keluarga yang tak berhubungan dengan sekolah.

Di beberapa sekolah negeri mayoritas gurunya adalah pegawai honor alias belum menjadi Pegawai Negeri Sipil – PNS, karena guru-guru yang PNS sudah pensiun dan belum ada droping guru baru PNS dari Pemerintah, karena tak boleh menerima sumbangan dari masyarakat atau orang tua murid, maka sekolah hanya mengandalkan dana operasional dari pemerintah daerah dan pusat, naasnya hingga bulan Mei anggaran tak kunjung turun ke sekolah. Untuk guru yang PNS tak masalah karena penghasilan atau gaji dari pemerintah tetap turun seperti biasa, sayangnya sekolah jadi kesulitan untuk membayar honor guru yang belum PNS, sementara para guru itu memiliki keluarga.

Untuk operasional sekolah seperti kebersihan, perawatan, listrik, air dan lain-lain kepala sekolah melakukan berbagai upaya untuk menutupi dana, bahkan ada yang harus meminjam uang ke Bank agar cukup dana untuk operasional sekolah dan membayar honor guru, karena proses belajar tak boleh berhenti seharipun. Kegiatan kurikuler maupun ekstra kurikuler jadi terhambat pelaksanaannya, jika ada murid atau orang tua murid yang melihat ada penurunan pelayanan secara kuantitas maupun kualitas dan menuntut kepada guru atau kepala sekolah agar memberi pelayanan yang bermutu bisa dijawab begini: “Maunya gratis koq pengen bagus.”

Akhirnya, orang tua yang berpendidikan dan mampu menyekolahkan anaknya di sekolah swasta yang bagus meskipun biaya yang harus dikeluarkan tak sedikit, dan sekolah-sekolah negeri makin kekurangan murid karena masyarakat makin sadar pentingnya pendidikan bermutu buat anak-anaknya.

Sekolah-sekolah negeri yang masih mengedepankan mutu, para orang tuanya kompak memberi dukungan dengan memberi donasi uang utntuk berbagai kegiatan sekolah yang bermanfaat buat anak-anaknya yang dititipkan di sekolah itu, walaupun Gubernur atau Kepala Dinas marah kepada Kepala Sekolahnya, para orang tua marah kepada Gubernur & Kepala Dinas; “Kami ingin Sekolah yang lebih bermutu sesuai keinginan kami, kalian tak perlu melarang kami menyumbang sekolah anak kami.”


2 Comments

SEKOLAH GRATIS BIKIN PENDUDUK ASLI TERSINGKIR & MAKIN MISKIN

miskin

miskin

Di Ibukota Negeri Paman Besut penduduk asli gembira luar biasa
karena sekolah di SD hingga SLTA semua gratis
masih ditambah pemberian beasiswa ini itu
sehingga orang tua hampir tak mengeluarkan biaya buat sekolah anaknya

Para orang tua penduduk asli Ibukota Negeri
jadi enggan berusaha, mereka bekerja serabutan,
menjadi tukang ojek, buruh bangunan, parkir liar, dagang rokok, koran, dll
para orang tua merasa tak perlu cari penghasilan yang cukup,
menabung juga dipandang tak perlu
karena anaknya masuk SD negeri gratis, SMP negeri gratis, hingga SLTA

Sekolah-sekolah terengah-engah mengatur biaya operasional
Dana Pemerintah turun hampir selalu terlambat
sementara kebutuhan operasional sekolah tak pernah henti
masyarakat kini enggan peduli dan tak mau support sekolah
Guru mengajar seperti sambil lalu karena banyak yang belum PNS
dan tak ada biaya untuk membayar honor mereka
jadilah sekolah seperti tak mengolah anak didiknya
anak-anak asik bermain bersama teman, membuat video takseronok di kelas,
menjadikan tawuran seperti pesta rutin bertaruh nyawa
lulus ujian nasional tak sulit karena di sekolah ada tim sukses yang ulet

Setelah lulus SLTA anak-anak penduduk asli tak bisa lanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi
karena jadi mahasiswa perlu biaya mahal
orang tua tak memiliki tabungan
penghasilan yang sedikit selalu habis untuk makan, kontrak rumah, merokok & beli pulsa
Mereka kemudian bekerja di sektor informal yang berpenghasilan minim

Para pendatang dari luar Ibukota Negeri
berusaha sekuat tenaga sekolahkan anaknya di sekolah yang bagus
walau tak gratis, ada biaya yang harus dibayarkan
tapi kualitas pendidikan disana bisa dipercaya
untuk membayar biaya sekolah anaknya para pendatang kerja keras
perbanyak tabungan buat kuliahkan anaknya
hingga anak-anak mereka lulus perguruan tinggi negeri
mereka kemudian bekerja di sektor yang memberi penghasilan besar

Generasi penduduk asli hidupnya makin sulit
para pendatang menempati posisi yang makin elit
anak-anak penduduk asli cuma jadi pekerja di pabrik
anak-anak para pendatang jadi manajer dan pimpinan
anak-anak penduduk asli yang tak kerja cuma jadi penarik ojek atau kerja serabutan
anak-anak para pendatang peroleh jabatan tinggi karena pendidikan tinggi


Leave a comment

Uangnya hanya cukup untuk merokok, biaya pendidikan tak ada

20121005-175713.jpg
Di Negeri Paman Besut, Pemerintah dan rakyatnya gemar teriak “PENDIDIKAN GRATIS”, ternyata ini memperkaya industri benda putih sembilan senti, karena uang otang tua habis cuma buat penuhi kecanduan … padahal, buat pipis mereka rela membayar …. Artinya, pipis lebih penting dari sekolah anak …. dimanakah anda sekolahkanbuah hati?