Blog Pendidik

@dwitagama: karakter tumbuh dari pembiasaan


2 Comments

Membayangkan Sekolah Full Day tanpa Ujian Nasional

cover_ciriekskulkeren

Pagi hari, murid datang ke sekolah dalam riang gembira, kegiatan diawali dengan olahraga senam aerobik diiringi musik gembira yang dipandu oleh aktifis kegiatan ekstra kurikuler senam aerobik yang sudah dilatih oleh profesional, berlanjut dengan sarapan pagi bersama, murid dan guru membersihkan diri mengganti pakaian olahraga dengan pakaian lain untuk belajar mengajar kecuali yang jadwalnya pelajaran olahraga. Murid belajar hingga waktu sholat dhuhur.

Di Masjid Sekolah aktifis Rohis yang piket sudah bersiap lebih dulu membereskan masjid, menyiapkan sound system, dsb. Murid yang menjadi petugas pemberi ceramah, mengkaji al qur’an atau kuliah tujuh menit (kultum) sudah menyiapkan diri. Muadzin, iqomah dilakukan oleh murid, ada murid sebagai pembawa acara (MC) yang melaporkan kas masjid sekolah, info kegiatan Masjid, Rohis dan nama petugas kultum hari ini dan besok atau info lainnya.

Murid yang beragama lain berkumpul di ruang berbeda melakukan doa, kajian kitab suci atau diskusi sesuai agama yang dianutnya dibimbing oleh guru yang beragama sama.

Setelah sholat murid-murid dan guru menikmati makan siang di kantin atau bekal yang mereka bawa sendiri sambil mendengar musik lembut dari audio terpusat sekolah dengan penyiar atau host seorang murid yang bertugas bergantian setiap hari. Setelah itu mereka kembali belajar hingga waktu sholat ashar.

Murid yang beragama lain berkumpul di ruang berbeda melakukan doa, kajian kitab suci atau diskusi sesuai agama yang dianutnya dibimbing oleh guru yang beragama sama.

Di Masjid Sekolah aktifis Rohis yang piket sudah bersiap lebih dulu membereskan masjid, menyiapkan sound system, dsb. Murid yang menjadi petugas pemberi ceramah atau kuliah tujuh menit (kultum) sudah menyiapkan diri. Muadzin, iqomah dilakukan oleh murid, ada murid sebagai pembawa acara (MC) yang melaporkan kas masjid sekolah, info kegiatan Masjid, Rohis dan nama petugas kultum hari ini dan besok atau info lainnya.

Selesai sudah kegiatan belajar, selesai sholat semua murid berganti pakaian sesuai pilihan kegiatan ekstra kurikuler yang diminati, ada yang berbaju pencak silat, karate, futsal, bulu tangkis, penari, peneliti, juru masak, basket, renang, pilot (aeromodeling), marching band, pencinta alam, dan berbagai kostum sesuai kegiatan yang diminati.

Kelas-kelas dan halaman sekolah meriah dengan atraksi dan interaksi kelompok-kelompok ekskul, apalagi ketika ekskul tertentu akan mengikuti kompetisi atau festival, latihan mereka jadi lebih serius untuk mengejar target yang telah disepakati.

Matahari tenggelam, murid-murid mandi di sekolah berganti pakaian untuk bersiap sholat magrib bersama di masjid sekolah. Aktifis Rohis yang piket sudah bersiap lebih dulu membereskan masjid, menyiapkan sound system, dsb. Murid yang menjadi petugas pemberi ceramah atau kuliah tujuh menit (kultum) sudah menyiapkan diri. Muadzin, iqomah dilakukan oleh murid, ada murid sebagai pembawa acara (MC) yang melaporkan kas masjid sekolah, info kegiatan Msjid, Rohis dan nama petugas kultum hari ini dan besok atau info lainnya.

Murid yang beragama lain berkumpul di ruang berbeda melakukan doa penutup kegiatan hari itu, kajian kitab suci atau diskusi sesuai agama yang dianutnya dibimbing oleh guru yang beragama sama.

Murid-murid pulang dengan rasa senang, keringat di badan, sudah bersih berganti segar dan wangi setelah mandi di sekolah, tak perlu mengerjakan Pekerjaan rumah karena semua pekerjaan sudah diselesaikan di sekolah, tiba di rumah murid-murid bercengkerama denga orang tua dan adik kakak, hingga tiba saatnya beristirahat.

Sekolah harus memiliki sarana ibadah berupa masjid yang bisa menampung semua murid, kamar mandi harus cukup banyak untuk mempercepat murid membersihkan diri setelah berolahraga pagi dan melakukan kegiatan ekstra kurikuler sebelum sholat magrib.

Sekolah jadi seperti rumah kedua dari anak-anak negeri, mereka bergembira bersama teman sebaya didampingi guru-guru untuk mengotimalkan bakat dan minat yang bisa jadi andalan hidup di massa depan, yang punya prestasi luar biasa akan mewakili negera untuk kompeyisi tingkat dunia seperti olimpade atau eksebisi seni di luar negeri. Fasilitas makan siang, ketersidaan menu di kantin dan sarana lainnya harus mendukung semua kegiatan siswa sepanjang hari di sekolah.

Bayangkan, semua murid di sekolah berpartisipasi sebagai pemandu atau instruktur senam, menyiapkan dan jadi pelaksana sholat tiga kali sehari di sekolah yang jumlahnya bisa lebih dari sepuluh orang murid setiap hari, buat sekolah yang manganut agama berbeda bisa menyesuaikan dengan ritual atau cara ibadahnya masing-masing, belasan murid yang mengoperasikan radio sekolah dengan musik pilihan saat jam istirahat. Semua murid terlibat kegiatan ekstra kurikuler yang wajib diikuti murid setiap hari.

Dinas Pendidikan atau Pemerintah Daerah harus menyelenggarakan kompetisi berbagai kegiatan yang bisa menyalurkan aktifis ekskul di sekolah untuk uji kebolehan atau mengukur kemampuan hasil latihan di sekolah, hal ini bisa memunculkan anak-anak negeri yang berbakat untuk banyak cabang olahraga yang bisa dibina menjadi atlit nasional berbagai cabang olahraga hingga juara olimpiade.

Murid-murid Kelas terakhir seperte Kelas 6, 9 dan 12 diberikan treatmen khusus bagi mereka yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, untuk murid SD, SLTP dan SLTA yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi mendapat pengayaan materi pelajaran untuk bisa menembus seleksi masuk ke sekolah pada jenjang yang lebih tinggi, kegiatan pengayaan materi dilakukan seminggu empat hari, yang satu hari murid tetap melakukan kegiatan ekskul sesuai minat seperti olahraga dan seni agar tetap terjaga kesehatan jasmani dan mental mereka.

Kelulusan ditentukan oleh Rapat Dewan Guru dengan kriteria karakter atau moral yang baik dan prestasi murid sesuai pilihan atau minat ekskulnya. Bakal terjadi seorang murid yang lulus dengan produktifitas sangat memuaskan yang telah mampu menghasilkan banyak film pendek dan menjadi juara festival film tingkat internasional, tetapi memiliki nilai matematika yang kurang memuaskan, atau murid yang punya kemampuan public speaking sangat bagus karena terbiasa menjadi penceramah di Masjid Sekolah, di hadapan teman yang sama agamanya, kemudian menjadi aktifis di organisasi ekskul, OSIS, dan setelah dewasa menjadi pengurus partai dan terpilih menjadi pemimpin yang dihormatri rakyatnya. Mungkin nanti kita terbiasa menjumpai murid jago olahraga beladiri yang telah menjuarai kompetisi tingkat dunia termasuk olimpiade, tapi tak mampu mendapat nilai ujian bahasa atau matematika yang baik.

Betapa dahsyatnya, negeri yang berpenduduk lebih dari seperempat milyar ini menguasai berbagai cabang olah raga dan memiliki banyak bintang-bintang di dunia seni musik, penyanyi, pesulap, penulis, pelukis, pembuat film dan sebagainya, menurut anda?

Advertisements