Blog Pendidik


2 Comments

bukan mengurangi hak anak negeri peroleh pendidikan

SEMOGA KALIAN PANJANG UMUR

Harian The Jakarta Post ini hari soroti tradisi perkelahian pelajar satu halaman penuh di hal. 16 dengan foto yang besar dan peta yang merinci lokasi dimana sering terjadi tawuran dan sekolah-sekolah yang diduga aktif tawuran.

CILINCING TAK BERTANDA, SMKN 36 TAK TERTULIS, THX ALL

Saya tak mau komentar tentang tulisan dan data yang diungkap disana benar atau tidak, cuma mau katakan:

“Alhamdulillah, peserta didik SMKN 36 Jakarta tak suka berkelahi, ribut atau tawuran, karena mereka sudah menandatangani perjanjian bahwa jika melakukan empat hal tabu di SMKN 36 Jakarta, yaitu: berkelahi (dengan teman satu sekolah atau sekolah lain dengan membawa atau kenakan atribut sekolah), mencuri, lompat pagar dan edarkan narkoba — maka saat itu juga peserta didik itu akan langsung dikembalikan pembinaannya kepada orang tua, sebuah kata penghalus untuk kata “dikeluarkan”

Terima kasih untuk Bapak Haji Muhammad Tuan, Wakil Kepala SMK Negeri 36 Jakarta bidang kesiswaan dan timnya; Bapak Sutiyana, Bapak Edi, Ibu Sulistiyani, Ibu Nastiti serta semua guru dan karyawan yang berperan aktif membina anak bangsa”

Itu kami lakukan bukan untuk mengurangi hak anak negeri peroleh pendidikan, tetapi untuk mendorong mereka agar jadi individu yang biasa menimbang resiko sebelum berbuat … karena kami mencintai mereka, love u all, doa kami semoga kalian tak mati cepat, tapi bisa nikmati hidup yang lebih sejahtera.

DIA ANAK HEBAT, PAPARKAN HIKAYAT NABI

SENI ASAH NURANI

TAIKO, BUDAYA JEPANG

Di SMK N 36 Jakarta, peserta didik kami latih untuk berani tampil percaya diri dalam hal-hal yang baik, seperti mampu bicara di depan hampir sembilan ratus orang, menyampaikan materi apa saja yang mereka kuasai, dll .. bukan berani ribut untuk cari mati lebih cepat dari yang dijadwalkan Tuhan.

Advertisements