Blog Pendidik

@dwitagama: karakter tumbuh dari pembiasaan


3 Comments

Mimpi Indonesia


Mari kita bermimpi dan berhitung. Melalui Visi 2030 apa yang kira-kira dialami anak Indonesia yang lahir tahun 2007? Ketika berumur 23 tahun nanti, mereka yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi, kalau mendapatkan pekerjaan akan membentuk angkatan kerja dengan pendapatan per kapita 18.000 dollar AS per tahun. Mereka akan berpenghasilan Rp 15 juta per bulan, atau Rp 500.000 per hari dengan kurs Rp 10.000. Merekalah sebagian dari 285 juta jiwa penduduk Indonesia.

Visi Indonesia 2030 itu ketika dipertemukan dengan realitas aktual, terbentang jurang besar, kata Romo Pujasumarto. Pada tahun 2006, misalnya, dengan penduduk lebih dari 220 juta orang, kondisi kehidupan ekonomi Indonesia masih sangat memprihatinkan.

Kemiskinan adalah kenyataan hidup. Sampai Februari 2005, misalnya, 35,10 juta warga negara, artinya 15 persen dari 97 juta penduduk—membengkak menjadi 35,1 juta orang (15,97 persen) dari jumlah penduduk Indonesia—menderita kemiskinan. Jumlah itu meningkat menjadi 39,05 juta (17,97 persen) pada bulan Maret 2006. Merekalah orang miskin dengan biaya hidup di bawah Rp 14.000 per hari per orang, artinya per bulan Rp 420.000. Ketika kemiskinan diukur dengan biaya hidup sekitar Rp 18.000 per orang per hari, jumlah orang miskin Indonesia menjadi 108,78 juta atau sekitar 49 persen penduduk Indonesia.


Kalau data di atas disandingkan dengan data pengangguran, dua entitas yang punya relasi saling memengaruhi, dijumpai betapa negeri ini secara kualitatif merosot. Laporan PBB yang terakhir, Mei 2007, menyebutkan tingkat pengangguran di Indonesia merupakan yang tertinggi di antara negara-negara ASEAN. Sepanjang tahun 2000-2006 tingkat pengangguran di sebagian besar negara ASEAN stabil atau menurun, sebaliknya di Indonesia naik dari 6 persen menjadi 10,4 persen.

Jurang besar visi dan realitas itulah yang dihadapi. Visi Indonesia 2030 tidak memperhitungkan tantangan riil yang dihadapi. Visi memang mimpi. Sehingga ketika dibuat dengan mengabaikan faktor ruang kontekstual, visi menjadi utopia. Ngawang-awang di langit takkan tercapai. Padahal ada hitung-hitungan yang dibuat Tujuan Pembangunan Abad Milenium (Millenium Development Goals/MDGs). MDGs dengan rinci menegaskan tingkat capaian pembangunan sampai 2015.

Mengenai bidang pendidikan yang tidak dirumuskan Visi 2030, MDGs menargetkan pada 2015 semua anak di mana pun dapat menyelesaikan pendidikan dasar. “Saya melihat rumusan MDGs realistis dan terukur baik dalam hal menanggulangi kemiskinan dan kelaparan maupun pendidikan,” kata Tukiman Taruna. Dengan tidak menyebutkan pendidikan dan semata-mata capaian ekonomi, rupanya Visi 2030 beranggapan,
“Sejauh perekonomian membaik apalagi estimasi pendapatan 50 dollar AS sehari, sejauh itu pula pendidikan semakin mencerdaskan bangsa.”

MDGs mencantumkan 41 indikator. Semua indikantor terukur dengan jelas, misalnya, target menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya pada tahun 2015. Indikatornya, prevalensi anak balita kurang gizi, proporsi penduduk yang berada di bawah garis konsumsi minimal 21.000 kalori per kapita per hari. Sementara dalam Visi 2030 masih sangat global dan umum.

Bicara mengenai angkatan kerja berarti juga bicara tentang pendidikan. Artinya, apakah angkatan kerja nanti sudah siap dan sudah dengan baik dipersiapkan. Sebuah penelitian yang pernah dilakukan sebuah fakultas Universitas Gadjah Mada, menunjukkan ketika kita berbicara tentang perkembangan anak, 76 persen keberhasilannya sangat tergantung dari program intervensi yang kita lakukan. Intervensi antara lain dilakukan lewat Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diluncurkan
pemerintah tahun 2006.

Ketika program intervensi dilakukan terhadap kesejahteraan keluarga, kontribusinya hanya 50 persen bagi perkembangan anak. Sementara pendapatan 18.000 dollar AS per tahun menurut Visi 2030 mau digenjot. Berdasar penelitian ini sumbangannya terhadap perkembangan anak hanya 50 persen.

Pendidikan = jembatan

Hitung-hitungan logis diskusi sehari itu menegaskan persyaratan yang disampaikan kepala negara. Mengutip Presiden, “bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mewujudkan mimpi yang besar”, perwujudan itu memerlukan sejumlah syarat. Salah satu jembatan yang perlu mendapat perhatian serius adalah pendidikan; bagaimana mempersiapkan anak didik agar mengalami “impian 2030” itu.

Sebaliknya pada saat yang sama, kita memang bangsa gampang lupa, pengidap amnesia.

Dalam konteks pengidap amnesia, tahun 1957 Presiden Soekarno pernah kecewa. Dia kecewa atas pengembangan pembangunan nasional yang perlu diberi basis pada pengembangan sumber daya manusia. Dua puluh lima tahun kemudian kondisi itu tidak jauh berbeda. Menurut Soedijarto, panelis, di tengah kondisi semakin tertinggal jauh dari perkembangan global, tahun lalu Indonesia belum termasuk dalam 10 besar ekonomi .

Menurut Soedijarto, dalam kondisi mencemaskan itu, Indonesia Forum meramalkan tahun 2030 Indonesia akan muncul sebagai salah satu lima besar ekonomi dunia. Perkembangan pesat itu menurut Soedijarto disebabkan keberhasilan mengembangkan pendidikan tinggi.

India, misalnya, yang pada 2005 berada di luar 10 besar diramalkan pada 2040 masuk menjadi nomor tiga. India diramalkan menghasilkan hampir 700.000 sarjana IPA dan teknik yang pada tahun 1990-1991 baru lebih kurang 200.000 sarjana. China yang pada 1990-1991 menghasilkan 200.000 sarjana IPA dan teknik, tahun 2004 menghasilkan lebih dari 500.000 sarjana. AS yang pada 1990-1991 menghasilkan lebih dari 300.000 sarjana IPA dan teknik, tahun 2004 telah menghasilkan 400.000 sarjana.

Cerita sukses mereka menunjukkan bahwa pendidikan, utamanya pendidikan tinggi, merupakan faktor yang menentukan keberhasilan pembangunan negara, terutama ekonomi. Karena itu, menarik dipersoalkan Visi Indonesia 2030 kurang mendudukkan peran pendidikan tinggi. Memang tidak langsung disebutkan, pada 2030 Indonesia masuk 10 besar dunia, tetapi bagaimana “jembatan” itu dikembangkan tidak dijelaskan rinci.

Pertanyaannya, bagaimana strategi pendidikan nasional Indonesia menghadapi tantangan ke depan itu. Selain menyangkut dana pendidikan yang belum mencapai 20 persen, AS pada tahun 2005 menyediakan beasiswa 100 miliar dollar AS, di samping dana-dana lain untuk meningkatkan jumlah lulusan bermutu dan kompeten.

Belum ketemu

Kalau segala ketentuan dalam Pasal 31 UUD 1945, terutama yang terkait Pasal 31 Ayat 2: “setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya,” Pasal 31 Ayat 5: “pemerintah berkewajiban memajukan iptek” dilaksanakan secara konsekuen, perkiraan visi Indonesia 2030 bukanlah mimpi besar.

Menurut Soedijarto, pasal-pasal dengan konsekuensi anggaran 20 persen itu mengarahkan, kalau Indonesia akan membangun kehidupan bangsa yang cerdas, amat tergantung keberhasilan menyelenggarakan sistem pendidikan nasional yang bermutu dan merata. Hal itu tercermin dari keberhasilan Singapura, Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang yang didasarkan atas keberhasilannya membangun infrastruktur sebagai bagian
dari fase awal industrialisasi. Infrastruktur dimaksud meliputi fisik, teknologi, SDM, dan kewirausahaan/usaha kecil. Keempatnya prasyarat keberhasilan pembangunan ekonomi.

Dalam hal infrastruktur teknologi yang terkait dengan penyiapan SDM, terlihat jelas hubungan universitas dan produktivitas universitas utamanya bidang iptek. Pada abad ke-21 ini universitas merupakan mesin utama lembaga pendidikan dan riset, dan pembangunan ekonomi berdasar iptek. Karena itu, AS menyediakan anggaran belanja untuk pendidikan tinggi 2,5 persen PDB-nya, sedangkan dana pendidikan bagi SD hingga
universitas di Indonesia hanya 0,2 persen PDB. Akibatnya, walau lulus, tak ada hubungannya dengan dunia industri.

Strategi dan sistem pendidikan di Indonesia terlihat tidak gayut (ketemu), dengan Visi 2030. Praksis pendidikan tidak relevan dengan pembangunan ekonomi, tidak relevan dengan pembangunan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebagai sebab atau akibat, hal itu terlihat belum dibiayainya secara penuh penyelenggaraan pendidikan dasar, sehingga sekitar 30 persen anak usia SD tidak dapat menyelesaikan pendidikan tingkat SD, hanya 60 persen lulusan SD meneruskan ke jenjang SMP. Dari sisi hukum terlihat tidak dilaksanakannya ketentuan Pasal 12 Ayat 6 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang hak anak untuk memperoleh pelayanan pendidikan sesuai bakat, minat dan kemampuannya.

Penyelenggaraan ujian nasional mempersulit upaya menjadikan sekolah sebagai tempat pembelajaran segala kemampuan, nilai, dan sikap yang diperlukan. Padahal, lembaga pendidikan bukanlah untuk memilih dan memilah mereka dari segi kemampuan kognitif, suatu praksis pendidikan yang a-demokratis. Lebih parah lagi, mereka berasal dari keluarga tidak mampu. Apalagi dengan kelalaian Indonesia membiayai pendidikan
tinggi, semakin terlihat sulit merealisasikan Visi 2030.

Karena berbagai ketentuan dalam UUD 1945, dan UU No 3/2003 tidak dilaksanakan, artinya perlu tinjauan budaya politik di Indonesia. Tidak dilaksanakannya ketentuan mendasar untuk masa depan bangsa, masih menjadi salah satu karakteristik praktik politik di Indonesia; menunjukkan belum cerdasnya kehidupan bangsa ini.

Diskusi menawarkan jalan keluar. Satu di antaranya bagaimana partai tidak hanya berkutat pada persoalan hak-hak politik, tetapi juga hak-hak dasar sebagai hak asasi manusia, di antaranya hak memperoleh pendidikan baik dan kompeten.

Dengan fokus itu politisi dan birokrat Indonesia memperjuangkan secara serius dalam wacana maupun eksekusi tentang terealisasinya pasal-pasal UUD berikut turunannya, termasuk terealisasinya 20 persen anggaran nasional untuk pendidikan. Kalau tidak, gagal pernyataan Presiden, bahwa “bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa mewujudkan mimpinya”.

Visi Indonesia 2030 tetap jadi mimpi besar.

Sumber: Kompas


7 Comments

TI dan Anak KITA

Liputan dari Seminar Kiat Orang Tua Mempersiapkan Anak Menghadapi Era Informasi yang Kian Canggih, Libra Room Hotel The Sultan, Jakarta 12 Mei 2007 Kerja Sama Komite Sekolah SDN P Menteng 01 Jakarta dengan Dewan Pendidikan Jakarta Pusat


Seto Mulyadi, mengungkapkan bahwa orang tua ketika mendidik anak harus dilakukan dengan hati melalui pemberian contoh, membuka wawasan anak lebih luas melalui media elektronik dengan bimbingan orang tua, biarkan mereka memutuskan kemana arah yang dituju ketika dewaasa, orang tua hanya memberi gambaran tentang berbagai profesi yang ada di masyarakat. Ada kemampuan yang harus dikembangkan agar dimasa dewasa anak mempunya parasit-parasit cadangan sehingga mampu berperan di lingkungannya. Beliau memberi contoh seorang Doktor di bidang musik yang eksis di bisnis jamu. Menekankan bahwa pendidikan sarjana bukan menjadi hal utama yang mebawa kesuksesan, banyak orang sukses yang tak melalu pendidikan sarjana.

Roy Suryo, pakar TI dan Multi Media mengungkap berbagai hal yang berkembang di dunia dan mendorong kewaspadaan orang tua untuk waspada agar anak-anak tak terbawa pengaruh negatif IT tetapi mampu mendorong pemanfaaatan ke arah yang positif … paparannya sangat interaktif dengan berbagai rekaman peristiwa disekitar rekayasa wajah Presiden hingga video mesum anggota lagislatif yang terhormat.

Prof. Dr Arief Rahman mengedepankan agama dan moral sebagai landasan utama pengembangan diri anak-anak dimana orang tua harus memberi contoh terlebih dahulu sebelum menuntut anaknya melakukan suatu, keikhlasan. Watak yang perlu dikembangkan mencakup Bertaqwa, Fleksibel, Keterbukaan, Ketegasan, Berencana, Percara Diri/Mandiri, Toleransi, Disiplin, Berani ambil resiko, Orientasi masa depan-penyelesaian tugas.

Penyaji terakhir dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si yang ssampaiakan betapa pentingnya zat besi untuk pertumbuhan anak


7 Comments

Trik diTILANG polisi


Melanggar rambu lalu lintas? … ditilang? damai di tempat … atau disuruh push up? ha ha ha ….

Silahkan simak trik dari millis kompas:

Sekedar info nih. Kalau kena tilang, langsung minta aja Slip Biru. Polisi Lalulintas itu punya 2 slip. Slip Merah dan Slip Biru. Kalau Slip Merah, berarti kita menyangkal kalau melanggar aturan dan mau membela diri secara hukum. Kalau kita dapat Slip Merah , berarti kita akan disidang. Dan SIM kita harus kita ambil di pengadilan setempat. Tapi ngerti sendiri kan prosesnya? Nguantri yg panjang bgt. Belom lagi calo2 yang bejibun. Tetapi kalau Slip Biru kita mengakui kesalahan kita dan bersedia membayar denda. kita tinggal transfer dana ke nomer rekening tertentu (BNI kalo ga salah). Abis gitu kita tinggal bawa bukti transfer untuk di tukar dengan SIM kita di kapolsek terdekat dimana kita ditilang.

Misalnya, kita ditilang di Perempatan Mampang-Kuningan, kita tinggal ambil SIM kita di Polsek Mampang. Dan denda yang tercantum dalam KUHP Pengguna Jalan Raya itu tidak melebihi Rp. 50.000,- dan dananya Resmi, masuk ke Kas Negara. Jadi, kalau ada Polantas yang sampe minta undertable Rp. 75.000,- atau Rp. 100.000,- Biasanya di Bunderan HI arah Imam Bonjol tuh, (sorry) but it’s Bu**S**t! Pasti masuk kantong sendiri.

Trust me guys, I’ve been doing this before. Waktu kena tilang di Bundaran Kebayoran (Ratu Plaza). Saya memotong garis marga. Karena dari arah senopati sebelumnya saya berfikir untuk ke arah Senayan, tetapi di tengah jalan saya berubah pikiran untuk lewat sudirman saja. Dan saya memotong jalan. Saya berhenti di lampu merah arah sudirman. Dan tiba-tiba Seorang polisi menghampiri dan mengetok kaca mobil. Dia tanya, apa saya tau kesalahan saya? Ya saya bilang nggak tau. Trus dia bilang kalau saya memotong Garis Marka (atau apalah namanya, garis yang bukan garis putus-putus). Saya cuman bilang, masa sih pak? saya nggak liat. Maafin deh pak. Tapi dia ngotot meminta SIM saya. Alhasil saya harus berhenti sejenak untuk bernegosiasi. Dia meminta Rp. 70.000,-. Dengan alasan, kawasan itu adalah Kawasan Tertib Lalulintas. “Nyetir sambil nelfon aja ditilang mbak!”. Dia bilang gitu. Saya kembali ke mobil, dan berbicara sama teman saya yang kebetulan menemani perjalanan
saya. Teman saya bilang, “Udah kasih aja Rp. 20.000,- kalo ga mau loe minta Slip Biru aja”. Dengan masih belum tau apa itu Slip Biru, saya kembali menghampiri pak polisi sambil membawa uang pecahan Rp. 20.000,-. “Pak, saya cuman ada segini.” Si polisi dengan arogannya berkata, “Yaahh.. segitu doang sih buat beli kacang juga kurang mbak”. Sambil tertawa melecehkan dengan teman2nya sesama `Polisi Penjaga`. “Ya udah deh pak, kalo gitu tilang aja. Tapi saya minta Slip yang warna Biru ya pak!”. Seketika saya melihat raut wajah ketiga polisi itu berubah. Dan dengan nada pelan salah satu temannya itu membisikkan, tapi saya masih mendengar karna waktu itu saya berada di dalam pos. “Ya udah, coba negoin lagi, kalo ga bisa ga papalah. Penglaris, Mangsa Pertama. Hahahaha…” . Sambil terus mencoba ber-nego. Akhirnya saya yang menjadi pemenang dalam adu nego tersebut. Dan mereka menerima pecahan Rp. 20.000,- yang saya tawarkan dan mengembalikan SIM saya. Dalam
perjalanan, teman saya baru menjelaskan apa itu Slip Biru.

So, kalo dititalng. Minta Slip Biru aja ya! Kita bisa membayangkan dong, bagaimana wajah sang polantas begitu kita bilang, “Saya tilang aja deh pak, Saya mengaku salah telah menerobos lampu merah.Tolong Slip Biru yah!”. Pasti yang ada dalam benak sang polisi “Yaahh… ngga jadi panen deh gue…”

Drive Save, Drive Carefully, & Cheers,
_________________________________________________________
Jolanda D Matakupan
The Jakarta Delirium Event Organizer, Production House, Architect & Interior Design, Export Import Delivery Services.
e-mail: : jolanda@jakarta- delirium. com
Phone : +6221.30730701
Mobile : +62811.176.706


4 Comments

Sahabat Sejati


Ketika kita letih
sedih berperih
air mata berbuih

sulit mencari teman
yang bisa diajak bicara
kecuali sahabat sejati
yang mendengar dengan empati
meringankan beban membasuh hati

beruntung sekali
saya punya sahabat
yang sudah teruji
dalam hitungan
tahun yang panjang

kami sering bertengkar
membahas ide yang tak seirama
mengkritik satu sama lain
mebantu ketika dibutuhkan
memberi saat tak diminta

kadang kita saling “jahil”
dalam batas yang konstruktif
selalu berakhir positif
untuk selalu menguatkan
agar tetap surfive
di lingkup kehidupan
masing-masing

selamat berjuang sahabat


2 Comments

Wow .. India yang hebat

“Hidup sederhana sewaktu kaya adalah cara jitu menuju kesadaran akan hidup yang sehat dan membawa manfaat bagi masyarakat. Orang harus memiliki keberanian untuk berfikir yang besar, tidak pernah berkompromi dengan nilai-nilai dasar dalam keadaan apapun, dan selalu membangun kepercayaan diri dan memandang ke depan.”

Dia juga menekankan untuk selalu bergaul dengan orang-orang baik agar memiliki teman terbaik yang akan membantu, selalu obsesif terhadap kualitas, bermain untuk menang dan menyerahkan segalanya peda kekuatan yang lebih besar, yaitu Tuhan.

Azim Hashim Premji atau yang lebih dikenal sebagai Azim Premji adalah orang terkaya di India. Premji yang lahir di Gujarat, India, pada 24 Juli 1945 telah menjadi ikon bagi industri dan pelaku bisnis di bidang teknologi informasi (TI) di India.


Dia berhasil mengubah bisnis keluarganya di bidang produksi minyak goreng menjadi perusahaan perangkat lunak atawa software kelas dunia. Kesuksesan Premji menjadi inspirasi bagi banyak orang. Tak heran, jika orang India menjadikannya sebagai ikon bisnis teknologi informasi India.

AZIM Premji mulai tertarik pada dunia?teknologi ketika dia belajar sebagai mahasiswa teknik mesin dan listrik di Universitas Stanford, Amerika Serikat. Ia menyabet gelar sarjananya pada tahun 1966. Tak lama setelah lulus, orang tua Premji meninggal dunia.

Di usia yang masih belia, yaitu 21 tahun, Premji harus mengambil alih kepemimpinan bisnis keluarga, yaitu Wipro Ltd, yang merupakan sebuah perusahaan goreng. Maka, ia menjabat sebagai Direktur Utama Wipro Ltd dengan kepemilikan saham sebanyak 82%. Premji memiliki visi yang simpel untuk memajukan Wipro, yaitu: membangun organisasi berdasarkan nilai.

Dia percaya bahwa manusia luar biasa adalah mereka yang mampu untuk berpikir menjadi luar biasa. Dia juga percaya, ia harus memberikan kepercayaan yang tinggi terhadap timnya karena mereka mampu?memikul tanggung jawab itu.

Di bawah kepemimpinan Premji, perusahaan yang semula hanya bergerak di lini minyak goreng itu mulai melebarkan sayap bisnisnya. Wipro mulai masuk ke industri teknologi informasi (TI) dan perangkat lunak komputer.

Bisnis barunya ini maju pesat. Kini, perusahaannya masuk dalam kategori 100 perusahaan teknologi terkemuka di dunia dengan pendapatan?mendekati US$ 2,5 miliar pada tahun 2007.

Hebatnya lagi, modal awalnya yang berasal dari bisnis minyak goreng itu semula hanya US$ 2 juta. Namun, sejak bisnis?TI-nya berkembang, modalnya tumbuh berlipat-lipat menjadi US$ 1,76 miliar.

Perjuangan Premji agar produk perangkat lunak dan produk lainnya dari Wipro bisa diterima di pasar internasional tidak mudah. Dia harus bersaing ketat dengan perusahaan-perusahaan sejenis yang lebih terkenal di Amerika maupun Eropa. Namun, kompetisi ini justru membuat Premji semakin bersemangat.

Alhasil, Wipro mampu menjual produknya ke perusahaan-perusahaan terkemuka. Perusahaan-perusahaan seperti Nokia, NEC, Cisco Systems, Sun Microsystems, dan Alcatel menjadi konsumennya. Selain itu,?perusahaan-perusahaan seperti IBM, Accenture, dan Electronic Data Systems juga lebih menyukai TI buatan India. Soalnya, TI buatan India ini selain harganya lebih murah,?kualitasnya tidak kalah dengan TI negara-negara maju.

Premji selalu memperhatikan dan mengingatkan kepada karyawannya untuk menjaga kualitas produknya sehingga pelanggannya tidak merasa kecewa.? Makanya, Wipro menjadi salah satu dari sepuluh perusahaan teknologi paling top di dunia.

Tak heran kalau Premji menjadi tokoh yang banyak dibicarakan di India. Apalagi, perkembangan ekonomi di India tidak lepas dari perkembangan teknologi dan sumber daya manusia di sana. Jadi, Azim Premji layak dikategorikan sebagai salah satu tokoh penggerak ekonomi di India.

Suami Yasmin Premji ini?masuk ke dalam daftar?orang terkaya dunia versi Majalah Forbes mulai tahun 1999 sampai 2007 dengan kekayaan sekitar US$ 17,1 miliar. Ia juga dikategorikan oleh Majalah Time pada April 2004 sebagai salah satu orang yang berpengaruh didunia. Dia juga disebut sebagai orang yang punya kekuatan untuk melakukan perubahan. Bahkan, Business Week edisi Oktober 2003 menjulukinya sebagai Raja Terkaya di India.

Premji memperoleh gelar doktor kehormatan dari Akademi Pendidikan Tinggi Manipal, India. Ia juga menjadi anggota Komite Perdagangan dan Industri di India yang bertanggung jawab kepada perdana menteri. Pada Januari 2005, Pemerintah India menganugerahkan gelar Padmabhushana kepada Premji. Ini merupakan salah satu penghargaan tertinggi untuk warga negara India.

Namun, Premji tidak lantas lupa daratan. Pada 2001, dia?mendirikan Azim Premji Foundation, organisasi nirlaba yang memiliki visi memberikan kontribusi untuk meningkatkan mutu pendidikan, persamaan hak, dan peduli terhadap kondisi sosial kemasyarakatan.

Sumber: Surat Kabar Kontan


6 Comments

Manusia PAKU

Bersepeda, mereka lalui jalan Jakarta … dari tempat tingalnya di sekitar Cipinang menuju lokasi mencari paku … hingga ke daerah Cideng, Mangga Besar, Kota dan lainnya …

berbekal peralatan magnet, pengki, ember yang dilubangi, sekop/cangkul kecil, kantong penampung … dan sepatu agar tak kena benda tajam dikali yang kelam … mereka mengais-ngais paku, besi, atau logam lainnya hingga logam mulia, satu kilogram besi bisa dijual seribu.

Sabtu pagi, 12 Mei mereka memilih lokasi kali disekitar komplek pertamina pulo gadung, tepi Jl. Pemuda Jakarta Timur, bertiga, berkubang di air buangan warga Jakarta … disekitar sampah berserak … memilah besi dan rongsokan, pagi itu
diantara mereka dapatkan cincin emas.

Seminggu setelah peristiwa banjir besar di Jakarta mereka peroleh logam mulia hingga perolehan uang hasil penjualannya berjumlah hampir satu setengah juta rupiah … fuiii betapa kerasnya hidup di Jakarta, mereka cari uang di hitamya kali Jakarta dari logam yang mengalir dengan nominal seribu rupiah per kilogram … dimana anda mencari nafkah?


4 Comments

Kepala Dinas minta diajari BLOG


Dari judul posting ini anda bisa lihat, betapa seorang Kepala Dinas Dikmenti Provinsi DKI Jakarta haus akan hal-hal baru, mengikuti Ahmadinejad Presiden Iran, Barrack Obama calon Presiden US dan Juwono Sudarsono yang lebih dulu ngeBLOG.

Kamis pagi, 10 Mei 2007 Saya dan Ibu Murni Ramil kembali jumpa di Perpustakaan UNJ diacara Seminar tentang UU Guru dan Dosen, setelah itu Ibu Murni menuju Sudin Dikmenti Jakarta Pusat dan Saya ke Dinas Dikmenti karena ada beberapa rapat yang harus Saya ikuti … sore hari Saya meluncur ke Villa Dwimma Cipayung memenuhi undangan Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas RI untuk ikuti kegiatan Penyusunan Model Pembelajaran Berbasis Keunggulan Lokal.

Setelah sholat Jumat, 11 Mei 2007 Saya minta izin ke panitia untuk turun ke Jakarta bertemu dengan Kepala Dinas Dikmenti Provinsi DKI Jakarta, bersama Ibu Murni Ramli, ditemani Pak Haji Bustamam Ismail, Pak Deni Triwardana, Pak Sudiono, Pak Haryanto, dan Pak Bahar, kami diterima pk. 16.00.

Sekitar setengah jam lebih Ibu Murni Ramli mewawancarai Pak H. Margani M. Mustar yang ditemani oleh Pak Bambang Pramestiadi, Kasubdis SMK Dinas Dikmenti DKI Jakarta, topiknye disekitar manajemen tenaga kependidikan di DKI Jakarta. Dialog terjadi sangat intens dan padat … diselingi tawa dan canda … membuat waktu berlalu sangat cepat. Pada kesempatan itu juga dibicarakan kemungkinan Profesor Jepang bisa menyumbangkan tulisan untuk Jurnal Ilmiah Pemdidikan yang diterbitkan FORMOPPI dimana Pak Margani menjadi Sekjen.

Selanjutnya tim IT SMK Negeri 3 Jakarta memaparkan kegiatan pembelajaran yang menuju e-learning dimana salah satu programnya adalah mendorong guru-guru untuk menulis materi pembelajaran atau apa saja yang berkaitan dengan pembelajaran di BLOG, saat ini lebih dari 30 % guru di SMK Negeri 3 Jakarta sudah memiliki BLOG, yang mendampingi Saya saat itu adalah BLOGGER SMK Negeri 3 Jakarta. Mereka berbicara tentang konsep dan isi blog masing-masing.

Di akhir pertemuan Kepala Dinas memintakami untuk mengajarkan membuat blog … kami siap Pak! … kalau di jajaran menteri ada Pak Juwono Sudarsono yang ngeblog, di jajaran Kepala Dinas Pendidikan nanti ada Pak Margani yang ngeblog, seperti Barrack Obama, calon Presiden Amerika dan Ahmadinejad, Presiden Iran.

Terima kasih Pak H. Margani, Pak Bambang atas kesediannya menerima kami, juga kepala Pak Iswoyo yang telah membantu terlaksananya rencana kami, semoga Allah memberikan jasa yang setimpal atas budi baik yang tercurah pada kami … di perjalan pulang Bu Murni bergumam; “Alhamdulillah, Allah telah kabulkan doa Saya setiap tahajud malam hari …”

Saat ini tim IT SMK Negeri 3 Jakarta sedang siapkan tutorial …