Blog Pendidik

@dwitagama: karakter tumbuh dari pembiasaan


Leave a comment

Ketemu MAZAZI di SMKN 36 Jakarta setelah 3 tahun tak jumpa

  

Anak SMP di atas namanya MAZAZI, dia hadir di sebuah seminar di walikota Jakarta Utara pada tahun 2013 dan mengajukan pertanyaan yang hebat sekali sehingga mendapat hadiah sebagai peserta dengan pertanyaan terbaik.

Hari Minggu 23 Oktober 2016 Saya kembali berjumpa dengan MAZAZI yang kini jadi murid di SMKN 36 Jakarta, dan hebatnya dia masih ingat perjumpaan kami tiga tahun yang lalu, begini penampilannya skarang.

 

Mantap banget dah Om, hebat bed kamu … Semoga kamu sukses dan kita bisa ktemu sekian tahun mendatang, sehingga saya bisa tambahin satu foto lagi dibawah posting ini, love u MAZAZI, jaga kesehatan dan ga usah merokok apalagi pake narkoba … takut gabisa foto lagi … Hahahaha … canda ya Om. 


Leave a comment

Manfaat Publikasi Sekolah

20111214172426pamerantopeng

Seorang Guru dengan bangga mengatakan tentang lingkungan sekolahnya yang nyaman, toilet yang bersih dan karya siswa di display di banyak tempat, beliau melanjutkan begini:

“Kami tak memerlukan publikasi, tanpa publikasi siswa banyak sekali yang mendaftar ke sekolah ini.”

Saya merespon seperti ini:

“Beruntung sekali Anda memiliki teman-teman dan Pemimpin yang peduli pada lingkungan sekolah sehingga bisa bekerjasama wujudkan lingkungan yang nyaman, bagaimana jika keadaan berubah, dimana situasi sekolah tidak kondusif lagi, kerjasama sulit dilakukan, pemimpin anda punya leadersip yang kurang baik dan berakibat lingkungan sekolah menjadi tak terurus, toilet kotor dan bau … sementara karya siswa sudah rusak, lapuk termakan usia dan jadi penghuni tempat sampah?”.

Keadaaan bagaimanapun di Sekolah anda saat ini harus dipubikasikan sebagai cara mendokumentasikan dan mensyukuri apapun nikmat yang ada, jika saat ini situasi anda dalam keadaaan yang kurang baik atau sangat buruk, jika ada publikasi masa lalu dimana keadaan sekolah sangat bagus dan menyenangkan (lebih hebat lagi jika ada publikasi video di Youtube) sehingga semua warga sekolah bisa instrospeksi diri untuk melakukan upaya-upaya perbaikan kinerja agar bisa menjadi baik seperti dulu atau lebih baik lagi dari yang sekarang dan masa lalu.

Jika keadaan sekolah anda sekarang dalam keadaan yang sangat bagus, publikasi yang dibuat akan membuat semua warga sekolah senang dan bahagia bahwa situasi buruk masa lalu kini berganti jadi baik sehingga terdorong untuk terus bekerjasama memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Berbagai karya siswa yang di display di lingkungan sekolah akan laput termakan usia dan akan dibuang atau diganti dengan yang lain, jika karya siswa dipublikasikan melalui media online seperti facebook, twitter, path, website, blog, instagram, steller, dsb, sehingga pada suatu saat siswa yang membuat karya itu menemukan foto, video atau cerita di media online akan membuatnya senang dan bahagia luar biasa, bahkan bisa menjadi contoh atau cerita kepada teman, anak, cucu, keluarga dan yang lainnya bahwa dirinya pernah berkarya di sekolah dan didokumentasikan serta dipublish sekolah hingga masih terlacak walau berjarak puluhan tahun yang lalu.

karya-siswa

Bagaimana perasaan anda jika foto anda atau karya anda terlihat pada dua foto dokumentasi di atas atau video di bawah ini yang terlacak melalui google?

Publikasi itu penting untuk dokumentasi dan membuat kualitas hidup umat manusia lebih baik setiap hari, salurannya bisa facebook, twitter, path, website, blog, instagram, steller, dsb, menurut anda?


Leave a comment

Apakah dirimu bisa ditemukan di internet?

Saat bertemu dengan puluhan Guru-guru Mata Pelajaran Ekonomi SMA Jakarta Pusat dan Jakarta Utara beberapa hari yang lalu, saya meminta mereka menyebut nama Guru yang pernah mengajar mereka di TK hingga Perguruan Tinggi yang tak akan pernah mereka lupakan hingga kini.

Masing-masing guru menyebut nama disertai alasan kenapa terus teringat Guru atau Dosen tersebut, ada yang bilang karena ganteng, cantik, baik, perhatian, tegas, galak, menerangkan pelajaran dengan baik, dsb.

Saat nama guru favorit yang disebut di cari di google, kami tak menemukan info, foto atau video tentang guru-guru yang menurut mereka hebat dan berkualitas, kenapa?

Ada teman guru yang tak bisa mengingat satupun guru atau dosennya, padahal pasti guru itu sudah sarjana, ada pula teman yang menyebut nama Dosennya yang bergelar Profesor, dan ketika nama profesor itu dicari di google, kami tak menemukan info, foto atau video tentang guru-guru yang menurut mereka hebat dan berkualitas, kenapa?

“Mereka sudah tua, bahkan sudah meninggal, banyak yang tak tau teknologi” kata mereka.

“Coba kita cari guru wanita di Belitung yang mengajar anak-anak SD di kampung miskin di sekolah yang tak layak yang kemudian jadi lokasi pembuatan film laskar pelangi atau seorang ibu yang terbaring lumpuh tapi tetap serius jadi guru di Sumedang,” sambil saya mencarinya di google dan menemukan banyak info, foto dan video tentang kedua ibu guru hebat itu. Keduanya tak memanfaatkan teknologi dalam mengajar, satu diantaranya sudah wafat.

Apa yang bisa diambil dari kedua ibu guru itu? Mereka mengajar dengan cara tak biasa melampaui norma-norma dan kebiasaan yang berlaku di zamannya dengan satu tujuan, menghebatkan generasi muda untuk bisa lebih sukses di masa depan.

Era digital saat ini, seharusnya guru tak lagi memberi tugas menggunakan media kertas atau tulis tangan, transaksi belajar harus menggunakan teknologi digital seperti ebook, email, elearning, foto, video memanfaatkan berbagai platform media sosial seperti facebook, twitter, blog, youtube, instagram, wattpad, snapchat, steller, dsb.

Salah satu model interaksi guru dan murid yang bisa diterapkan misalnya, murid membuat paper masalah ekonomi yang harus dimuat di blog murid, satu masalah yang ditulis menjadi makalah harus dikemas menjadi essay atau kumpulan foto yang harus diposting di instagram dab blog murid, masalah yang dikaji harus didokumentasikan dalam bentuk video pendek 3 menit dan harus di unggah ke youtube dengan judul dan tag nama pelajaran, nama guru dan nama sekolah di saluran youtube milik murid dengan identitas resmi murid tersebut.

Satu topik atau satu KD bisa diurai jadi tiga produk; makalah, foto, video yang dipublish di media sosial dan tiga produk itu menjadi materi atau isi blog atau website guru. Publikasinya ada di media  milik guru dan murid yang bisa di nikmati hingga puluhan tahun ke depan.

Andai seorang guru mengajar 200 murid dalam satu semester memberikan dua tugas, maka publikasinya dalam setahun akan berjumlah 200 x 2 x 3 x 3 x 2 = 7.200 posting yang bertebaran di dunia maya bisa dinikmati orang sedunia. Jika dilakukan selama 5 tahun maka akan terdapat 36.000 posting publikasi di blog guru, blog murid dan media sosial lainnya.

Jika 100 guru ekonomi SMA di Jakarta melakukan itu selama setahun, maka akan terdapat 720.000 posting interaksi belajar ekonomi di jagat maya, luar biasa.

Gunakan telepon genggam anda untuk mencari nama anda, nama guru anda, apakah dirimu dan mereka meninggalkan jejak dan karya di internet atau berlalu dalam waktu, tenggelam bersama seragam biru? 

Tulisan yang anda baca ini masih bisa anda baca hingga puluhan tahun ke depan selama wordpress masih memberi pelayanan pada dunia, nulis yuuuuk.

Profesional saja tak cukup, kabarkan interaksi dan karya anda kepada dunia.


1 Comment

Miskin, bego, perokok

perokok-miskin-1

Miskin,
Bego,
Orang miskin karena bego?,
atau orang bego karena miskin?

Orang miskin disekolahin supaya pintar,
Kalau pintar orang miskin itu tak bego lagi,
Orang miskin yang sekolah sepuluh tahun harusnya jadi pintar,
Jika sudah sekolah sepuluh tahun, masih bego dan merokok,
jadilah dia orang miskin yang bego dan perokok.

  1. Saya punya cerita pendek sekali berjudul: Miskin, bego, perokok

Seorang murid tertangkap basah merokok di toilet sekolah, berikut ini cuplikan pembicaraan Guru dan murid tersebut:

“Berapa batang sehari kamu merokok?” tanya Guru.

“Empat sampai lima batang sehari Pak” jawab murid.

Sambil menyiapkan surat panggilan kepada orang tua guru itu bilang, “Besok orang tua kamu diundang ke sekolah, harus membuat pernyataan di atas materai”.

Murid itu terdiam, matanya mulai berair, dia menangis, “Orang tua saya sedang sakit, … ga punya uang Pak”.

Pak Guru terkejut, “Lho ko bisa … orang tuamu miskin, tak punya uang, bagaimana bisa kamu merokok 4 sampi 5 batang sehari?”

“Saya dikasih teman rokoknya, Pak” lanjut murid sambil menangis.

“Gini aja ya mas, mulai saat ini kalau ada temanmu yang memberi rokok, jangan kamu hisap, jika temanmu bertanya, katakan saja kamu baru merokok dan buat nanti saja dihisapnya, kemudian rokok itu kamu jual lebih murah dari harga di warung kepada temanmu yang lain, agar uangnya bisa untuk membeli materai besok”.

Guru itu melanjutkan, “Dengan cara yang sama, kamu juga bisa menabung untuk membeli sepeda motor dari rokok yang diberi teman, tidak nikin kamu sakit, ketangkap piket di toilet sekolah atau tidak penyakitan dan mati”.

Bagaimana menurut Anda?