Blog Pendidik

@dwitagama: karakter tumbuh dari pembiasaan


Leave a comment

sudah terfikirkah bakal jalani masa tua dimana & bagaimana? Semoga sejahtera & sehat hidupmu hingga tua renta, happy deh

20140401-124104.jpg
Andai Bapak di foto itu dulu sekolah, apakah saat sekolah beliau sudah berfikir bakal menjalani hidup yang keras hingga tua renta, terus bekerja tanpa mengeluh, memenuhi kebutuhan hidup yang tak pernah berhenti.

Jika kamu sekrang masih sekolah, sudah terfikirkah bakal jalani masa tua dimana & bagaimana? Semoga sejahtera & sehat hidupmu hingga tua renta, happy deh.


Leave a comment

Menikmati anak-anak muda berani jadi happy

20140401-125643.jpg
Saya sangat senang ketika memenuhi Undangan BNN Jawa Barat untuk sharing materi Public Speaking dengan Mahasiswa STTD Cikarang, Maret 2014. Mereka semangat & berani tampil mempraktekkan ilmu yang sudah dimiliki untuk lebih meningkatkan skill berbicara di muka umum, dokumentasi training saya lainnya bisa dinikmati disana.


2 Comments

Ciri-ciri Kepala Sekolah yang Baik & Berhasil, bagaimana di sekolahmu?

20140325-150728.jpg

Beberapa kali Saya bertanya kepada Guru & Karyawan di beberapa sekolah tentang penilaian mereka terhadap Kepala Sekolahnya, ada beberapa hal yang sama diungkap mereka, yaitu:

“Kepala Sekolah kami baik orangnya, Beliau selalu menyempatkan ke ruang Guru, menyapa kami dan bersalaman dengan kami, Beliau juga ramah mau berbicara dengan warga sekolah.”

Ternyata tak terlalu sulit buat jadi Kepala Sekolah yang baik, apakah cuma itu? Adapun ciri-ciri pribadi kepala sekolah yang berhasil seperti yang ditulis <em>Guru Kreatif di blognya, adalah sebagai berikut:

1. Senang akan perubahan. Ia senang membuat perubahan demi siswa dan demi kemajuan gurunya. Ia konsisten mengawal perubahan dan menjadi contoh orang yang pertama kali berubah. Ia jadi sosok yang sadar dan cepat mengambil keputusan dalam perubahan karena ia sadar perubahan yang baik mesti diniatkan jika tidak ingin kehilangan kesempatan.

2. Bersikap proaktif dan senang menciptakan kesempatan. Karena ada atau tidaknya kesempatan tergantung cara pandang seseorang. Kepada guru-gurunya ia menjadi contoh dalam bersikap proaktif dan menghindari menunda-nunda penyelesaian masalah karena akan menjadi hal yang besar dan berdampak pada keutuhan proses belajar mengajar di sekolah.

3. Punya kemampuan komunikasi yang baik dan berhati-hati saat mengeluarkan pernyataan. Bukan hanya pejabat public yang mesti berhati-hati dalam mengeluarkan kalimat pernyataan. Kepala sekolah juga mesti berpikir panjang sebelum mengeluarkan pernyataan agar suasana kondusif tetap tercipta di sekolah.

4. Sayang pada guru-gurunya. Kepala sekolah yang baik adalah juga guru yang baik karena dulunya juga pasti ia adalah seorang guru. Semua kebijakannya akan berujung pada upaya untuk membuat guru betah dan menciptakan iklim sekolah yang kondusif dan suasana kerja yang positif.

5. Senang gunakan social media. Kepala sekolah yang masih memandang sinis guru-gurunya yang aktif di social media adalah kepala sekolah yang jadul dan ketinggalan jaman. Semestinya ia lah yang mesti memandang social media sebagai media yang efektif untuk alat pembelajaran, berkomunikasi dan menjadi mitranya dalam memimpin.

6. Memprioritaskan proses pembelajaran. Pembelajaran yang saya maksud bukan sekedar berkonsentrasi pada tes dan ujian nasional namun membagi perhatian yang seimbang juga pada aspek yang lain misalnya aspek olah raga dan kesenian. Sekolah yang baik adalah sekolah yang bisa menyeimbangkan aspek akademis dan aspek minat dan bakat siswa.

7. Gemar berkeliling dan mengontrol. Kepala sekolah akan kehilangan kesempatan untuk mengetahui perkembangan terkini di sekolahnya jika hanya duduk di ruangannya.

8. Menghargai latar belakang keluarga-keluarga yang mempercayakan anaknya untuk bersekolah di tempat ia memimpin. Kepala sekolah adalah gambaran dari cara sekolah menghargai orang lain yang berbeda. Setiap individu punya kesempatan yang sama besarnya untuk berubah menjadi lebih baik. Jika ia cepat nyinyir dan menghakimi maka ia akan sulit untuk menjalin hubungan yang baik dengan orang tua siswa.

9. Hormat kepada pengawas dari Diknas sambil tetap melengkapi referensi pengetahuan dari sumber lain. Kepala sekolah yang berasal dari sekolah yang unggul dan bagus mutunya cepat punya penilaian yang merendahkan pengawas dari diknas hanya karena pengetahuan atau cara kerja yang berbeda. Sebaliknya sekolah yang baru berkembang kadang terjebak menjadi begitu mengiyakan apa saja yang pengawas katakan tanpa punya rujukan lain sebagai pembanding.


2 Comments

Masih adakah Guru Umar Bakri di Jakarta? banyak murid di sekolah sendiri yang tak mengenalnya


Guru yang naik sepeda, pake baju safari, terus kalo ketemu murid nakal tawuran lari terbirit-birit. Kebanyakan guru di Jakarta sudah pake motor dan mobil, yang masih honor alias belum PNS bisa makmur dengan mengajar di beberapa sekolah, sementara yang sudh PNS sudah sangat makmur dengan berbagai tunjangan dan penghasilan resmi dari pemerintah pusat dan daerah.

Coba instrospeksi deh, masih kenakan baju safari seperti di video di atas? masih takut jika ada anak tawuran? atau masa bodo mengetahui murid di sekolah anda tawuran? karena merasa bukan tugas anda, anda fikir itu urusan pembina siswa, wakil kesiswaan atau kepala sekolah. Urusan anda cuma mengajar, masuk kelas, pindah kelas, pindah sekolah dan pulang. Mungkin karena banyak guru yang bersikap seperti ini masalah tawuran tak pernah usai di negeri ini, selalu terjadi dan makin banyak yang mati. Bahkan seorang Bupati sampai turun tangan melarang sekolah pelaku tawuran untuk menerima murid baru, karena dia ingin tak ada lagi tawuran pelajar di wilayahnya.

Guru bisa kreatif melakukan berbagai upaya untuk meminimalisasi tawuran, dengan secara mendadak memeriksa tas murid di kelas, berdialog tentang masalah itu, mencari tahu tempat-tempat mangkal atau kumpul sebelum murid melakukan tawuran, dan sesekali singgah menemui murid di sana, kalau perlu memotret wajah-wajah yg ada disana dengan berbagai alasan misalnya untuk di unggah ke media sosial, atau melakukan apa saja yang meminimalisasi tawuran di sekolahnya.

Jika guru cuma mengeluh penghasilan kecil, takut sama kenakalan anak bahkan melarikan diri … bagaimana guru bisa berfikir tentang cara-cara yang menarik ketika mengajar sehingga murid senang belajar, juga senang pada gurunya … karena anak-anak Jakarta itu unik, berani, dsb … jika mereka tahu gurunya penakut maka murid berani bahkan kadang murid jail ngerjain gurunya hingga jadi bahan lelucon, sekali waktu guru perlu galak, tegas, sehingga murid tak kurang ajar … ini Jakarta booo.

Sekolah saya mah ga pernah tawuran Pak Dedi … wah hebat itu!!! anda jadi lebih gampang dan tenang mengajar, lalu sudah seberapa hebatkan anda jadi guru? seberapa dahsyat prestasi anda dikenal oleh guru-guru di sekolah sendiri? seberapa banyak guru lain sekolah mengenal anda? se kabupaten mengenal anda? se propinsi? atau seantero negeri? jangan-jangan masih banyak murid di sekolah anda yang belum tahu nama anda, karena mereka tak menemukan anda di twitter …