
kepala sekolah, trainer, blogger dan fotografer
Puluhan tahun lalu guru Indonesia mendapat kehormatan untuk mengajar murid-murid di negera tetangga, termasuk memberi contoh kepada guru-guru disana bagaimana mengajar yang baik.
Tahun 70-an catatan di atas sepertinya dilupakan, guru-guru seperti lupa bahwa mereka pernah menajadi contoh negeri yang kini sangat disegani di Asia hingga Dunia. Bahkan tak bergeming walau dilabel sebagai “Pahlawan tanpa tanda jasa”, Profesi terhormat itu jadi alat untuk amankan negara agar tetap stabil, tak bergejolak, … , selalu menerima “kebenaran” yang diinstruksikan, ketetapan yang “tak bisa ditawar”, pendidikan yang tak mendidik, pengajaran “yang kamuflase”.
Outputnya adalah warga negeri yang lemah, rentan, mudah dihasut, mudah disulut, sukar dibesut kerja cerdas, pandai mengeluh, suka meminta, gemar menyalahkan, tak mampu berfikir beda, suka berseragam, enggan berprestasi, terbiasa dalam rata-rata, lulus tak perlu berusaha karena setting dipermudah, sehingga jika harus berkompetisi jalan pintas biasa dilakoni; sogok, upeti, pintu belakang, katebelece dan lainnya jadi andalan, …, tawuran juga jadi hal yang biasa, terjadi dari antar siswa di sekolah, jalan raya, mahasiswa dalam satu kampus hingga antar kampus, politikus satu partai atau antar partai di parlemen yang “terhormat”
Reformasi di akhir tahun 90-an memberi angin segar untuk profesi guru, kini guru dihargai tinggi dengan tunjangan profesi dari pemerintah pusat dan berbagai tunjangan dari pemerintah daerah, penghasilan guru kini lebih sejahtera dibanding berbagai profesi di negeri pancasila.
Kini banyak guru yang berusaha kembangkan potensi diri dengan belajar berbagai hal lewat pendidikan formal maupun informal, pelatihan, workshop, seminar dan lainnya. Perkembangan IT membantu guru mengajar lebih “berwarna” mendorong peserta didik lebih berminat belajar dan kecepatan transaksi ilmu lebih tinggi.
Ada yang memandang skeptis usaha guru itu hanya untuk mengejar pangkat dan sertifikasi, …, biarkan. Perjalanan waktu nanti akan membuktikan bahwa guru memang profesi yang harus dihargai.
Jika Anda guru dan belum merespon perubahan zaman ini, segeralah bangkit, bergerak, berkumpullah dengan rekan-rekan seprofesi, lakukan kegiatan yang lebih mencerahkan profesi Anda, karena negeri ini membutuhkan karya kita.
Hasil kerja kita adalah warga negeri yang beriman, taqwa, tegar terhadap berbagai perubahan yang terjadi, terbiasa hidup jujur, tak mudah menyerah, enggan meminta, selalu belajar, berminat pada hal-hal yang baik, lebih cinta negara, bisa hidup dalam keberagaman, dan lain-lain.
Tulisan ini merupakan resume wawancara Saya dengan Reporter QTv (Indovision ch. 95) Mr. Jonminofri Nazir atas rekomendasi Bp. Onno W. Purbo, terimakasih … juga untuk Bp. Zaenal, guru SMK Negeri 36 Jakarta yang dokumentasikan wawancara ini.
Selamat siang Pembaca, banggakah Anda dengan profesi Anda saat ini?
Komentar Terbaru