
img299.imageshack
AGUSTUS 2004
Hasil kompetisi gupres tk nasional 2004 sudah diumumkan, masing-masing jenjang (SD, SLTP, SLTA, dll) dipilih tiga terbaik, dan diberi hadiah oleh Mendiknas RI, Prof. Bambang Soedibyo.
Kami, peserta berkemas untuk kembali ke kampung halaman. Di sebuah kamar di Hotel Sahid Jakarta, teman sekamar saya dikunjungi tiga rekan yang berasal dari satu daerah di luar Jawa. Rupanya mereka mengatur strategi untuk membawa kabar hasil kejuaraan dari Jakarta. Awalnya mereka mau mengklaim semuanya peroleh juara harapan 1 atau juara empat, tapi setelah “dimusyawarahkan” mereka bersepakat untuk berbagi rangking atau juara yang berbeda … Tak jauh dari juara harapan 1.
Saya sibuk mengemas kelengkapan karena harus hadir di kegiatan lain di luar Jakarta, merekam bincang mereka.
SEPTEMBER 2009
Saya berjumpa dengan teman guru yang pernah ikuti kompetisi yang sama. Disela bincang kami datang seseorang yang turut berbincang dan salah satu topiknya mengklarifikasi info urutan juara yang diperoleh teman pertama.
Saya bertanya: “apakah tahun kemarin ada penobatan juara harapan?”
Ternyata Depdiknas masih sama polanya spt th 2004, hanya memilih juara 1, 2 dan 3, sehingga tak sedikit peserta yang mengklaim dirinya sebagai juara 4.
Mungkin para guru berprestasi terlalu besar nafsu berprestasi dan tak siap katakan, “Saya tidak meraih juara”.
Sebaiknya panitia tingkat nasional mengeluarkan rangking hasil kejuaraan seperto yang diminta kepada panitia tingkat propinsi. Kalo nilai juara 1, 2, 3 sudah diumumkan, mengapa tak dicetak saja rangking semua peserta, di era canggih ini tentu bukan sesuati yang sulit.
Dengan cara ini Depdiknas bisa mendidik para gupres untuk siap menerima kekalahan dan tak mendorong ratusan mahluk terhormat negara utk merancang, bersepakat dan sampaikan kebohongan tentang prestasinya di tingkat nasional.
Selamat iedul fitri pembaca, mari kita bersihkan diri kita