Blog Pendidik

Menikmati Pilkada Negeri Paman Besut: ada peningkatan konsumsi rokok?

Leave a comment

Calon pertama

Di Negeri Paman Besut, seorang yang berniat mencalonkan diri jadi kepala daerah berusaha menjadi bahan berita setiap hari, kabar tentang apa yang dikerjakan setiap hari harus selalu jadi bahan berita koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb. Karena dia berambisi untuk ikut pemilihan kepala daerah maka berbagai cara dilakukan agar namanya jadi bahan berita koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb setiap hari, jika forum rapat terbatas, orang itu akan meminta stafnya atau orang lain untuk mendokumentasikan dan diedarkan menjadi bahan berita koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb, untuk media sosial seperti facebook, twitter, instagram, youtube, dsb bisa dilakukan siapa saja, dimana saja asal memiliki akses internet tanpa biaya alias gratis.

Setiap hari, apapun yang dilakukan orang itu selalu menghiasi berita koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb yang jika dijumlahkan dalam setahun, jutaan kabar berita tentang orang itu berkelebat di berita koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb. Upaya menggalang dukungan berupa fotokopi KTP dan pengisian formulir dukungan  dilakukan sejak jauh-jauh hari hingga memperoleh jutaan dukungan yang membuat banyak partai politik jatuh hati dan memberi dukungan walau sang calon awalnya menyatakan enggan mencari dukungan partai untuk maju sebagai calon kepala daerah dan mengandalkan dukungan teman-temannya melalui jalur independen.

Calon-calon yang tenggelam

Ada beberapa tokoh partai politik yang secara malu-malu atau terang-terangan menyatakan keinginan untuk maju mencalonkan diri jadi kepala daerah, tetapi akhirnya mereka harus menunggu keputusan partai politik yang punya hak untuk mengajukan calon kepala daerah. Para ketua partai pun yang awalnya berminat mencalonkan diri akhirnya harus tau diri dan menerima apapun keputusan ketua umum partainya. Mereka sangat faham benar sistem kenegaraan di negeri paman besut sehingga mereka merasa tak perlu mempromosikan dirinya melalui berita-berita di koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb karena kabarnya perlu biaya yang sangat mahal.

Calon kedua

Seorang pengusaha yang gemar berpetualang dan punya fisik yang prima karena suka berolah raga dan punya kekayaan yang selevel dengan dana APBD sebuah propinsi entah merasa terpanggil atau didorong oleh fihak lain secara serius ddan konsisten menyatakan niatnya maju sebagai calon kepala daerah dan melakukan pendekatan kepada berbagai partai politik di negerinya, rupanya nilai jual pengusaha ini tak terlalu moncer sehingga lama sekali tak memperoleh dukungan secara penuh dari partai politik hingga mendekati deadline pencalonan atau mungkin partai politik menilai kemungkinan terpilihnya pengusaha ini sangat kecil sehingga sulit memenangkan pertarungan. Dia sudah berusaha memanfaatkan koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb untuk mengekspose visi-misinya sebagai calon kepala daerah, tetapi tetap saja dukungan belum fix berfihak padanya, anda tahu kenapa?.

Pilkada di negeri paman besut merupakan ajang perebutan kekuasaan partai-partai politik yang telah membuat peta dan analisis tentang profil-profil orang yang bisa didukung untuk menjadi calon kepala daerah dan punya peluang yang besar untuk memenangkan pemilihan kepala daerah.

Calon-calon dipaksa

Hingga hari terakhir pencalonan yang harus diajukan beberapa partai masih belum memutuskan calon yang akan diusung, hingga detik-detik terakhir batas waktu beberapa partai bergabung mengusung calon yang tak diprediksi sama sekali untuk maju, kecuali calon kedua yang disandingkan dengan calon lain sebagai wakil.

Partai-partai seperti tak punya kader yang punya nilai jual sehingga mendukung orang-orang yang sama sekali tak terduga, bahkan ada lawan politik yang pernah bersebrangan dengan partai itu saat pemilihan calon presiden didukung maju sebagai calon dari partai.

Pemenang pilkada

Jika calon pertama memenangkan pilkada dengan satu atau dua putaran bisa jadi sebagai buah kerja keras plus membentuk citra lewat berita koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb sehingga penduduk terpesona oleh dirinya. Sementara jika kalah, betapa energi dan sumber daya yang luar biasa banyak telah dikerahkan tak cukup menarik hati dan minat pemilih untuk menusuk fotonya di dalam bilik suara. Walau memang ada peristiwa yang berawal dari bahan berita koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb yang menjungkirkan citra dirinya dan menurunkan elektabilitas berdasarkan riset banyak lembaga survey di negeri paman besut.

Jika calon kedua dan calon dipaksa berhasil menang mungkin jadi potret penduduk negeri yang mudah digiring oleh gempuran berita koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb. Seperti calon pertama yang mempesona karena bombing berita di media kemudian jatuh oleh bombing berita koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb.

Tentang calon dipaksa yang masih muda itu saya kira masih belum punya nilai jual tinggi  untuk dipilih apalagi pendampingnya juga terkena bombing bahan berita koran, TV, majalah, TV, Radio, Twitter, Facebook, Youtube, instagram, google, dsb berhubungan dengan kasus korupsi di masa lalunya.

Jika calon dipaksa yang masih muda itu menang, mungkin beliau akan repot karena jam terbang sebagai birokrasi masih harus diuji sementara senior yang akan diandalkan harus menguatkan daya tahan hadapi gempuran aparat penumpas korupsi.

perokok

Saya menikmati pilkada melihat rakyat yang datang ke lokasi pemungutan suara sambil merokok, termasuk panitia pemilihan yang merokok, karena biasanya ada sponsor yang menyediakan konsumsi termasuk rokok untuk menemani kerja petugas, rakyat libur sehingga bisa merokok lebih banyak, lebih bebas (karena di kantor atau tempat kerja dilarang), kalau ada yang riset mungkin pada hari itu ada peningkatan konsumsi rokok?

Selamat berpesta saudaraku … tetaplah damai dalam beda yang banyak.

Advertisements

Author: Dedi Dwitagama

Working as Teacher at Vocational High School 50 Jakarta (SMK Negeri 50 Jakarta Timur), Trainer and Motivator on Drug Abuse, Leadership & HIV-AIDS Prevention, Education, ICT, Leadership, Character Building, Public Speaking also as photografer. Please visit; http://trainerkita.wordpress.com, http://fotodedi.wordpress.com and https://dedidwitagama.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s