@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan


Leave a comment

Robin William berpesan pada pecandu narkoba & alkohol

20140813-171226.jpg
Robin William
film-film kamu selalu manarik ditonton
kamu menghibur orang se dunia
pandai berperan jadi tokoh panutan

kenapa
akhir hidupmu tak layak ditonton
kamu tak cakap menghibur sendiri
tak pandai berperan jadi orang baik

jutaan penonton tak cukup menemani
hingga narkoba & alkohol kau nikmati
tak perlu paksakan menghibur kami
bahagiakanlah dirimu dahulu

atau kamu sedang berpesan pada dunia
bahwa narkoba & alkohol tak pantas jadi teman
keduanya hilangkan kebahagian yang dipunya
hingga diri ingin cepat berpulang

terima kasih Om William
atas hiburan yang sudah kau beri
semoga pilihanmu tak salah
damai & bahagialah dekat sang pencipa


2 Comments

Upaya Sekolah mencegah murid kecanduan rokok dan narkoba, gimana di sekolahmu?

20140217-082828.jpg
Kalau ditanya apakah ada program pencegahan penyalahgunaan atau sosialisasi masalah rokok di sekolah anda? Jawabannya pasti ada dan sudah dilakukan.

Coba diteliti kembali, kapan hal itu dilaksanakan? tahun lalu? Sekian tahun lalu? Perhatikan atau ingat-ingat deh, siapa yang jadi target kegiatan itu? Berapa murid yang ikut kegiatan itu? apakah mereka masih sekolah saat ini atau sudah lulus?

Sekolah sering lupa, atau merasa sudah melakukan kegiatan di atas, padahal kegiatan itu dilakukan sekian tahun yang lalu dimana murid-murid yang ikut kegiatan sudah lulus, sementara ratusan murid yang masih bersekolah saat ini belum mendapatkan pembekalan atau tambahan pengetahuan tentang rokok dan narkoba.

Upaya pencegahan bahaya rokok dan narkoba sebaiknya menjadi budaya atau bagian kegiatan-kegiatan yang selalu dikerjakan di sekolah, beberapa strategi yang bisa dilakukan sekolah diantaranya sebagai berikut:

1. Sosialisasi bahaya rokok dan narkoba untuk murid baru, ini bisa dilakukan saat Masa Orientasi Siswa – MOS, atau penyuluhan oleh senior pengurus OSIS saat upacara atau apal pagi di sekolah.

2. Penerapan aturan TATA TERTIB SEKOLAH berhubungan dengan rokok & narkoba disosialisasikan kepada murid dan orang tua atau wali murid, dan penandatangan dokumen surat pernyataan yang ditulis tangan bahwa murid dan orang tua sudah membaca tata tertib, menyetujui isinya dan siap menerima sangsi terhadap pelanggaran tata tertib.

3. Perkembangan zaman, situasi dan pemahaman warga sekolah mengharuskan REVISI TATA TERTIB SEKOLAH SETIAP TAHUN, upaya itu harus melibatkan semua warga sekolah, guru, karyawan, orang tua, murid, alumni, Komite Sekolah, industri, dinas, perguruan tinggi atau siapa saja yang menjadi mitra sekolah selama ini. Proses revisi harus dilakukan, walaupun kemudian isi tata tertib yang sudah ada masih bagus dan bisa digunakan tanpa penambahan atau pengurangan lagi itu jadi forum sosialisasi program dan tata tertib sekolah.

4. UPAYA PENCEGAHAN ROKOK & NARKOBA BERKELANJUTAN, berbagai kegiatan bisa dilakukan misalnya: razia isi tas murid secara acak di lobby sekolah pada hari-hati tertentu, atau razia ke kelas, di toilet, dsb. Foto di atas memperlihatkan murid yang dilibatkan melakukan upaya pencegahan. Pada sekolah lanjutan murid kelas 8 atau 11 harus diberikan lagi kegiatan yang sesuai dengan minat mereka berhubungan dengan rokok dan narkoba, demikian juga untuk murid yang di kelas 9 atau 12 harus diberi pembekalan dalam bentuk yang berbeda dengan sebelumnya.

Alternatif kegiatanuntuk kelas 8 & 9 atau 11 & 12 adalah:
– Lomba Poster
– Lomba film atau video pendek
– Lomba pidato
– Lomba karya tulis
– Stand up Comedy, dsb
– yayasan Kanker
– Rumah Sakit Paru
– LSM HIV/AIDS
– Komnas Pengendalian Tembakau
– Polisi
– masih banyak lagi

4. KONSISTENSI TERAPKAN ATURAN LEWAT REWARD DAN PUNISHMENT sangat perlu, murid kita itu pintar, apalagi orang tuanya … sekali saja sekolah tak konsekwen menerapkan tata tertibnya sendiri maka ketika ada murid yang melanggar aturan akan menuntut hal yang sama, oleh sebab itu jalankan tata tertib secara konsisten atau rubah tata tertib jika dirasa tak sesuai lagi.

Jika murid dan orang tua sudah disosialisasikan, menandatangani surat pernyataan bermaterai, melanggar peraturan, diingatkan, dilakukan konselng (didukung dengan bukti-bukti), melakukan pelanggaran berkali-kali, maka murid itu pantas menerima sangsi sesuai tata tertib … andai keluarga murid yang kena sangsi memperkarakan dengan bantuan pengacara, maka sekolah akan memenangkan kasusnya.

5. SALURKAN ENERGI DAN KREATIFITAS MURID, tumbuhkan berbagai kegiatan ekskul yang disukai murid, tampilkan pada berbagai kesempatan di sekolah, seperti MOS, peringatan hari besar, ketika menerima kunjungan tamu, di upacara atau apel pagi, ulang tahun sekolah, class meeting, pensi dan berbagai kesempatan lainnya.

Anda punya tambahan lainnya?


6 Comments

Kecanduan Narkoba itu berawal dari ketidaktahuan, coba-coba, … merokok juga

Punya teman, sahabat, keluarga yang sedang dirawat di rumah sakit karena kecanduan narkoba atau rokok, …. ngobrol deh, coba tanya kenapa dia merokok atau menyalahgunakan narkoba. Umumnya para pecandu narkoba dan rokok awalnya coba-coba, dorongan teman sebaya dan ketidaktahuan anak tentang rokok dan narkoba, …. diawali coba-coba, kemudian jadi biasa, makin sering hingga kecanduan.

20140217-081308.jpg

Pendidikan yang pertama sejak anak dilahirkan berlangsung di keluarga, orang tua mendidik anak-anaknya tentang apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi, minum obat sesuai anjuran dokter, tidak makan makanan yang beracun atau berbahaya, termasuk mengenai rokok, otang tua yang baik berusaha mencegah anaknya merokok, jika orang tua merokok, dia berusaha merokok tak terlihat oleh anak-anaknya dan tak meletakkan rokok di tempat yang terlihat oleh anak-anaknya.

Orang tua yang mendidik anaknya dengan baik membuat anak-anaknya memiliki pengetahuan tentang bahaya rokok & narkoba, anak-anak jadi pintar mengendalikan diri terhadap godaan atau ajakan teman-teman sebaya sehingga tak coba-coba mengisap rokok atau gunakan narkoba.

Biasanya para perokok itu ciri-cirinya; muda, bodoh, kulitnya gelap, miskin pula …. karena orang tua keluarga yang miskin sangat sibuk mencari nafkah hingga tak sempat mendidik anaknya …. bagaimana peran sekolah berkaitan dengan rokok & narkoba?


Leave a comment

pengobatan pecandu narkoba

20120826-075305.jpg
anda atau kenalan anda kecanduan narkoba? bingung harus berobat kemana? datang aja ke puskesmas terdekat … ceritakan pada dokter disana ttg masalah anda, apa yg anda atau kenalan anda pake, mulai kapan … dan semua yg berhubungan dg kecanduan

Dokter akan beri obat atau arahkan ke yg lebih ahli di pusat kesehatan atau rumah sakit lain … kalo anda taat dan bisa kerjasama ga make lagi, sembuh deh … selamat jadi orang sehat yah


Leave a comment

mau ngerasain tiga anak kandungnya mati karena narkoba? baca deh

Dampak penyalahgunaan Napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya) bisa sangat fatal. Sebuah keluarga di Jakarta Pusat pernah kehilangan anak yang meninggal karenanya, bahkan tidak hanya satu melainkan 3 anak sekaligus.

Yatimah, janda berusia 53 tahun benar-benar merasakan getirnya kehidupan ketika harus merelakan 3 anaknya meninggal karena Napza dalam 10 tahun terakhir. Yang lebih menyedihkan, 2 dari 3 anak tersebut meninggal di usia yang sangat belia yakni sekitar 20-an tahun.

Perempuan yang tinggal di daerah Cikini tersebut mengisahkan, pengalaman pertamanya kehilangan anak karena Napza terjadi pada tahun 1998. Ketika itu, anak nomor 3, sebut saja Budi meninggal setelah terinfeksi HIV (Human Imunnodeficiency Virus) serta mengalami komplikasi diare dan gagal ginjal.

Budi mulai mengenal Napza saat duduk di bangku SMP, bermula saat teman-temannya memaksanya minum pil koplo. Sejak itu ia berkenalan dengan jenis Napza yang lain, termasuk putaw saat pindah sekolah ke sebuah daerah padat penduduk yang memang dikenal sebagai sarangnya para bandar.

Novi (39 tahun), kakak tertua Budi mengisahkan bahwa adik laki-lakinya itu mengalami perubahan perilaku sejak mengenal putaw. Budi yang semula baik, mulai suka mencuri uang kakaknya dan menjual barang-barang milik ibunya termasuk baju mengaji dan mesin jahit demi mendapatkan barang tersebut.

Di saat Budi mengalami masalah dengan ketergantungan Napza, anak Yatimah yang keempat, sebut saja Mawan malah ditangkap polisi dengan tuduhan menjadi kurir putaw lalu dihukum 2 tahun penjara. Padahal di mata keluarga, Mawan tidak pernah ketahuan sedang menggunakan Napza apalagi sampai kecanduan.

Pada saat yang sama, Budi jatuh sakit dan hasil pemeriksaan darah menunjukkan anak tersebut positif terinfeksi HIV. Keterbatasan informasi pada saat itu membuat Budi dan keluarganya yang lain patah semangat dan menganggap diagnosis itu sebagai vonis mati.

“Waktu itu, kami tahunya HIV nggak bisa diobati. Malah kata orang-orang, kalau dibawa ke Rumah Sakit (menyebut nama rumah sakit besar) paling-paling cuma disuntik mati. Dan yang paling menyakitkan, susternya bilang ke Budi agar sebaiknya pulang saja biar tidak menulari pasien lain,” kata Novi saat ditemui detikHealth di rumahnya, Selasa malam (5/6/2012).

Tak tahan dengan perilaku suster yang diskriminatif, akhirnya Budi ngotot ingin pulang dan dirawat di rumah. Dalam kondisi sakit parah dan badannya sudah kurus kering, Budi hanya bertahan 2 hari sebelum akhirnya meninggal di usia 21 tahun karena komplikasi di ginjal.

Beberapa tahun kemudian, anak keenam Yatimah, sebut saja Juni kembali terjerumus dalam penyalahgunaan Napza dan akhirnya juga meninggal akibat infeksi HIV sekaligus TB (Tuberculosis). Juni meninggal karena penyakitnya tersebut pada sekitar tahun 2001 di usia 26 tahun.

Saat Juni jatuh sakit, sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang dikelola Ibu Melani dan dr Aisyah Dahlan sudah mulai masuk ke Cikini yang saat itu dikenal sebagai salah satu pusat peredaran Napza. LSM itu telah berhasil mengubah pandangan Novi dan Yatimah tentang ketergantungan Napza.

“Tadinya saya galak banget sama adik-adik, apalagi kalau ketahuan jadi pecandu. Tapi belakangan saya jadi tahu, bahwa orang kecanduan itu sebenarnya ingin berhenti tetapi rasanya sakit. Sejak itu saya ubah pendekatannya, jadi tidak terlalu galak,” tutur Novi.

Namun cobaan masih datang bertubi-tubi di keluarga ini. Mawan yang sudah bebas dari hukumannya sebagai kurir Napza, malah mengikuti jejak 2 adiknya yang lebih dulu pergi menghadap Yang Maha Kuasa. Saat dibui di Rutan Salemba, Mawan justru makin dekat dengan Napza dan akhirnya kecanduan juga.

Mawan akhirnya dikirim ke panti rehabilitasi dengan dibantu oleh BNN (Badan Narkotika Nasional). Namun belum tuntas prosesnya, Mawan pilih kembali ke rumah dan seperti yang dikawatirkan sebelumnya, Mawan bergaul lagi dengan lingkungan lamanya dan akhirnya lagi-lagi tertangkap polisi.

Nasib Mawan cukup mujur karena kali ini ia tidak harus dibui di Salemba seperti sebelumnya. Ia dikirim ke Ambarawa, yang dikatakan oleh Novi lebih bersih dari perdagangan Napza. Di tempat itulah, Mawan benar-benar punya waktu untuk membebaskan diri dari ketergantungannya.

Selepas dari tahanan di Ambarawa, Mawan sempat menyatakan kebulatan tekad untuk benar-benar STOP mengonsumsi Napza. Niat tersebut sangat disyukuri oleh keluarga, sebab Mawan masih sempat sadar di saat-saat terakhirnya meski kemudian sama-sama didiagnosis HIV positif dan akhirnya meninggal di usia 31-an tahun.

Novi sebagai anak tertua dari 10 bersaudara sangat terpukul atas kepergian ketiga adik tercintanya. Namun perempuan berjilbab ini berharap kenangan pahit tersebut bisa menjadi pelajaran berharga bagi kedua anak laki-lakinya yang kini berusia 15 tahun dan 10 tahun agar selalu menjauhi Napza.

Sumber: Detikhealth

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 15,884 other followers